Keraton Solo Terbelah Dua Saat Sekaten, Pemkot Respons Cepat
SOLO — Dua faksi yang berseteru di Keraton Kasunanan Surakarta menggelar upacara Sekaten secara terpisah dalam beberapa hari terakhir. Kubu yang mendukung Pakubuwono XIV versi Purbaya menguasai Alun...
SOLO — Dua faksi yang berseteru di Keraton Kasunanan Surakarta menggelar upacara Sekaten secara terpisah dalam beberapa hari terakhir. Kubu yang mendukung Pakubuwono XIV versi Purbaya menguasai Alun-alun Selatan, sementara pendukung Pakubuwono XIV versi Mangkubumi menempati Alun-alun Utara sebagai lokasi perayaan.
Perpecahan ini membuat tradisi turun-temurun peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diwarnai persaingan terbuka. Kedua pihak sama-sama mengerahkan gamelan, rebutan, dan rangkaian ritual yang biasanya hanya digelar di satu tempat oleh pihak keraton yang sah. Warga dan wisatawan menyaksikan pemandangan tak biasa: dua kampanye budaya berjalan serentak di dua alun-alun bersejarah.
Asal-usul Dualisme
Sekaten selama ini menjadi simbol legitimasi penguasa keraton. Ketika klaim takhta belum tuntas, masing-masing kubu berusaha menunjukkan eksistensi dengan menggelar acara sakral ini. Kubu Purbaya yang berbasis di kompleks keraton selatan mengklaim rangkaian Sekaten di Alun-alun Selatan sebagai penerus sah. Kubu Mangkubumi, yang selama ini lebih banyak beraktivitas di zona utara, menggelar ritual serupa di Alun-alun Utara.
Pantauan di lapangan, kedua acara berjalan relatif tertib meskipun ada ketegangan yang terasa. Pasukan pengamanan internal dan relawan masing-masing kubu berjaga ketat. Aktivitas pasar malam yang biasanya menyertai Sekaten pun ikut terbagi di dua titik, memunculkan kebingungan di kalangan pedagang dan pengunjung.
Pemkot Keluarkan Imbauan
Pemerintah Kota Surakarta langsung merespons situasi ini. “Kami mengimbau semua pihak menjaga ketertiban dan tidak menjadikan tradisi sebagai ajang konflik,†ujar pejabat Pemkot yang dikonfirmasi. Pihaknya menegaskan Sekaten adalah warisan budaya bersama yang harus dilindungi, bukan dipolitisasi.
Pemkot juga berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk memastikan dua perayaan tidak saling bentrok. Langkah ini diambil setelah puluhan laporan masuk dari warga yang resah melihat simbol keraton diadu satu sama lain. Pusat informasi sementara didirikan di sekitar Alun-alun Utara dan Selatan untuk mengarahkan masyarakat dan wisatawan.
Dampak pada Pariwisata
Bagi sektor wisata, dualisme Sekaten menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Kunjungan mungkin meningkat karena rasa penasaran, tetapi pengalaman kultural yang kabur berisiko merusak citra tradisi keraton yang otentik. Dinas Pariwisata tengah mengevaluasi dampak ganda ini seraya terus mempromosikan pesan damai.
Sementara itu, upaya mediasi dari tokoh adat dan tokoh agama terus dijajaki. Publik berharap pengelolaan keraton yang terbelah segera menemukan jalan keluar agar tahun depan Sekaten bisa kembali digelar di satu panggung kebesaran trah Mataram. Situasi masih dipantau dengan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan dalam waktu dekat.
Comments (0)