SURABAYA, Beritatercepat.com — Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan baru di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya memuncak pada aksi massa yang melibatkan ratusan mahasiswa. Demonstrasi yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut diwarnai ketegangan saat massa membakar sejumlah karangan bunga ucapan selamat atas penetapan kembali Prof. Akh Muzakki sebagai Rektor UINSA periode 2024–2028.
Aksi unjuk rasa ini menjadi puncak dari akumulasi kekecewaan mahasiswa terkait proses pemilihan rektor yang dinilai sarat polemik dan minim transparansi. Mahasiswa menuntut Kementerian Agama (Kemenag) RI serta senat akademik untuk mengkaji ulang penetapan jabatan tertinggi kampus Islam negeri tertua di Jawa Timur tersebut.
Kronologi Aksi Massa di Kampus UINSA
Sejak pagi hari, ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas mulai berkumpul di depan gedung Rektorat UINSA. Aksi diawali dengan orasi bergantian, pembacaan tuntutan, hingga teatrikal simbolik yang menggambarkan matinya ruang demokrasi kampus. Berikut adalah runtutan peristiwa utama dalam aksi demonstrasi:
- Pukul 09.00 WIB: Massa aksi berkumpul di titik temu utama kampus dan memulai konvoi damai menyuarakan tuntutan transparansi seleksi rektor.
- Pukul 10.30 WIB: Mahasiswa merapatkan barisan di depan Gedung Rektorat UINSA, menuntut kehadiran pimpinan kampus untuk berdialog secara terbuka.
- Pukul 11.45 WIB: Ketegangan meningkat akibat tidak adanya perwakilan pimpinan yang menemui massa, memicu aksi pengumpulan puluhan karangan bunga ucapan selamat.
- Pukul 12.15 WIB: Pembakaran karangan bunga ucapan selamat dilakukan serentak di pelataran rektorat sebagai bentuk mosi tidak percaya civitas akademika.
- Pukul 13.30 WIB: Massa aksi membacakan manifesto tuntutan hukum dan membubarkan diri secara tertib setelah memasang spanduk penolakan di area gerbang kampus.
"Aksi ini adalah bentuk keresahan mendalam mahasiswa. Kami melihat ada indikasi pelanggaran prosedur dan minimnya pelibatan aspirasi warga kampus dalam suksesi kepemimpinan. Pembakaran karangan bunga merupakan simbol penolakan atas seremoni yang mengabaikan legitimasi moral," ujar salah satu koordinator aksi di lapangan.
Sorotan Prosedural dan Tuntutan Hukum
Dalam pernyataan sikap resminya, aliansi mahasiswa UINSA menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi dasar penolakan kepemimpinan Akh Muzakki. Mereka mendesak agar keputusan Kemenag diuji secara administratif dan hukum guna menjamin integritas tata kelola perguruan tinggi.
- Gugatan Legalitas: Mahasiswa mendesak peninjauan kembali Surat Keputusan (SK) pelantikan rektor yang dinilai cacat prosedur formil.
- Transparansi Penjaringan: Mendesak pembukaan seluruh rekam jejak penilaian komite seleksi kepada publik dan civitas akademika.
- Kebebasan Akademik: Menolak segala bentuk pembungkaman kritik dan intervensi birokrasi terhadap lembaga kemahasiswaan.
- Audit Tata Kelola: Menuntut audit independen terkait pengelolaan anggaran dan kebijakan strategis kampus pada periode sebelumnya.
Hingga aksi berakhir, pihak rektorat UINSA belum memberikan keterangan resmi secara langsung di hadapan massa demonstran. Aparat keamanan kampus bersama kepolisian setempat terus berjaga guna memastikan situasi di lingkungan kampus tetap kondusif pasca-aksi.
Comments (0)