Sep 19, 2026
Hukum

LONDON — Polisi Bantah Tuduhan Homofobia Terkait Kasus Pembunuh Berantai Grindr

Kepolisian Metropolitan London (Met Police) secara tegas membantah tudingan bahwa "homofobia institusional" menjadi faktor utama yang menghambat proses pen

LONDON — Polisi Bantah Tuduhan Homofobia Terkait Kasus Pembunuh Berantai Grindr

Kepolisian Metropolitan London (Met Police) secara tegas membantah tudingan bahwa "homofobia institusional" menjadi faktor utama yang menghambat proses penyelidikan kasus pembunuhan berantai berantai yang menyasar komunitas gay. Pihak kepolisian beralasan bahwa minimnya pengalaman personel terhadap dinamika kehidupan komunitas gay pada saat itu menjadi penyebab utama pelaku leluasa melancarkan aksinya selama lebih dari satu tahun.

Kasus ini berpusat pada aksi keji Stephen Port, pria yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2016 setelah terbukti membunuh 4 pria muda yang ia temui melalui aplikasi kencan Grindr. Selain membunuh empat korban, Port juga membius dan memerkosa setidaknya 8 korban lainnya yang beruntung berhasil selamat dari cengkeramannya.

Kronologi Kegagalan Penyelidikan Polisi (2014–2015)

Ketidakmampuan aparat penegak hukum dalam menghubungkan pola kematian para korban memicu gelombang kritik tajam dari keluarga korban dan kelompok pembela hak asasi manusia. Berikut rangkaian peristiwa yang memperlihatkan kelalaian penanganan perkara:

  1. Juli 2014: Stephen Port membunuh korban pertamanya, Anthony Walgate. Port sempat menelepon ambulans dan berpura-pura menemukan jasad Walgate di luar apartemennya di Barking, London timur.
  2. Agustus 2014 – September 2015: Tiga korban berikutnya—Gabriel Kovari, Daniel Whitworth, dan Jack Taylor—ditemukan tewas di lokasi yang hampir identik, yakni halaman gereja dekat flat milik Port.
  3. Pengabaian Peringatan Internal: Meskipun ada kesamaan lokasi, pola racun obat GHB, dan profil korban, penyidik awalnya menyatakan kematian tersebut bukan tindak pidana mencurigakan dan mengabaikan peringatan dari kelompok penasihat LGBT kepolisian sendiri.
"Kami tidak bertindak lambat karena prasangka atau diskriminasi terhadap orientasi seksual korban, melainkan murni karena kurangnya pemahaman dan pengalaman petugas terkait pola interaksi komunitas terkait pada masa itu," dalih perwakilan aparat dalam sidang pemeriksaan perkara.

Analisis Kasus dan Rincian Korban

Banyak pihak menilai dalih "kurang pengalaman" merupakan bentuk pengalihan dari kelalaian prosedural mendasar. Kegagalan melakukan tes toksikologi menyeluruh, pemeriksaan rekaman CCTV, hingga pemeriksaan riwayat digital telepon genggam korban membuat Port bebas bergerak mencari mangsa baru selama 15 bulan.

Kategori Data Rincian Temuan
Rentang Waktu Aksi Juli 2014 – September 2015
Jumlah Korban Tewas 4 orang (Anthony Walgate, Gabriel Kovari, Daniel Whitworth, Jack Taylor)
Jumlah Korban Selamat 8 orang (mengalami pembiusan dan kekerasan seksual)
Zat Mematikan yang Digunakan Overdosis Gamma-Hydroxybutyrate (GHB)
Vonis Pelaku Penjara seumur hidup tanpa peluang bebas (2016)

Keluarga para korban menyatakan kekecewaan mendalam atas bantahan kepolisian. Mereka meyakini bahwa jika polisi menanggapi laporan kematian korban pertama secara serius tanpa bias prasangka, tiga nyawa lainnya dapat diselamatkan. Desakan reformasi di tubuh kepolisian London kini kembali menguat guna memastikan penegakan hukum berjalan setara tanpa diskriminasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User