BERITATERCEPAT.COM, BANDUNG — Insiden kebakaran lahan kosong di kawasan Puncak Ciumbuleuit (Punclut), Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, memicu krisis kesehatan lingkungan bagi warga sekitar. Sebanyak 19 warga dilaporkan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setelah menghirup kepulan asap tebal yang menyelimuti pemukiman sejak peristiwa kebakaran meluas di area perbukitan tersebut.
Paparan asap pekat yang terbawa hembusan angin kencang memperburuk kualitas udara di pemukiman yang berada di lereng dan lembah kawasan Punclut. Mayoritas warga terdampak mengeluhkan gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, hingga iritasi mata akibat partikel abu sisa pembakaran semak belukar yang masuk ke dalam rumah.
Kronologi Kejadian dan Penanganan Api di Lokasi
Berdasarkan laporan di lapangan, kebakaran mulai terdeteksi saat titik api kecil membakar vegetasi kering di lahan terlantar. Kondisi cuaca kering dan embusan angin membuat kobaran api cepat membesar ke area sekitarnya.
- Pukul 13.30 WIB: Warga setempat pertama kali melihat kepulan asap membubung tinggi dari arah tebing lahan kosong Punclut.
- Pukul 14.15 WIB: Petugas dari Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung mengerahkan armada pemadam ke medan terjal untuk memutus perambatan api.
- Pukul 17.00 WIB: Api pokok berhasil dikendalikan, namun material organik di bawah permukaan tanah masih terus menghasilkan asap tebal (smoldering).
- Pukul 19.30 WIB: Sejumlah warga mulai mendatangi fasilitas kesehatan terdekat dengan keluhan gangguan pernapasan akut.
"Asap pekat sempat turun ke pemukiman warga saat proses pendinginan berlangsung. Kami segera berkoordinasi dengan dinas kesehatan untuk mendirikan posko darurat guna merawat warga yang mengeluhkan sesak napas," ujar perwakilan tim tanggap darurat di lokasi kejadian.
Dampak Kesehatan dan Penanganan Medis Korban
Dinas Kesehatan Kota Bandung bersama puskesmas setempat langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama kepada para korban. Dari total 19 orang yang terdiagnosis ISPA, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia mendominasi daftar pasien yang membutuhkan terapi oksigen darurat.
Tim medis telah membagikan ribuan masker medis serta tetes mata untuk meminimalkan dampak buruk dari partikel mikro debu sisa kebakaran. Pasien dengan gejala sedang hingga berat langsung mendapatkan penanganan nebulizer di puskesmas terdekat guna melegakan saluran pernapasan.
Imbauan dan Langkah Pencegahan Lanjutan
Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan selama musim kemarau berlangsung. Pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk mematuhi sejumlah langkah keselamatan berikut:
- Menggunakan Masker: Kenakan masker standar saat beraktivitas di luar ruangan di sekitar kawasan terdampak asap.
- Menutup Ventilasi: Tutup jendela dan ventilasi rumah secara rapat saat kabut asap mulai turun ke pemukiman.
- Hindari Pembakaran Sampah: Dilarang keras membuka lahan atau membersihkan sampah dengan cara dibakar di area perbukitan.
- Perbanyak Konsumsi Air Putih: Menjaga hidrasi tubuh untuk membantu membersihkan partikel debu dari tenggorokan.
Hingga berita ini diturunkan, petugas pemadam kebakaran dan relawan kebencanaan masih terus memantau area bekas kebakaran guna memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang berpotensi memicu kobaran baru.
Comments (0)