Sep 17, 2026
Lampung

LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Pada Kamis Pagi

Dinding Selat Sunda kembali digetarkan oleh aktivitas vulkanik yang meningkat drastis. Gunung Anak Krakatau dilaporkan kembali mengalami erupsi susulan pad

LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Pada Kamis Pagi

Dinding Selat Sunda kembali digetarkan oleh aktivitas vulkanik yang meningkat drastis. Gunung Anak Krakatau dilaporkan kembali mengalami erupsi susulan pada Kamis pagi (10/9/2026), memuntahkan kolom abu tebal yang melumbung tinggi ke udara. Peristiwa vulkanik yang terjadi di tengah perairan antara Pulau Jawa dan Sumatra ini memicu kewaspadaan penuh dari petugas pemantau gunung api dan Badan Geologi Kementerian ESDM.

Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan terjadi sekitar pukul 05.45 WIB. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam pekat dengan intensitas tebal condong menuju arah barat daya. Ketinggian semburan abu tercatat mencapai 1.000 meter di atas puncak kawah, atau sekitar 1.157 meter di atas permukaan laut. Suara gemuruh lemah hingga sedang juga sempat terdengar dari pos pengamatan di pesisir Pasauran.

Rekaman Volkanik dan Analisis Pos Pengamatan

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan kelanjutan dari fase rekaman gempa vulkanik yang terus berfluktuasi sejak beberapa hari terakhir. Seismogram yang berada di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) merekam getaran gempa letusan dengan amplitudo maksimum yang signifikan.

Berikut adalah ringkasan parameter teknis erupsi Gunung Anak Krakatau yang terekam pada instrumen pemantauan:

Parameter Pemantauan Data Terdeteksi
Tinggi Kolom Abu 1.000 meter di atas puncak
Arah Sebaran Abu Barat Daya
Amplitudo Maksimum 45 mm
Durasi Erupsi 120 detik
Status Gunung Api Level III (Siaga)

Petugas di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau mengonfirmasi bahwa aktivitas tremor menerus (microtremor) masih terus terjadi secara konsisten. Hal ini menandakan adanya pergerakan suplai magma dari kedalaman menuju permukaan yang masih berlangsung aktif tanpa henti.

Imbauan Keselamatan dan Radius Bahaya

Menanggapi letusan yang terus berulang ini, otoritas geologi mengimbau keras agar tidak ada aktivitas manusia dalam jarak dekat dari kawah aktif gunung api tersebut. Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diminta untuk mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan oleh tim ahli demi menghindari potensi bahaya material lontaran pendar.

"Aktivitas magmatik di bawah tubuh Gunung Anak Krakatau masih sangat dinamis. Kami memperingatkan dengan tegas agar seluruh pihak tidak mendekati area kawah dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi," tegaskannya dalam laporan tertulis resmi PVMBG.

"Erupsi susulan masih sangat berpotensi terjadi sewaktu-waktu tanpa adanya tanda-tanda awal yang jelas, sehingga kewaspadaan ekstra merupakan harga mati bagi keselamatan warga," tambah salah seorang analisis geologi PVMBG saat menekankan besarnya potensi bahaya sekunder.

Dampak Terhadap Jalur Pelayaran dan Pemukiman Warga

Meski abu vulkanik mengepul cukup tinggi, jalur pelayaran utama penyeberangan kapal feri Merak–Bakauheni dilaporkan masih beroperasi secara normal. Kendati demikian, Nahkoda kapal diminta untuk tetap memperbarui informasi cuaca dan arah angin guna mengantisipasi tutupan abu tebal yang berisiko mengganggu jarak pandang navigasi laut.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Banten dan Lampung Selatan telah menginstruksikan seluruh relawan dan perangkat desa di pesisir pantai untuk terus bersiaga. Langkah-langkah mitigasi darurat serta pengecekan ketersediaan masker gratis telah dipersiapkan apabila terjadi hujan abu vulkanik yang mengarah ke pemukiman warga di tepi pantai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User