Megawati Kupas Semangat Bandung Hadapi Krisis Geopolitik Kekinian
JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menggelar kuliah umum di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang menyoroti urgensi gerakan negara-negara Asia Afrika di tengah...
JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menggelar kuliah umum di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang menyoroti urgensi gerakan negara-negara Asia Afrika di tengah memanasnya persaingan global. Bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini”, acara tersebut dihadiri ratusan kader dari berbagai penjuru tanah air.
Warisan Konferensi Asia Afrika
Megawati mengajak peserta merenungkan kembali prinsip-prinsip Dasasila Bandung yang disepakati pada 1955. Ia menilai, semangat solidaritas antar bangsa yang melahirkan Gerakan Non-Blok justru kian menemukan konteksnya hari ini. “Fragmentasi dunia akibat persaingan adidaya membuat negara-negara berkembang kembali terjepit. Spirit Bandung adalah jawaban agar kita tidak menjadi tumbal,” tegasnya di hadapan peserta.
Presiden ke-5 RI itu mencontohkan ketegangan di Laut China Selatan dan perang dagang yang memaksa banyak negara kecil memilih kubu. Di situlah, kata Megawati, Indonesia harus konsisten memainkan peran sebagai penyeimbang. “Bung Karno mengajarkan bahwa di atas kepentingan blok, ada kepentingan kemanusiaan dan perdamaian abadi. Itu yang harus terus kita suarakan,” paparnya.
Kolonialisme Baru dan Kemandirian Digital
Tidak hanya isu militer dan ekonomi, Megawati menyasar bentuk baru penjajahan di era digital. Ia menyebut dominasi raksasa teknologi global yang menguras data tanpa memberikan nilai tambah bagi negara pengguna sebagai ancaman kedaulatan. “Kolonialisme data ini tak kalah berbahaya. Jika dulu bangsa Asia Afrika dijajah tanahnya, sekarang kepribadian dan informasi kita yang dicaplok secara digital,” ujarnya.
Merespons hal itu, Megawati mendorong penguatan kerja sama antarnegara Asia Afrika di bidang infrastruktur digital, kecerdasan buatan, dan keamanan siber. Menurutnya, transfer teknologi harus menjadi syarat mutlak dalam setiap kemitraan pembangunan. “Kita harus mandiri. Tidak boleh hanya jadi pasar bagi produk asing tanpa menguasai teknologinya,” tambahnya.
Pernyataan Megawati disambut tepuk tangan para kader yang sudah mengikuti sesi sejak pagi. Hadir mendampingi Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Puan Maharani. Keduanya tampak serius mencatat poin-poin penting yang disampaikan.
Megawati menutup kuliah dengan menyerukan agar partai berlambang banteng itu menjadi sekolah geopolitik bagi semua kadernya. “Hanya dengan memahami peta dunia, kita bisa menjaga kedaulatan Indonesia. Perjuangan belum selesai,” pungkasnya. Para peserta pun terlihat antusias mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi yang berlangsung hidup, menandakan bahwa api semangat kebangsaan dan solidaritas global masih menyala terang di markas partai tersebut.
Comments (0)