Jejak Kolonial di 13 Sekolah Negeri Jakarta, Kini Cagar Budaya

JAKARTA — BARU SAJA, Disdik DKI mengonfirmasi 13 sekolah negeri di ibu kota berstatus heritage. Bangunannya berdiri sebelum proklamasi 1945.Fakta ini muncul dari pendataan terkini Dinas Pendidikan D...

Jul 28, 2026 - 05:36
0 0
Jejak Kolonial di 13 Sekolah Negeri Jakarta, Kini Cagar Budaya

JAKARTA — BARU SAJA, Disdik DKI mengonfirmasi 13 sekolah negeri di ibu kota berstatus heritage. Bangunannya berdiri sebelum proklamasi 1945.

Fakta ini muncul dari pendataan terkini Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Seluruh sekolah tersebut masih beroperasi penuh hingga hari ini. Ribuan siswa menempati ruang kelas yang dindingnya menyimpan sejarah panjang.

Warisan Arsitektur Kolonial

Belasan gedung sekolah itu dibangun era Hindia Belanda. Sebagian besar menggunakan struktur bata tebal, langit-langit tinggi, dan jendela lebar — khas arsitektur tropis kolonial. Beberapa di antaranya bahkan memiliki menara jam atau gerbang batu yang masih utuh.

Keberadaan bangunan ini menjadi bukti fisik perkembangan pendidikan di Jakarta sebelum kemerdekaan. Kala itu, sekolah-sekolah tersebut hanya bisa diakses kalangan terbatas: anak-anak priyayi, pegawai kolonial, dan kaum elite pribumi. Kini, ribuan pelajar dari berbagai latar belakang menimba ilmu di tempat yang sama.

Status cagar budaya melekatkan kewajiban baru bagi pengelola. Setiap renovasi, pengecatan, atau perbaikan struktural wajib melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya. "Kami tidak bisa asal ganti genteng atau cat tembok seperti sekolah biasa, semuanya harus izin," ujar seorang kepala sekolah yang gedungnya masuk daftar heritage.

Daftar dan Kondisi Terkini

Disdik belum merilis nama ke-13 sekolah secara utuh, namun data internal menunjukkan sekolah-sekolah itu tersebar di lima wilayah kota. Titik terbanyak berada di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, menyusul Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Satu di antaranya merupakan sekolah kejuruan teknik yang mesin-mesin tuanya turut dikategorikan sebagai benda cagar budaya.

Beberapa indikator kunci dari temuan ini:

  • Usia bangunan: 90–120 tahun, periode konstruksi 1905–1940
  • Gaya arsitektur: Indische Empire, Art Deco Hindia, dan Tropis Modern awal
  • Fungsi asli: HBS, MULO, HIS, dan sekolah kejuruan zaman kolonial
  • Jumlah siswa terdampak: sekitar 12.000–15.000 pelajar aktif
  • Penetapan: dilakukan bertahap sejak 2018, terbaru pada 2025

Kepala Dinas Pendidikan DKI menekankan perlunya keseimbangan antara konservasi dan fungsi pendidikan modern. Pihaknya tengah menyusun pedoman teknis bersama Dinas Kebudayaan agar proses belajar-mengajar tidak terganggu aturan pelestarian yang ketat.

Tantangan Ganda

Status heritage membawa dilema. Di satu sisi, bangunan ini aset sejarah tak ternilai. Di sisi lain, kebutuhan ruang kelas terus meningkat seiring bertambahnya siswa. Penambahan lantai atau sayap baru nyaris mustahil tanpa mengorbankan keaslian struktur.

Beberapa sekolah menyiasati dengan membangun gedung tambahan di lahan terpisah. Namun tidak semua memiliki lahan cadangan. "Kami terjepit. Mau bangun vertikal tidak boleh, mau geser bangunan utama juga mustahil," ujar seorang wakil kepala sekolah bidang sarana.

Selain itu, biaya perawatan bangunan tua jauh lebih tinggi dibanding gedung modern. Plafon kayu jati, kusen ukiran, dan lantai tegel kuno membutuhkan tenaga ahli khusus untuk restorasi. Anggaran rutin sekolah kerap tidak mencukupi. Disdik menjanjikan alokasi dana tambahan untuk 13 sekolah ini pada APBD perubahan tahun depan.

Respons Publik

Kabar penetapan heritage ini menuai respons beragam dari warga sekolah dan alumni. Komunitas alumni menyambut positif — sebagian bahkan menggalang dana untuk membantu perawatan. Sementara sebagian orang tua siswa khawatir akan pembatasan fasilitas.

Pemerhati sejarah menilai langkah Disdik sudah tepat, namun pengelolaan harus profesional. "Jangan sampai status cagar budaya justru membuat sekolah jadi museum yang membeku. Pendidikannya harus tetap hidup, bangunannya dijaga," ujar seorang sejarawan dari universitas negeri di Jakarta.

UPDATE 45 MENIT LALU — Disdik menggelar rapat darurat dengan tim konservasi. Agenda utama: menetapkan zona-zona bangunan yang boleh dimodifikasi dan zona yang mutlak dipertahankan orisinalitasnya. Hasil rapat akan diumumkan pekan depan. Seluruh pihak berharap titik temu segera tercapai, agar 13 sekolah ini tetap menjadi saksi hidup perjalanan pendidikan Tanah Air.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User