MAKASSAR — Monginsidi Dieksekusi Mati, Pidato Terakhir Guncang Pengadilan Belanda
MAKASSAR, Beritatercepat — Detik-detik menjelang kematiannya justru menjadi panggung terhebat seorang pemuda revolusioner. Robert Wolter Monginsidi, pejuan
MAKASSAR, Beritatercepat — Detik-detik menjelang kematiannya justru menjadi panggung terhebat seorang pemuda revolusioner. Robert Wolter Monginsidi, pejuang kemerdekaan berusia 24 tahun, menolak tunduk pada maut. Di hadapan Raad van Justitie, pengadilan tinggi Kolonial Hindia Belanda, ia menyalakkan ultimatum yang menggetarkan ruang sidang: "Tuan-tuan tolong tulis dalam sejarah, bahwa saya tidak sudi menerima pengampunan dari siapa pun yang tidak saya akui kekuasaannya!"
Nusantara Centre, dalam program "Merayakan Indonesia" edisi Juni-Juli 2026, mengangkat Bote—sapaan akrabnya—sebagai tokoh kesepuluh dari tujuh belas jenius pikiran pendiri republik. Sorot matanya yang tajam, serta keberaniannya menghadapi regu tembak pada 5 September 1949, menjadi warisan abadi bagi generasi muda.
Kronologi: Dari Penangkapan Hingga Tiang Eksekusi
- Penangkapan Ketiga oleh Belanda — Bote, yang sudah dua kali lolos dari penjara Belanda, akhirnya kembali ditangkap di tengah gelora revolusi Sulawesi. Kali ini, rezim kolonial tak mau ambil risiko.
- Vonis Mati Dijatuhkan — Raad van Justitie menjatuhkan hukuman mati. Tuduhan: memimpin perlawanan bersenjata dan menolak mengakui kedaulatan Kerajaan Belanda atas Hindia.
- Penolakan Pengampunan — Di tengah upaya grasi yang bisa menyelamatkan nyawanya, Bote justru menolak mentah-mentah. Baginya, meminta ampun pada penjajah adalah pengkhianatan terhadap republik yang dicintainya.
- Malam 4 September 1949 — Menjelang eksekusi, Bote menulis surat wasiat kepada orang tua dan keluarganya. Isinya bukan ratapan, melainkan nyala semangat yang puitik dan trengginas.
- 5 September 1949, Pukul 05.00 WITA — Regu tembak Belanda mengeksekusi Robert Wolter Monginsidi. Ia gugur sebagai martir muda revolusi Indonesia.
Surat Terakhir: "Saya Mengerti, Kemerdekaan Harus Ditebus"
Dalam suratnya, Bote menulis kalimat yang kini menjadi monumen semangat: "Saya mengerti, kemerdekaan harus ditebus dengan darah!" Lalu ia menitipkan pesan kepada rakyat Indonesia:
- Jaga keutuhan bangsa — Jangan biarkan perpecahan menghancurkan republik yang dibangun dengan darah dan air mata.
- Pertahankan Proklamasi — 17 Agustus 1945 adalah titik sakral yang tak boleh dinegosiasikan.
- Hidupkan api pemuda — Bote adalah simbol bahwa kaum muda adalah mesin sejarah republik, seperti yang dikatakan sejarawan Ben Anderson: "Revolusi Pemuda."
Warisan Sorot Mata Tajam
Bote bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah bukti bahwa keberanian tak mengenal usia. Di usianya yang ke-24, ia memimpin pergerakan di Sulawesi, menginspirasi ribuan pemuda, dan menolak mati dalam diam. Nusantara Centre mencatat bahwa Bote adalah perwujudan "kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara" yang harus diteladani generasi penerus.
Sorot matanya yang tajam, yang terpancar dari foto hitam-putih yang kini tersebar luas, bukan sekadar kenangan visual. Itu adalah cermin jiwa seorang pemuda yang memilih tiang eksekusi daripada hidup dalam belenggu penjajahan. Merdeka atau mati—Bote memilih keduanya: mati untuk memerdekakan.
Comments (0)