Sep 17, 2026
Lampung

Bandar Lampung Diselimuti Abu Anak Krakatau, Warga Keluhkan Mata Pedih

BANDAR LAMPUNG — Suasana pagi di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya mendadak dicekam kabut tipis berwarna abu-abu pada Kamis pagi. Hujan abu vulkanik halus

Bandar Lampung Diselimuti Abu Anak Krakatau, Warga Keluhkan Mata Pedih

BANDAR LAMPUNG — Suasana pagi di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya mendadak dicekam kabut tipis berwarna abu-abu pada Kamis pagi. Hujan abu vulkanik halus yang bersumber dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyelimuti pemukiman warga, jalan raya, hingga kendaraan yang terparkir di luar ruangan. Fenomena ini menyebabkan gangguan jarak pandang serta memicu keluhan kesehatan secara massal, khususnya iritasi mata dan gangguan pernapasan ringan pada warga setempat.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, paparan abu vulkanik tampak paling tebal menyelimuti wilayah pesisir hingga pusat kota Bandar Lampung. Banyak warga yang sedang beraktivitas di luar rumah mengaku terkejut karena mata mereka mendadak terasa sangat pedih dan perih saat terkena angin yang membawa partikel abu mikro tersebut.

Kronologi Penyebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Penyebaran materi vulkanik hingga mencapai wilayah perkotaan ini tidak lepas dari dinamika erupsi serta arah angin yang berembus cepat dari Selat Sunda. Berikut adalah garis waktu kejadian penyebaran abu vulkanik tersebut:

  1. Dini Hari (02.15 WIB): Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) merekam peningkatan gelombang seismik dan peningkatan erupsi berupa lontaran kolom abu tebal dari kawah Gunung Anak Krakatau.
  2. Subuh (04.30 WIB): Pergerakan angin dominan mengarah ke utara dan barat laut, membawa partikel abu halus melintasi Selat Sunda menuju daratan Provinsi Lampung.
  3. Pagi Hari (06.00 WIB): Warga Bandar Lampung mulai menyadari keberadaan endapan abu tipis di kaca mobil, teras rumah, dan dedaunan. Jarak pandang berkurang hingga 2 kilometer.
  4. Pagi Hari (07.30 WIB): Aktivitas masyarakat mulai terganggu. Jumlah warga yang mengeluhkan mata pedih dan tenggorokan gatal meningkat tajam saat jam berangkat kerja.

Dampak Kesehatan dan Kesaksian Warga

Iritasi mata menjadi masalah mendesak yang dirasakan langsung oleh mayoritas pengendara sepeda motor dan pejalan kaki. Banyak warga terpaksa menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan untuk membasuh mata dengan air bersih.

"Waktu naik motor tadi pagi, mata rasanya perih banget kayak kemasukan pasir. Pas saya usap malah makin sakit. Ternyata pas nyampe kantor, kaca helm dan jok motor udah penuh abu halus warna abu-abu," ujar Rahmad (34), salah seorang pekerja swasta di kawasan Tanjung Karang.

Menanggapi situasi ini, para ahli kesehatan mengingatkan bahaya silika yang terkandung dalam abu vulkanik. "Partikel abu vulkanik memiliki sudut-sudut tajam mikroskopis yang bisa menyebabkan abrasi pada kornea mata jika digosok. Selain itu, paparan jangka panjang tanpa perlindungan bisa memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)," tegas dr. Hendra Setiawan, spesialis paru setempat.

Data Teknis Dampak dan Penanganan

Pemerintah daerah bersama pihak terkait langsung menetapkan langkah siaga untuk meminimalisasi dampak negatif paparan abu terhadap kesehatan publik.

Indikator Parameter Status / Data Lapangan Keterangan Tambahan
Status Gunung Anak Krakatau Level III (Siaga) Rekomendasi radius aman 5 km dari kawah
Ketebalan Abu di Kota 0,5 mm - 1,2 mm Tergantung lokasi dan kepadatan vegetasi
Indeks Kualitas Udara (AQI) 158 (Tidak Sehat) Partikel PM2.5 meningkat signifikan
Wilayah Terdampak Utama Tanjung Karang, Teluk Betung, Panjang Daerah pesisir paling terpapar

Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat Terdampak

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau agar masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan selama abu vulkanik masih mengudara. Beberapa tindakan mitigasi mandiri yang direkomendasikan antara lain:

  • Menggunakan masker medis atau N95 saat berada di luar ruangan untuk melindungi saluran pernapasan.
  • Menggunakan kacamata pelindung (goggles) dan menghindari penggunaan lensa kontak sementara waktu.
  • TIDAK menggosok mata apabila terasa perih; gunakan tetes mata steril atau bilas dengan air bersih yang mengalir.
  • Menutup tempat penampungan air minum dan makanan agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
  • Menyiram pekarangan atau jalanan di depan rumah dengan air sebelum disapu untuk mencegah abu membumbung kembali ke udara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User