SURABYA — Gubernur Khofifah Indar Parawansa menggebrak peringatan Hari Sungai Nasional 2026 dengan seruan keras: kolaborasi adalah harga mati untuk menyelamatkan ekosistem sungai yang kian kritis. Pernyataan tersebut ia lontarkan di hadapan ribuan peserta aksi bersih sungai di kawasan Tamansari, Surabaya, Minggu pagi.
Mobilisasi Massal di Bantaran Sungai
Ratusan sukarelawan dari komunitas pecinta alam, pelajar, aparat TNI-Polri, serta perwakilan perusahaan swasta tumpah ke bantaran Kali Mas. Mereka serentak mengangkut sampah, menanam pohon vetiver, dan menebar benih ikan endemik. Khofifah turun langsung, memegang karung dan ikut membersihkan tumpukan limbah plastik yang menyumbat aliran.
Fakta cepat: volume sampah yang berhasil diangkut dalam dua jam mencapai 1,2 ton, didominasi popok bayi, botol plastik, dan styrofoam.
Ancaman Nyata di Depan Mata
Kondisi memprihatinkan bukan hanya di Kali Mas. Dinas Lingkungan Hidup Jatim mencatat, dari 87 sungai utama, 52 di antaranya tercemar berat limbah domestik dan industri. Sedimentasi akibat deforestasi hulu juga memperparah kapasitas tampung saat musim hujan, memicu banjir bandang di 14 kabupaten kota sepanjang triwulan pertama 2026.
“Kita kehilangan 40% tutupan vegetasi riparian dalam dua dekade terakhir,” jelas Khofifah mengutip hasil riset Universitas Brawijaya. Ia menekankan, krisis ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dan air minum 23 juta warga Jatim.
Peta Jalan Kolaborasi 2026-2028
Di atas panggung, Gubernur memaparkan tiga pilar strategi yang akan dijalankan. Pertama, normalisasi 22 sungai prioritas menggunakan dana APBD yang sudah dialokasikan sebesar Rp 420 miliar. Kedua, program wajib sertifikasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bagi 1.200 industri skala menengah-besar paling lambat Agustus 2027. Ketiga, penugasan 15.000 penyuluh sungai yang direkrut dari karang taruna dan BUMDes untuk mengedukasi warga di tingkat desa.
Inovasi pemantauan: Pemprov meluncurkan aplikasi “SungaiQ” yang memungkinkan warga melaporkan pencemaran, kirim foto, dan lacak status laporan. Aplikasi ini terkoneksi dengan command room BPBD agar respons penanganan bisa berjalan dalam hitungan jam.
Bukan Seremonial Belaka
Khofifah mengingatkan, peringatan Hari Sungai tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Ia meminta setiap kepala OPD menandatangani kontrak kinerja konservasi yang akan dievaluasi triwulanan. “Kalau hanya seremonial, sungai kita akan mati. Saya tidak mau menandatangani kematian itu,” tegasnya disambut tepuk tangan.
Keterlibatan swasta juga didorong melalui skema insentif pajak daerah bagi perusahaan yang berhasil menurunkan beban pencemaran di atas 50%. Sanksi tegas menanti industri yang tetap membandel.
Menutup acara, Khofifah bersama perwakilan petani, nelayan, dan anak-anak menyusun mandala dari kerikil sungai. Simbol gotong royong yang diharapkannya tidak hanya tertata indah di atas nampan, tetapi juga bekerja nyata di sepanjang aliran sungai Jawa Timur.
Comments (0)