Listrik Gratis untuk Pelanggan 450 VA Diperpanjang Hingga Desember
JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memperpanjang program listrik gratis bagi pelanggan rumah t
JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memperpanjang program listrik gratis bagi pelanggan rumah tangga daya 450 VA dan diskon 50 persen untuk pelanggan 900 VA bersubsidi hingga 31 Desember 2025. Kebijakan yang lahir di masa genting pandemi COVID-19 ini terbukti menjadi salah satu jaring pengaman sosial yang paling dirasakan langsung oleh lapisan masyarakat ekonomi bawah di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian ekonomi global.
Keputusan perpanjangan itu tertuang dalam instruksi terbaru Kementerian ESDM kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pekan ini, setelah evaluasi menunjukkan bahwa lebih dari 32 juta pelanggan kedua golongan tersebut masih sangat rentan terhadap guncangan harga. Data Badan Pusat Statistik per Juli 2025 mencatat inflasi bahan pangan masih bertengger di angka 5,7 persen secara tahunan, sehingga subsidi energi menjadi penyangga utama daya beli.
Kronologi Kebijakan: Dari Stimulus Pandemi ke Perlindungan Berkelanjutan
Program listrik gratis pertama kali diluncurkan pada April 2020 sebagai respons darurat atas meluasnya dampak ekonomi pandemi virus corona. Kala itu, pemerintah menggratiskan biaya listrik selama tiga bulan bagi 24 juta pelanggan 450 VA dan memberikan potongan 50 persen bagi 7 juta pelanggan 900 VA bersubsidi. Seiring normalisasi aktivitas, kebijakan itu sempat dihentikan pada 2022, namun kondisi pemulihan ekonomi yang tidak merata serta kenaikan harga energi global akibat perang di Ukraina memaksa pemerintah untuk kembali mengaktifkan stimulus serupa dalam skema yang lebih terukur pada 2024.
Menteri ESDM dalam keterangan persnya menegaskan bahwa perpanjangan kali ini bersifat transisional, sembari menyiapkan mekanisme bantuan yang lebih tepat sasaran melalui pendataan berbasis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
‘Kami tidak ingin masyarakat yang benar-benar membutuhkan tiba-tiba kehilangan akses listrik hanya karena tak mampu membayar. Sambil berjalan, kami bersama PLN dan Kemensos sedang menyempurnakan sistem subsidi yang lebih akurat agar pada 2026 tak ada lagi kesalahan sasaran,’ ujar Menteri ESDM.
Bagaimana Warga Merasakan Manfaatnya?
Di kawasan padat penduduk Matraman, Jakarta Timur, Nurhayati (57), seorang penjual gorengan, mengaku bahwa program listrik gratis adalah penolong sejati. Sejak program ini berjalan kembali awal tahun lalu, ia bisa menghemat sekitar Rp85.000 per bulan dari biaya listrik. ‘Uang itu biasanya saya pakai untuk beli minyak goreng dan tepung. Sekarang lumayan, bisa nambah modal jualan,’ katanya sambil memeriksa meteran listrik di depan rumah kontrakannya yang berukuran 3x4 meter.
Nurhayati bukan satu-satunya. Survei lapangan yang dilakukan tim Beritatercepat di tiga kelurahan di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang menunjukkan bahwa 86 persen responden dari kelompok penerima manfaat merasa kebijakan ini sangat membantu menjaga kestabilan anggaran rumah tangga mereka. Bahkan, sejumlah keluarga menyatakan dapat menyisihkan dana untuk kebutuhan pendidikan anak dari penghematan tagihan listrik.
Tantangan Akurasi Data dan Beban APBN
Di balik manfaatnya, program ini menuai sorotan terkait akurasi sasaran. Koordinator Tim Reformasi Subsidi dari Institute for Energy and Financial Studies (IEFS), Damar Wibisono, mengingatkan bahwa masih ditemukan sekitar 12 persen pelanggan 450 VA dan 900 VA yang sebenarnya tergolong mampu secara ekonomi, seperti rumah tangga dengan pengeluaran di atas Rp7 juta per bulan. Temuan tersebut terungkap dari hasil verifikasi lapangan yang dilakukan IEFS bersama PLN di 15 kota pada semester pertama 2025.
‘Pemerintah perlu lebih berani membersihkan data. Anggaran subsidi listrik tahun ini sudah mencapai Rp72 triliun, naik 9 persen dari tahun lalu. Jika kebocoran 12 persen itu bisa ditutup, negara bisa menghemat hampir Rp8,6 triliun yang bisa dialokasikan untuk program lain,’ jelas Damar.
Dari sisi teknis, PLN menyatakan kesiapannya untuk terus menyalurkan stimulus sesuai arahan, sambil mengakselerasi pemasangan meteran pintar (smart meter) yang memungkinkan pemantauan konsumsi secara real-time bagi golongan penerima subsidi. Hingga Juli 2025, PLN telah memasang 8,3 juta smart meter untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA, dari target 15 juta unit pada akhir tahun.
Menanti Subsidi yang Lebih Tepat Sasaran
Ke depan, transformasi subsidi listrik akan diarahkan dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi berbasis orang (targeted subsidy). Pemerintah berencana memanfaatkan teknologi biometrik dan data ponsel untuk memverifikasi penerima. Meski masih dalam tahap uji coba, skema ini diyakini mampu memangkas ketidaktepatan sasaran hingga di bawah 5 persen. Hingga transisi selesai, masyarakat miskin dapat bernapas lega karena listrik gratis masih menjadi penyangga kehidupan, menjaga agar sektor informal tetap berdenyut di tengah tekanan ekonomi.
[SOCIAL_TWEET]: Pemerintah resmi perpanjang listrik gratis untuk 32 juta pelanggan 450 VA & diskon 50% bagi 900 VA sampai Desember. Di tengah inflasi pangan, stimulus ini jadi napas warga kecil. Akurasi data masih jadi PR. #ListrikGratis #SubsidiTepat #EkonomiRakyat[SOCIAL_TG]: ⚡️ LISTRIK GRATIS DIPERPANJANG SAMPAI DESEMBER! Kabar baik! Pemerintah pastikan listrik gratis untuk pelanggan 450 VA dan diskon 50% untuk 900 VA tetap lanjut. 📊 32 juta pelanggan terbantu 🗓 Berlaku hingga 31 Desember 2025 🐀 Tantangan: 12% penerima diduga tak tepat sasaran Klik untuk baca selengkapnya
Comments (0)