Lalu Lintas Kapal Selat Hormuz Terjun Bebas ke Rekor Terendah Pasca Perang
BREAKING NEWS — Lalu lintas kapal di jalur vital Selat Hormuz merosot drastis ke level terendah dalam 35 hari pada Minggu (12/7), menyusul eskalasi serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran dan i...
BREAKING NEWS — Lalu lintas kapal di jalur vital Selat Hormuz merosot drastis ke level terendah dalam 35 hari pada Minggu (12/7), menyusul eskalasi serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran dan insiden penyerangan kapal tanker di kawasan tersebut.
Data terbaru dari perusahaan pemantau pelayaran Kpler mengonfirmasi hanya enam unit kapal yang tercatat melintasi perairan sempit penghubung Teluk Persia dengan Laut Arab itu sepanjang hari. Angka ini menjadi yang paling minim dalam kurun lima pekan terakhir, menandai puncak ketakutan global terhadap keselamatan rute energi dunia.
Fakta Kunci Penurunan Trafik
- 6 kapal tercatat melintas — terendah sejak awal Juni 2026.
- 2 kapal tanker bermuatan minyak keluar: VLCC Humanity (2 juta barel minyak Iran) dan Capetan Andreas (500.000 barel produk minyak Kuwait).
- 3 kapal tanker kosong memasuki Teluk Persia untuk muat kargo.
- 0 kapal LNG memasuki selat selama akhir pekan, sinyal bahaya bagi pasokan gas.
- Mayoritas kapal mematikan transponder — pergerakan tidak terlacak.
Penurunan drastis ini terjadi hanya beberapa jam setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru menggunakan amunisi presisi ke puluhan target di Iran pada Minggu dini hari. Presiden Donald Trump segera merespons dengan pernyataan kontroversial bahwa Selat Hormuz “terbuka untuk lalu lintas komersial,” meskipun data lapangan menunjukkan fakta sebaliknya.
Di sisi lain, Iran secara terbuka mengklaim telah menutup jalur tersebut. Teheran menyalahkan sebuah kapal yang melintas melalui rute tidak sah dan kemudian diserang. Pernyataan ini merujuk pada insiden sebelumnya di mana milisi pro-Iran diduga menargetkan kapal komersial.
Eskalasi di Perairan: Garda Revolusi Lumpuhkan Dua Kapal
Ketegangan memuncak pada Senin (13/7) ketika Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan bahwa angkatan lautnya telah menghentikan dua kapal di Selat Hormuz dengan cara melumpuhkan sistem navigasi dan kendali mereka. Namun, Teheran menolak mengungkapkan identitas kedua kapal tersebut, menimbulkan spekulasi bahwa operasi tersebut menyasar kapal-kapal berbendera asing atau sekutu Barat.
Laporan dari saksi mata dan intelijen maritim menyebutkan bahwa sebagian besar armada tanker yang masih beroperasi memilih untuk mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) begitu memasuki kawasan berbahaya ini. Langkah tersebut, meski meningkatkan risiko tabrakan, dianggap perlu untuk menghindari pelacakan oleh kelompok bersenjata atau ranjau laut sisa konflik.
Ancaman Bagi Rantai Pasok Energi Global
Selat Hormuz merupakan koridor strategis yang menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah global. Anjloknya volume kapal yang berani melintasi jalur ini memicu kekhawatiran serius di pasar energi. Data Kpler menunjukkan tidak ada satu pun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang memasuki selat selama akhir pekan, sebuah fenomena yang jarang terjadi dan berpotensi mengerek harga gas spot di Asia dan Eropa.
Kapal Humanity, sebuah VLCC raksasa, menjadi sorotan karena mengangkut 2 juta barel minyak mentah Iran — kargo yang diyakini telah diasuransikan secara darurat dengan biaya tinggi. Sementara itu, Capetan Andreas yang membawa produk minyak Kuwait menandakan bahwa eksportir Teluk masih mencoba mempertahankan arus keluar meskipun risiko keamanan melonjak.
Para analis memperkirakan jika eskalasi militer terus berlanjut, rute pelayaran alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika akan kembali menjadi pilihan, meskipun menambah waktu tempuh hingga tiga pekan dan memompa biaya logistik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari otoritas maritim internasional tentang status resmi Selat Hormuz. Namun, satu hal pasti: ketegangan AS-Iran telah mengubah perairan ini menjadi zona abu-abu yang menakutkan bagi pelaut global.
Baca juga:
Comments (0)