KLH Libatkan 25 Ribu Peserta Tanam Sejuta Mangrove di Hari Mangrove Sedunia
Jakarta – Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 diwarnai aksi masif penanaman mangrove yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sebanyak satu juta bibit mangrove ditanam serentak di berbagai...
Jakarta – Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 diwarnai aksi masif penanaman mangrove yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sebanyak satu juta bibit mangrove ditanam serentak di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Aksi ini menandai puncak kampanye nasional rehabilitasi pantai yang telah berlangsung sepanjang semester pertama.
Berdasarkan data yang dihimpun, aksi penanaman ini menargetkan lahan seluas 364,11 hektare dengan melibatkan lebih dari 25.000 sukarelawan. Mereka berasal dari kalangan pelajar, komunitas lingkungan, serikat pekerja, serta warga umum yang peduli pada kelestarian pantai.
Momentum ini menjadi krusial mengingat kondisi mangrove Indonesia yang terus terdegradasi. Dalam tiga dekade, lebih dari 40 persen hutan mangrove lenyap akibat konversi lahan menjadi tambak, kawasan industri, dan permukiman. Akibatnya, ratusan kilometer garis pantai kini terancam abrasi dan intrusi air laut. Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memikul tanggung jawab besar dalam menjaga ekosistem mangrove global.
Gerakan Nasional Pemulihan Pesisir
Inisiatif ini merupakan bagian dari gerakan nasional pemulihan ekosistem mangrove yang kian terdegradasi. Menteri Lingkungan Hidup, dalam sambutannya, menyatakan bahwa partisipasi publik menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi pantai. "Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai awal baru bagi kolaborasi semua pihak dalam menjaga sabuk hijau pesisir," ujarnya.
Penanaman dilakukan di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan pantai utara Jawa, pesisir timur Sumatera, hingga Pulau Kalimantan yang rawan abrasi. Metode penanaman disesuaikan dengan karakteristik lahan, termasuk penggunaan bibit dari jenis Rhizophora dan Avicennia yang adaptif terhadap kondisi tanah berlumpur dan salinitas tinggi.
Partisipasi Multigenerasi
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya melibatkan pegiat lingkungan, tetapi juga ribuan pelajar yang diajak langsung turun ke lapangan. Mereka mendapatkan edukasi lapangan tentang peran mangrove sebagai pelindung alami dari tsunami, penahan abrasi, dan habitat biota laut. Sejumlah serikat pekerja juga mengirimkan anggotanya sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan di sektor maritim dan pariwisata.
Data sementara mencatat, 25.000 lebih peserta terlibat dalam 150 titik penanaman di 20 provinsi. Setiap peserta rata-rata menanam sekitar 40 bibit mangrove dalam satu hari, sehingga total bibit yang tertanam melebihi target awal. Inisiatif ini menciptakan rekor partisipasi terbanyak dalam sejarah peringatan Hari Mangrove Sedunia di Indonesia.
Target Jangka Panjang dan Mitigasi Iklim
KLH menargetkan penanaman total 1,2 juta bibit mangrove sepanjang tahun ini di area seluas 500 hektare, sebagai bagian dari komitmen menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan iklim. Mangrove dikenal memiliki kapasitas menyerap karbon lima kali lebih tinggi dibandingkan hutan daratan, sehingga kontribusinya signifikan dalam mitigasi perubahan iklim.
"Melalui aksi ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa mangrove bukan sekadar tanaman pantai, melainkan benteng kehidupan yang melindungi jutaan warga pesisir," tambah pejabat KLH. Pemerintah juga mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pendanaan dan perawatan jangka panjang melalui skema tanggung jawab sosial lingkungan.
Harapan dan Tindak Lanjut
Para aktivis lingkungan menyambut baik langkah konkret ini, namun mengingatkan pentingnya monitoring dan pemeliharaan bibit pasca-penanaman. Tingkat keberhasilan hidup mangrove sering kali rendah jika tidak dirawat secara intensif. Oleh karena itu, KLH berjanji membentuk tim relawan lokal di setiap titik tanam untuk memastikan pertumbuhan bibit hingga dua tahun ke depan.
Dengan semakin melibatkan generasi muda, diharapkan semangat menjaga mangrove akan terus tumbuh, menjadikan pesisir Indonesia lebih hijau dan berkelanjutan. Aksi serentak ini pula menjadi bukti nyata bahwa kerja kolektif mampu mengembalikan fungsi ekologis pesisir yang hilang.
Comments (0)