Mahasiswi Solo Korban Deepfake AI, 7 Korban Lain Teridentifikasi
SOLO, DETIK INI JUGA — Kasus pelecehan digital berbasis kecerdasan buatan kembali mengguncang dunia pendidikan. Seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Surakarta berinisial E menjadi sasaran ma...
SOLO, DETIK INI JUGA — Kasus pelecehan digital berbasis kecerdasan buatan kembali mengguncang dunia pendidikan. Seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Surakarta berinisial E menjadi sasaran manipulasi foto vulgar yang disebar luas melalui media sosial dan Telegram. Wajah korban ditempelkan ke tubuh perempuan lain yang telanjang menggunakan teknologi deepfake.
Kronologi Ancaman Maut via DM
Berawal dari sebuah pesan langsung di Instagram pada 1 Januari 2026. Akun Kelas Dunia Digital melontarkan rayuan yang diabaikan korban. Merasa ditolak, akun itu mengancam akan meledakkan "bom waktu" pertama jika korban tak membalas. Ancaman ini membuat korban cemas, namun ia tetap berdiam diri. Beberapa hari kemudian, akun kedua muncul dan langsung menyebarkan foto-foto rekayasa. Puncaknya pada 5 Februari, akun ketiga memberitahu bahwa foto vulgar wajah korban sudah beredar luas di Telegram, disertai file mentah manipulasi.
Polisi Buru Intelektual di Balik Akun Telegram
Kuasa hukum korban, Zaenal Petir, mengonfirmasi laporan telah diterima Direktorat Siber Polda Jawa Tengah. Tim penyidik kini melakukan profiling digital dan mendalami siapa pengelola akun Telegram yang diduga menjadi pusat komando. "Mereka sudah profiling, tinggal periksa saksi," ujar Zaenal. Dari hasil penelusuran sementara, puluhan konten serupa dengan korban berbeda ditemukan di media sosial dan platform pesan instan. Penyidik juga tengah memeriksa metadata dan jejak IP untuk melacak lokasi pelaku.
Dampak Psikologis Menghancurkan
Korban yang tidak pernah memproduksi konten negatif tersebut kini harus berjuang melawan trauma mendalam. Sempat stres berat selama satu pekan penuh, ia masih menjalani konseling rutin untuk memulihkan kondisi mental. Tekanan sosial akibat beredarnya foto di dunia maya memperparah penderitaan. "Semua hasil editan AI. Meski begitu, dampaknya sangat menghancurkan," tegas kuasa hukum, menekankan bahwa citra korban rusak meski ia tak bersalah.
Jaringan Korban Lebih Luas
Kasus ini tidak berhenti pada satu nama. Fakta mengejutkan terungkap: sebanyak tujuh perempuan lain menjadi korban modus serupa. Seluruhnya adalah mahasiswi di kampus-kampus Semarang dan Solo. Lebih mencengangkan, para korban saling mengenal karena pernah bersekolah di SMA 1 Cepu, Kabupaten Blora. Temuan ini menjadi petunjuk vital bahwa pelaku kemungkinan memiliki kedekatan dengan lingkungan korban.
Penyidik Dalami Jejak Digital
Tim siber kini fokus membongkar identitas di balik akun-akun anonim yang menyebarkan konten. Dengan memeriksa metadata dan pola komunikasi, polisi optimistis dapat segera mengidentifikasi tersangka. Sementara itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penyalahgunaan AI untuk kejahatan seksual daring. Perlindungan data pribadi dan kehati-hatian di media sosial menjadi benteng utama.
Comments (0)