Judul Baru: Indonesia Cetak Orang Super Kaya Tercepat, Kelas Menengah Tergerus
Jakarta — Di tengah gemerlap lampu mal mewah yang kian menjamur dan deru mesin mobil-mobil eropa yang memenuhi jalanan protokol Ibu Kota, sebuah paradoks e
Jakarta — Di tengah gemerlap lampu mal mewah yang kian menjamur dan deru mesin mobil-mobil eropa yang memenuhi jalanan protokol Ibu Kota, sebuah paradoks ekonomi tengah membayangi Indonesia. Laporan terbaru memproyeksikan bahwa dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan menorehkan rekor sebagai negara dengan pertumbuhan populasi crazy rich tercepat di dunia. Namun, di saat yang bersamaan, tulang punggung perekonomian nasional—kelas menengah—justru mengalami penyusutan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fenomena ini menciptakan dua kutub yang bergerak saling menjauh. Di satu sisi, pundi-pundi kekayaan segelintir orang di puncak piramida ekonomi melaju bak roket yang lepas landas. Di sisi lain, jutaan warga yang sebelumnya menikmati hidup layak kini perlahan merosot ke jurang kemiskinan baru, menciptakan apa yang oleh para ekonom disebut sebagai “jam pasir sosial”.
Proyeksi ‘Supernova’: Ledakan Populasi Crazy Rich Asia
Data yang dihimpun dari konsultan properti global independen, Knight Frank, dalam The Wealth Report 2024, menunjukkan angka yang mencengangkan. Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan jumlah individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi atau Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI)—mereka yang memiliki aset lebih dari 30 juta dolar AS atau setara hampir setengah triliun rupiah—sebesar 34% dalam rentang waktu 2024 hingga 2028. Angka pertumbuhan ini jauh melampaui negara-negara tetangga di kawasan Asia-Pasifik maupun pusat kekuatan ekonomi global seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dirunut, Singapura hanya diproyeksikan tumbuh 17%, sementara India 12%, dan Tiongkok 10%. Dengan proyeksi ini, peta kekayaan global akan mengalami pergeseran signifikan, menempatkan Nusantara sebagai “rumah baru” bagi para taipan.“Ekspansi ini didorong oleh kuatnya harga komoditas dan pertumbuhan perusahaan berbasis sumber daya alam yang agresif. Kita sedang melihat kreasi kekayaan yang luar biasa cepat di sektor-sektor seperti pertambangan, energi hijau, dan ekonomi digital, meskipun efek tetesannya ke bawah sepertinya mengalami kebocoran di tengah jalan,” ujar seorang analis ekonomi senior yang enggan disebutkan namanya.Fenomena ini bukan sekadar ilusi statistik. Jejaknya terlihat nyata dari tren konsumsi barang-barang ultra-mewah di Indonesia yang justru meningkat di saat daya beli masyarakat umum melemah. Produsen mobil mewah dan pengembang properti super premium melaporkan penjualan yang melampaui target, menandakan bahwa puncak piramida memang tengah mengalami golden age.
Basis Piramida yang Rapuh: Kronik Kemunduran Kelas Menengah
Namun, di bawah kilauan pertumbuhan crazy rich itu tersimpan luka struktural yang semakin menganga: menyusutnya kelas menengah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kemunduran yang dramatis. Jumlah penduduk yang masuk dalam kategori kelas menengah telah menciut hingga 9,48 juta orang dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2024, data menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah Indonesia tersisa sekitar 47,8 juta jiwa, turun tajam dari puncaknya pada 2019 yang mencapai 57,3 juta jiwa. Mereka yang ‘rontok’ dari status menengah ini sebagian besar tidak naik kelas menuju kekayaan, melainkan jatuh ke dalam golongan “menuju kelas menengah” (aspiring middle class) atau yang lebih mengkhawatirkan, kembali menjadi “rentan miskin”. Fenomena ini menciptakan kecemasan kolektif yang senyap. Di kedai-kedai kopi sederhana di pinggiran Jakarta, di gang-gang sempit kota industri, keluhan tentang sulitnya mempertahankan gaya hidup kelas menengah terdengar seragam.“Dulu saya merasa cukup dengan gaji sebagai manajer menengah di perusahaan tekstil. Sekarang, untuk biaya sekolah anak dan cicilan rumah saja, kami harus pontang-panting mencari pinjaman online. Rasanya, kerja keras tidak lagi cukup untuk sekadar berdiri di tempat,” tutur Andri (42), seorang warga Tangerang, dengan nada lirih.Penurunan ini tidak terjadi begitu saja. Para ekonom menunjuk pada kombinasi faktor yang saling terkait. Deindustrialisasi dini menjadi tersangka utama. Lapangan kerja manufaktur bernilai tambah tinggi yang semestinya menjadi tumpuan kelas menengah justru menyusut, digantikan oleh sektor jasa informal dengan produktivitas dan upah rendah. Belum lagi gempuran inflasi yang menggerogoti pendapatan riil serta rendahnya jaminan sosial.
Comments (0)