Lestari Moerdijat Dorong Strategi Komprehensif Akselerasi Kompetensi Guru
JAKARTA, DETIK INI JUGA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyampaikan desakan mendesak: percepatan peningkatan kompetensi guru nasional harus ditempuh melalui strategi komprehensif yang beraka...
JAKARTA, DETIK INI JUGA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyampaikan desakan mendesak: percepatan peningkatan kompetensi guru nasional harus ditempuh melalui strategi komprehensif yang berakar pada data akurat. Peringatan ini ia tujukan khusus untuk memperkuat fondasi pendidikan inklusif di seluruh Indonesia.
"Kita tidak bisa lagi bergerak berdasarkan asumsi. Setiap kebijakan pelatihan guru wajib lahir dari pemetaan kebutuhan riil di lapangan," ujar Lestari dalam keterangannya yang diterima redaksi. Ia menyoroti bahwa tanpa basis data yang valid, program peningkatan kapasitas pengajar hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang gagal menjawab tantangan inklusivitas.
Darurat Data Guru Inklusif
Saat ini, ribuan guru di daerah terpencil masih kesulitan mengakses pelatihan yang sesuai dengan kondisi siswa berkebutuhan khusus. Minimnya pendataan menyebabkan distribusi program pengembangan kompetensi tidak tepat sasaran. Akibatnya, kelas-kelas inklusif kerap berjalan tanpa dukungan pedagogis yang memadai.
Lestari menekankan, pendidikan inklusif bukan sekadar menerima siswa difabel di kelas reguler, melainkan menyediakan lingkungan belajar yang benar-benar adaptif. "Guru harus dibekali kemampuan asesmen individual, modifikasi kurikulum, dan pemanfaatan teknologi bantu. Semua itu hanya bisa dirancang jika kita punya data yang jujur tentang kompetensi mereka saat ini," imbuhnya.
Peta Jalan Menuju Transformasi
Strategi komprehensif yang diusung mencakup tiga pilar utama. Pertama, audit kompetensi guru secara nasional menggunakan instrumen standar yang mengukur kesiapan mengajar di kelas inklusif. Kedua, pelatihan berbasis modul mikro yang dapat diakses secara daring maupun luring, disesuaikan dengan hasil audit. Ketiga, sistem insentif dan monitoring berkelanjutan untuk memastikan perubahan praktik di ruang kelas.
Lebih lanjut, ia mendorong kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) agar kurikulum calon guru sudah memuat kompetensi inklusif sejak dini. "Kita perlu memutus rantai ketidaksiapan dari hulu. Jangan sampai guru baru justru gagap saat menghadapi realitas keberagaman siswa," tegasnya.
Desakan Lestari Moerdijat ini muncul di tengah target pemerintah mentransformasi 60 persen sekolah reguler menjadi sekolah inklusif pada tahun 2027. Para pemangku kepentingan pun kini dihadapkan pada pilihan: melakukan pembenahan fundamental berbasis data atau terus menambal kebocoran dengan kebijakan reaktif. Kompetensi guru adalah kunci, dan kunci itu hanya bisa dibuka dengan strategi yang presisi.
Baca juga:
Comments (0)