Beritatercepat.com — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS kembali menjadi panggung persaingan strategis antara dua kekuatan ekonomi raksasa Asia, Tiongkok dan India. Di tengah dinamika global yang terus bergeser, kedua negara anggota saling bermanuver untuk memperluas pengaruh politik serta ekonomi mereka di dalam blok negara-negara berkembang tersebut.
Perdana Menteri India Narendra Modi memainkan peran diplomatik yang sangat diperhitungkan. Modi secara konsisten menjaga posisi India sebagai kekuatan penyeimbang yang independen, menolak membiarkan BRICS diarahkan semata-mata menjadi platform anti-Barat oleh Beijing. Di sisi lain, Tiongkok berambisi menjadikan aliansi ini sebagai poros utama tandingan dominasi hegemoni negara-negara maju yang tergabung dalam G7.
Kronologi Perebutan Pengaruh di Arena BRICS
- Sesi Pembukaan Forum: Delegasi Tiongkok mendorong agenda ekspansi keanggotaan dan percepatan dedolarisasi perdagangan internasional secara agresif guna mengurangi ketergantungan pada sistem finansial Barat.
- Perdebatan Pembentukan Arah Kebijakan: India merespons dengan menekankan bahwa BRICS harus tetap inklusif, berfokus pada pembangunan ekonomi negara-negara Selatan (Global South), dan tidak terseret dalam konfrontasi blok geopolitik tertutup.
- Diplomasi Paralel Narendra Modi: Modi menunjukkan fleksibilitas strategis New Delhi dengan mempertahankan kemitraan erat bersama negara-negara Barat, termasuk keterlibatannya dalam KTT G7 bersama para pemimpin dunia seperti Presiden Amerika Serikat, sembari tetap aktif memperjuangkan kepentingan di meja perundingan BRICS.
"India tidak berniat menjadikan BRICS sebagai instrumen polarisasi global. Kemitraan strategis harus berorientasi pada stabilitas ekonomi, kedaulatan wilayah, serta pemerataan pembangunan bagi seluruh anggota tanpa dominasi sepihak," ujar seorang diplomat senior dalam sesi tertutup.
Dua Visi yang Saling Berseberangan
Ketegangan laten antara New Delhi dan Beijing berakar pada perbedaan visi masa depan tatanan internasional. Presiden Tiongkok Xi Jinping melihat perluasan BRICS sebagai peluang untuk memperkokoh pengaruh diplomatik Beijing di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sebaliknya, India khawatir dominasi Tiongkok yang terlalu kuat di dalam blok tersebut justru dapat melemahkan peran strategis New Delhi.
Faktor sengketa perbatasan di wilayah Himalaya yang belum sepenuhnya tuntas juga turut membayangi hubungan bilateral kedua negara di setiap meja diplomasi multilateral. Modi secara tegas memprioritaskan kepentingan nasional India melalui pendekatan diplomasi multi-arah (multi-alignment).
Implikasi Strategis bagi Tatanan Global
Persaingan pengaruh antara India dan Tiongkok di tubuh BRICS membawa dampak signifikan terhadap arsitektur geopolitik dunia:
- Ketahanan Diplomasi Global South: Negara-negara berkembang memiliki ruang tawar yang lebih beragam tanpa harus memilih satu kubu secara mutlak.
- Keseimbangan Kekuatan Finansial: Dorongan diversifikasi mata uang transaksi internasional terus meluas meski menghadapi perdebatan mekanisme implementasi antaranggota.
- Dilema Konsensus Internal BRICS: Perbedaan arah kebijakan antara Beijing dan New Delhi diprediksi akan memperlambat pengambilan keputusan strategis yang memerlukan suara bulat seluruh anggota.
Comments (0)