Sep 17, 2026
Nasional

JAKARTA — Standar Ganda dan Ekspektasi Sosial Menekan Mental Perempuan

Di balik gemerlap kemajuan zaman dan gaung kesetaraan gender yang kian nyaring, sebuah bisikan kuno masih terus terngiang di telinga jutaan wanita: "Kamu h

JAKARTA — Standar Ganda dan Ekspektasi Sosial Menekan Mental Perempuan

Di balik gemerlap kemajuan zaman dan gaung kesetaraan gender yang kian nyaring, sebuah bisikan kuno masih terus terngiang di telinga jutaan wanita: "Kamu harus menjadi perempuan yang baik." Kalimat yang sekilas terdengar bagai nasihat penuh kasih sayang ini, dalam kenyataannya, kerap menjadi fondasi dari beban psikologis yang sangat berat. Sejak usia dini, perempuan diajarkan untuk bersikap sopan, mengalah, mengutamakan kenyamanan orang lain, hingga menekan ambisi pribadi demi memenuhi standar ideal yang tidak pernah ada habisnya.

Dalam realitas sosial saat ini, menjadi perempuan seolah tidak pernah cukup. Ketika seorang perempuan memilih berkarir secara profesional, masyarakat tak jarang melabelinya sebagai sosok yang mengabaikan keluarga. Sebaliknya, ketika ia memilih menjadi ibu rumah tangga fully-dedicated, stereotip bahwa ia "tidak berkembang" atau "hanya di rumah saja" justru kerap menempel. Dilema tak berujung ini menciptakan ruang hampa di mana pencapaian apa pun yang diraih perempuan selalu diiringi oleh catatan kritis dari lingkungan sekitar.

Beban Ganda dan Tuntutan Kemampuan Tanpa Batas

Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan realitas sosial yang terukur. Perempuan modern tidak hanya dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja, tetapi juga tetap diwajibkan memegang kendali penuh atas urusan domestik. Keseimbangan ini acap kali berujung pada kelelahan fisik dan emosional yang ekstrem.

Berikut adalah gambaran perbandingan ekspektasi tradisional dan tuntutan era modern yang harus ditanggung oleh perempuan:

Kategori Peran Ekspektasi Tradisional Tuntutan Era Modern
Domestik Mengurus rumah dan anak secara penuh Mengurus rumah tangga sekaligus tampil sempurna di media sosial
Karir & Finansial Bergantung pada penafkah utama Mandiri secara finansial tanpa mengurangi porsi waktu untuk keluarga
Perilaku Sosial Penurut, mengalah, dan pasif Asertif dalam karir namun tetap harus submisif secara sosial

Dampak Mental dan Fenomena 'Good Girl Syndrome'

Menurut data dari studi kesehatan publik, sekitar 68 persen perempuan bekerja di kawasan perkotaan melaporkan pernah mengalami stres berat hingga burnout akibat tingginya beban ganda yang dipikul. Keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain dan memenuhi ekspektasi lingkungan memicu fenomena yang dikenal sebagai Good Girl Syndrome, di mana seseorang rela mengorbankan batas kesehatan mentalnya sendiri demi kepuasan publik.

Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Intan Permata, M.Psi., menjelaskan bahwa internalisasi standar berlebihan ini bermula dari pola pengasuhan patriarkal yang masih mengakar kuat.

"Perempuan dibesarkan dalam narasi bahwa nilai diri mereka diukur dari sejauh mana mereka bisa berguna dan menyenangkan orang lain. Ketika mereka gagal memenuhi standar yang tidak rasional tersebut, timbul rasa bersalah yang sangat dalam serta kecemasan kronis," ujar Dr. Intan dalam sebuah diskusi panel kesehatan mental di Jakarta.

Mengurai Belenggu Standar Semu

Memutus rantai ekspektasi yang menekan ini memerlukan kesadaran kolektif, baik dari perempuan itu sendiri maupun dari sistem sosial di sekitarnya. Langkah pertama adalah mendefinisikan ulang makna dari "perempuan yang baik". Sebuah definisi baru yang tidak didasarkan pada seberapa banyak pengorbanan emosional yang dilakukan, melainkan pada kebebasan untuk memilih jalur hidup secara berdaya dan bertanggung jawab.

Dukungan pasangan dalam pembagian tugas domestik secara adil juga menjadi kunci utama. Tanpa adanya redistribusi beban kerja rumah tangga dan pengasuhan anak secara nyata, wacana kesetaraan gender hanya akan menjadi tambahan beban baru bagi perempuan. Sudah saatnya masyarakat menerima bahwa perempuan tidak harus menjadi sosok sempurna yang bisa merengkuh segala hal sekaligus demi dianggap 'cukup'.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User