ROTE NDAO — Kedatangan jenazah Wili Mbuik di kampung halamannya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus ketakutan bagi pihak keluarga. Korban kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua tersebut telah dipulangkan ke peristirahatan terakhirnya, namun ancaman nyata belum sepenuhnya mereda.
Pihak keluarga mengungkapkan bahwa mereka masih menerima serangkaian pesan bernada ancaman dan intimidasi pasca-insiden pembunuhan tersebut. Teror tersebut diduga kuat dilancarkan oleh para pelaku yang merampas telepon genggam (handphone) milik almarhum usai melancarkan aksi penyerangan.
Kronologi Teror dan Perampasan Ponsel Korban
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari pihak keluarga di Rote Ndao, intimidasi bermula sesaat setelah kabar penembakan Wili Mbuik tersiar. Pelaku memanfaatkan akses gawai milik korban untuk menghubungi kerabat terdekat:
- Perampasan Barang Korban: Pasca-penyerangan maut di Papua, kelompok bersenjata mengambil seluruh barang pribadi Wili Mbuik, termasuk gawai yang aktif digunakan untuk komunikasi keluarga.
- Pesan Teror Masuk: Selang beberapa waktu setelah insiden, nomor telepon almarhum mulai mengirimkan pesan suara dan teks berisi ancaman verbal kepada nomor kontak keluarga yang tersimpan.
- Intimidasi Psikologis Berkelanjutan: Pihak keluarga yang tengah berduka terus-menerus dicecar pesan teror bernada provokasi yang memperkeruh situasi mental keluarga di NTT.
"Kami sangat terpukul atas kepergian Wili, tetapi rasa takut semakin bertambah karena nomor HP almarhum yang diambil pelaku masih terus mengirim ancaman ke keluarga kami di sini," ungkap salah seorang kerabat korban saat prosesi penyambutan jenazah.
Suasana Haru Penyambutan Jenazah di NTT
Isak tangis keluarga dan kerabat pecah saat peti jenazah Wili Mbuik tiba di rumah duka di Rote Ndao. Kerumunan masyarakat setempat turut menyambut kedatangan jenazah sebagai bentuk solidaritas dan belasungkawa atas kekerasan yang dialami perantau asal NTT di Tanah Papua.
Wili Mbuik dikenal sebagai sosok pekerja keras yang merantau demi memperbaiki perekonomian keluarga. Penyerangan tanpa belas kasih terhadap warga sipil ini kembali menyoroti kerentanan para pekerja migran domestik di area-area rawan konflik di wilayah Papua.
Desakan Penindakan Hukum dan Perlindungan Saksi
Menanggapi situasi teror yang menimpa keluarga almarhum, sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan di NTT mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah taktis:
- Pelacakan Sinyal Digital: Mendesak kepolisian untuk melacak keberadaan gawai yang dirampas guna membantu operasi penindakan terhadap KKB.
- Perlindungan Mental Keluarga: Memberikan pendampingan psikologis serta proteksi keamanan bagi keluarga korban dari potensi intimidasi lanjutan.
- Jaminan Keamanan Perantau: Pemerintah pusat dan daerah diminta memperketat pengamanan dan evakuasi pekerja sipil di zona merah rawan KKB.
Pihak keluarga berharap pemerintah dan aparat TNI-Polri tidak tinggal diam serta dapat menindak tegas para pelaku agar kejadian serupa tidak terus berulang menimpa warga sipil tak berdosa lainnya.
Comments (0)