MEDAN — CFD Perdana di Belawan Disambut Meriah, Ribuan Warga Padati Jalan Sumatera
Suasana berbeda terlihat di kawasan Jalan Sumatera, Medan Belawan, pada Minggu (2/8/2026) pagi. Ribuan warga dari berbagai kalangan tampak tumpah ruah meng
Suasana berbeda terlihat di kawasan Jalan Sumatera, Medan Belawan, pada Minggu (2/8/2026) pagi. Ribuan warga dari berbagai kalangan tampak tumpah ruah mengikuti kegiatan Car Free Day (CFD) yang untuk pertama kalinya digelar di kawasan pesisir utara Kota Medan. Jalan yang biasanya dipadati kendaraan bermotor itu berubah menjadi ruang publik yang semarak, dipenuhi warga yang berolahraga, bersepeda, hingga sekadar menikmati udara pagi.
Kegiatan CFD perdana ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat setempat. Selain menjadi sarana berolahraga dan rekreasi, kehadiran CFD ini juga menghadirkan nuansa kebersamaan yang semakin mempererat hubungan antarwarga di kawasan Medan Belawan. Inisiatif ini digagas oleh Kodaeral I Belawan bersama Pemerintah Kota (Pemko) Medan, dan mendapat dukungan penuh dari Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi NasDem, Saipul Bahri.
Saipul Bahri menilai hadirnya CFD di Medan Belawan merupakan langkah positif dalam menghadirkan ruang publik yang sehat, terbuka, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak semata-mata menjadi ajang olahraga, tetapi juga menjadi sarana rekreasi sekaligus membangun interaksi sosial yang lebih kuat di tengah masyarakat.
"Selain menjadi sarana olahraga dan rekreasi bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mendorong penerapan pola hidup sehat sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat," ujar Saipul kepada wartawan di sela-sela kegiatan.
Dia berharap kegiatan CFD di Medan Belawan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan dikembangkan menjadi agenda positif yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Menurut Saipul, kawasan pesisir Kota Medan juga membutuhkan ruang-ruang publik yang dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk beraktivitas secara sehat, nyaman, dan produktif.
"Harapan kita, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada pelaksanaan perdana saja, tetapi dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Medan Belawan," katanya.
Lebih lanjut, Saipul menyoroti bahwa CFD juga dapat membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan dan kebersamaan, tetapi juga dapat mendorong perekonomian lokal di kawasan Medan Utara.
Analisis: Dampak Positif CFD bagi Kawasan Pesisir dan Ekonomi Lokal
Peluncuran CFD di Medan Belawan merupakan sebuah terobosan penting dalam upaya menghadirkan ruang publik yang inklusif di Kota Medan. Selama ini, kegiatan serupa lebih sering identik dengan kawasan pusat kota seperti Lapangan Merdeka atau Jalan Diponegoro. Kehadiran CFD di kawasan pesisir utara ini menjadi sinyal bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan mulai memperhatikan pemerataan pembangunan fasilitas publik di wilayah pinggiran.
Dari perspektif tata kota, kehadiran CFD di Belawan memiliki beberapa dampak strategis:
| Aspek | Dampak Positif | Catatan |
|---|---|---|
| Kesehatan Masyarakat | Mendorong gaya hidup aktif dan sehat | Menurunkan risiko penyakit degeneratif |
| Interaksi Sosial | Memperkuat kohesi sosial antarwarga | Menjadi ruang netral tanpa sekat sosial |
| Ekonomi UMKM | Membuka pasar baru bagi pelaku usaha lokal | Perlu pengelolaan tenant yang tertib |
| Kualitas Udara | Mengurangi emisi kendaraan di hari Minggu | Dampak jangka pendek di area tertentu |
| Pariwisata | Menambah daya tarik wisata kawasan pesisir | Potensi menarik wisatawan domestik |
Menarik untuk dicermati bahwa inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara unsur masyarakat (Kodaeral I Belawan), pemerintah kota, dan keterlibatan langsung seorang anggota legislatif. Pola kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan ruang publik yang berkelanjutan membutuhkan peran aktif dari berbagai pemangku kepentingan, bukan hanya mengandalkan anggaran pemerintah semata.
Namun demikian, keberlanjutan program ini menjadi tantangan tersendiri. Pengalaman di berbagai kota menunjukkan bahwa banyak kegiatan CFD yang awalnya ramai justru meredup seiring waktu karena pengelolaan yang tidak konsisten. Oleh karena itu, perlu ada regulasi yang jelas mengenai waktu pelaksanaan, pengaturan pedagang, rute alternatif bagi pengendara, serta penanganan kebersihan dan keamanan.
Dukungan politis dari Saipul Bahri juga menjadi modal penting. Sebagai anggota DPRD, ia dapat memperjuangkan alokasi anggaran atau kebijakan yang mendukung keberlanjutan CFD di Belawan. Hal ini sejalan dengan pernyataannya yang menekankan pentingnya kawasan pesisir memiliki ruang publik yang sehat dan produktif.
Ke depan, jika pengelolaan CFD Belawan dilakukan dengan baik, bukan tidak mungkin kawasan ini menjadi ikon baru aktivitas akhir pekan di Kota Medan, sekaligus menjadi etalase potensi wisata dan ekonomi kawasan pesisir utara Sumatera.
Comments (0)