Kemensos Dorong Disabilitas Jombang Jadi Pengrajin Mandiri
JOMBANG — Tidak lagi dipandang sebelah mata. Puluhan penyandang disabilitas di Kabupaten Jombang kini berdiri sebagai pengrajin tangguh yang menghasilkan produk unggulan bernilai ekonomi tinggi, Sab...
JOMBANG — Tidak lagi dipandang sebelah mata. Puluhan penyandang disabilitas di Kabupaten Jombang kini berdiri sebagai pengrajin tangguh yang menghasilkan produk unggulan bernilai ekonomi tinggi, Sabtu (4/7/2026).
Di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, aroma telur asin rebus langsung menyambut kedatangan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf. Ia datang bersama tim Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta dalam rangka bakti sosial dan monitoring program.
Fatma tidak sekadar melihat. Ia menyusuri setiap sudut ruang pemberdayaan, berhenti di meja penganyaman tas, berdialog dengan pembuat sapu sabut kelapa, dan mencicipi telur asin produksi mereka.
Fakta Utama Lapangan
- Lokasi: Balai Desa Dukuhklopo, Peterongan, Jombang.
- Waktu: Sabtu, 4 Juli 2026.
- Program: ATENSI Kemensos melalui Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso.
- Penerima: Penyandang disabilitas fisik dan psikososial dari Poskeswa Mergo Waras dan Poskeswa Mantap Jiwa.
- Produk: Telur asin, tas anyaman, sapu sabut kelapa.
- Merek khusus: “Para Tersayang” — akronim Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang.
Istilah “para tersayang” sengaja digunakan untuk menghapus stigma klinis yang selama ini melekat pada penyandang disabilitas psikososial. “Mereka bukan sekadar pasien. Mereka adalah saudara kita yang butuh perhatian dan kesempatan,” ujar Fatma.
Di Poskeswa Mergo Waras, para tersayang menjalani terapi okupasi yang langsung terintegrasi dengan kegiatan produktif. Hasilnya, telur asin buatan mereka kini memiliki sertifikasi halal dan sudah menembus pasar lokal hingga toko oleh-oleh di pusat kota Jombang.
Dampak Ekonomi Nyata
Sentra Terpadu mencatat, omzet kumulatif dari penjualan produk unggulan ini mencapai Rp25 juta sejak awal tahun 2026. Seorang penerima manfaat, sebut saja Budi, mengaku kini bisa menyumbang pendapatan keluarga hingga Rp2,5 juta per bulan dari anyaman tas dan telur asin.
“Dulu saya minder, sekarang saya punya penghasilan sendiri. Anak-anak saya bisa jajan pakai uang saya,” kata Budi dengan mata berbinar.
Program ATENSI yang dicanangkan Kemensos memang dirancang menyeluruh. Mulai dari rehabilitasi medis, sosial, hingga vokasional. Di Jombang, Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso menjadi ujung tombak yang mengawal para penerima manfaat hingga benar-benar mandiri secara ekonomi.
Fatma menegaskan bahwa pendekatan DWP Kemensos bukan karitatif, melainkan pemberdayaan. “Kami berikan pancing, bukan ikan. Hari ini kami lihat pancing itu sudah menghasilkan tangkapan besar,” ujarnya.
Bakti sosial ini juga diisi dengan penyerahan bantuan alat produksi, seperti kompor gas, alat anyam, dan mesin pengering telur asin. Bantuan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas produksi dan membuka lapangan kerja baru bagi disabilitas lain yang belum terjangkau.
Ke depan, Kemensos berencana memperluas program serupa ke tiga kabupaten lain di Jawa Timur. “Jangan sampai ada satu pun saudara kita yang tertinggal hanya karena keterbatasan,” tutup Fatma.
Dharma Wanita Persatuan Kemensos di bawah kepemimpinan Fatma Saifullah Yusuf memang aktif menggalakkan program bakti sosial di berbagai daerah. Kegiatan di Jombang ini merupakan rangkaian dari seratus hari kerja Menteri Sosial yang fokus pada pemberdayaan kelompok marginal. Program ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa inklusivitas adalah investasi, bukan beban.
Baca juga:
Comments (0)