Maling Ayam Tewas Dimassa, Keluarga Miskin Dapat Bantuan Darurat
BREAKING — Maling ayam berinisial KD (35) tewas dikeroyok massa di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (24/7) dini hari. Korban meninggalkan istri dan tiga anak yang kin...
BREAKING — Maling ayam berinisial KD (35) tewas dikeroyok massa di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (24/7) dini hari. Korban meninggalkan istri dan tiga anak yang kini dalam kondisi terpuruk setelah kehilangan tulang punggung keluarga yang termasuk masyarakat miskin. Insiden pilu ini menyita perhatian publik karena nyawa melayang hanya karena dugaan pencurian unggas.
Tragedi ini terjadi di lokasi yang berjarak sekitar tiga jam berkendara dari kampung halaman korban di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. KD diduga mencuri ayam milik warga sebelum dihakimi oleh massa hingga meninggal di tempat. Warga setempat langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang, namun nyawa korban tak terselamatkan.
Kondisi Keluarga Korban
Keluarga korban terdiri dari istri, Putu Dewi Suryantini (35), dan tiga anak. Dua anak masih duduk di bangku kelas 1 SMA, sementara si bungsu baru kelas 1 SD. Putu Dewi selama ini hanya bekerja serabutan sebagai pembuat anyaman tradisional di Desa Sidatapa, sehingga kepergian KD mengancam kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Kedua anak yang bersekolah di tingkat menengah kini terancam putus sekolah jika tak ada uluran tangan.
Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengaku sangat sedih saat menjemput jenazah KD. "Anaknya menangis tersedu-sedu. Keluarga ini benar-benar mengandalkan KD untuk hidup. Mereka miskin dan kini kehilangan segalanya," ucapnya, Senin (27/7). Sutama menuturkan bahwa Putu Dewi pasrah dan mengikhlaskan kepergian suaminya, namun jelas gelisah memikirkan masa depan anak-anak.
Kecaman atas Aksi Main Hakim Sendiri
Sutama mengecam aksi main hakim sendiri yang dilakukan massa di Batunya. Ia menilai, pencurian ayam seharusnya tak berujung pada hilangnya nyawa seseorang. "Ini jadi pelajaran pahit. Kalau sudah main hakim sendiri, nyawa melayang sia-sia. Harusnya serahkan ke polisi," tegasnya. Sutama berharap tak ada lagi korban yang meninggal karena tindakan serupa, apalagi hanya dipicu perkara sepele.
Uluran Tangan Pemerintah
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, langsung turun tangan. Pihaknya menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan bansos lainnya kepada keluarga KD. Kunjungan ke rumah duka itu juga dijadikan momentum untuk menawarkan program perlindungan jangka panjang. "Kami sudah bertemu keluarga, memberikan informasi dan dorongan agar anaknya yang SMK bisa tetap bersekolah. Kami juga akan memasukkan keluarga ini dalam program perlindungan sosial jangka panjang," ujar Kariaman.
Dinsos PPPA akan terus memantau perkembangan keluarga tersebut, terutama masalah pendidikan anak-anaknya. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Putu Dewi yang saat ini bekerja tanpa penghasilan tetap diharapkan bisa mendapatkan pelatihan keterampilan guna menopang ekonomi keluarga.
Insiden ini mengundang keprihatinan luas. Masyarakat kembali diingatkan bahwa tindakan main hakim sendiri adalah pelanggaran hukum yang justru menambah korban, terutama dari keluarga rentan seperti yang dialami KD. Pihak kepolisian setempat diharapkan segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan ini agar memberikan keadilan bagi keluarga korban, sekaligus mencegah terulangnya peristiwa serupa di kemudian hari.
Comments (0)