Sep 19, 2026
Hukum

LONDON — Dosen UCL Wajib Pangkas Materi Kuliah Demi Promosi Jabatan

Dunia akademis di Inggris kembali diguncang perdebatan sengit mengenai batas antara inklusivitas dan kebebasan akademik. Para tenaga pengajar di University

LONDON — Dosen UCL Wajib Pangkas Materi Kuliah Demi Promosi Jabatan

Dunia akademis di Inggris kembali diguncang perdebatan sengit mengenai batas antara inklusivitas dan kebebasan akademik. Para tenaga pengajar di University College London (UCL) dilaporkan harus membatasi materi pengajaran yang bersumber dari figur tradisional Eropa atau yang kerap diistilahkan sebagai "dead white men" jika ingin meraih promosi jabatan akademik.

Kebijakan ini merupakan bagian dari skema bertajuk Liberating the Curriculum (LTC), sebuah inisiatif resmi yang dirancang pihak universitas untuk membebaskan kurikulum dari dominasi pandangan antroposentris Barat atau Eurocentric yang dinilai terlampau didominasi figur pria kulit putih masa lampau.

Syarat Wajib dalam Jenjang Karier Dosen

Berdasarkan laporan dokumen panduan internal bertajuk UCL Academic Careers Framework, keterlibatan aktif dalam inisiatif dekolonisasi kurikulum kini menjadi indikator mutlak bagi para akademisi yang mengajukan diri untuk posisi lektor maupun jenjang profesor.

Para kandidat promosi diwajibkan untuk menunjukkan bukti nyata integrasi materi baru yang lebih beragam atau melakukan perombakan substansial pada modul-modul kuliah lawas mereka. Dampak pembaruan ini juga harus dibuktikan melalui evaluasi umpan balik dari para mahasiswa.

Komponen Evaluasi Ketentuan Kebijakan Baru (LTC)
Fokus Materi Mengurangi dominasi materi Eurosentris dan memperluas perspektif marjinal.
Kriteria Promosi Wajib menunjukkan bukti pembaruan modul ajar yang inklusif.
Evaluasi Dampak Berdasarkan umpan balik mahasiswa serta revisi silabus mata kuliah.

Tudingan Fanatisme dan Erosi Standar Akademik

Penerapan aturan ketat ini menuai respons kontroversial dari kalangan internal pengajar. Seorang profesor senior di UCL yang enggan disebutkan namanya mengkritik implementasi agenda tersebut dan menyamakannya dengan bentuk fanatisme baru di lingkungan pendidikan tinggi.

"Dorongan terhadap agenda semacam ini sudah menyerupai fanatisme keagamaan yang kaku, di mana kepatuhan ideologis dinilai lebih tinggi daripada integritas keilmuan," ungkap akademisi tersebut.

Kritikus menilai bahwa memaksakan kuota demografis terhadap literatur klasik dalam disiplin ilmu tertentu justru berisiko menurunkan standar ilmiah dan mengekang independensi riset para ilmuwan.

Mendorong Inklusivitas vs Kebebasan Berpikir

Di sisi lain, pihak manajemen UCL mempertahankan kebijakan tersebut sebagai langkah progresif untuk menciptakan lingkungan belajar yang setara dan mencerminkan kemajemukan global. Inisiatif LTC ditujukan untuk memberi ruang yang adil bagi karya-karya pemikir dari kelompok minoritas, mencakup kajian ras, gender, seksualitas, hingga disabilitas.

Universitas berargumen bahwa kurikulum modern harus mampu menjawab tantangan zaman dan membongkar bias historis yang selama berabad-abad mengabaikan kontribusi kelompok non-Barat. Meski demikian, polemik ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang kian lebar antara dorongan agenda progresivisme modern dan prinsip kebebasan akademik murni di universitas-universitas terkemuka dunia.

Dosen di University College London (UCL) kini diwajibkan memangkas materi pengajaran klasik berhaluan Eurosentris demi mendapatkan promosi jabatan. 📌 Poin Penting: • Dosen wajib buktikan silabus inklusif dan merangkul perspektif marjinal. • Muncul kritik internal yang menyebut aturan ini mirip fanatisme keagamaan. • Pihak kampus menegaskan langkah ini perlu demi modernisasi kurikulum.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User