JAKARTA — Pameran Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 kembali menjadi panggung megah bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Tahun ini, pengelola Kebun Raya menghadirkan daya tarik utama berupa booth bertajuk "Mini Ecoregion", sebuah instalasi lanskap hidup yang memperkenalkan karakteristik empat ekosistem utama Indonesia kepada pengunjung domestik maupun mancanegara. Langkah inovatif ini dirancang untuk memberikan pengalaman edukatif yang mendalam mengenai kekayaan florikultura Nusantara dalam satu area pameran yang terintegrasi.
Melalui Mini Ecoregion, pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan estetika tanaman hias, melainkan juga memahami bagaimana faktor iklim, jenis tanah, serta habitat asli membentuk keanekaragaman flora di berbagai pulau. Kehadiran instalasi ini mempertegas peran penting Kebun Raya sebagai pusat konservasi ex-situ yang berupaya mendekatkan isu kelestarian lingkungan kepada masyarakat luas secara interaktif.
Menghadirkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Nusantara
Ajang FLOII Expo 2026 tidak sekadar pameran dagang hortikultura biasa, melainkan arena diplomasi hijau dan edukasi publik. Kebun Raya memanfaatkan momentum ini untuk menonjolkan betapa pentingnya menjaga ekosistem alami Indonesia yang kian terancam oleh perubahan iklim dan konversi lahan. Dengan membagi area pameran menjadi empat mintakat ekologi (ecoregion), para ilmuwan dan kurator Kebun Raya berhasil mereplikasi kondisi mikro habitat asli ke dalam ruang pameran modern.
"Kami ingin menghadirkan miniatur Nusantara yang utuh. Indonesia memiliki variasi iklim dari yang sangat basah hingga yang kering, dan hal tersebut tercermin dari karakteristik tanaman yang tumbuh di setiap region," ungkap perwakilan manajemen Kebun Raya di lokasi pameran.
Empat Ekosistem Utama dalam Reka Cipta Miniatur
Instalasi Mini Ecoregion menampilkan pemetaan keanekaragaman hayati Indonesia yang terbagi berdasarkan wilayah geografis dan tipe iklim dominan. Berikut adalah perbandingan empat ekosistem yang dipamerkan dalam ajang tersebut:
| Nama Ekosistem | Wilayah Mewakili | Karakteristik Flora Utama | Fokus Konservasi |
|---|---|---|---|
| Hutan Hujan Dataran Rendah | Sumatra & Kalimantan | Dipterocarpaceae, Kantong Semar (Nepenthes), Anggrek Spesies | Penyelamatan tanaman kayu bernilai tinggi & flora langka |
| Ekosistem Musim & Savana | Jawa & Nusa Tenggara | Tanaman tahan kering, Kayu Cendana, Sukulen Lokal | Adaptasi tanaman terhadap ancaman kekeringan ekstrem |
| Ekosistem Transisi Wallacea | Sulawesi & Maluku | Kayu Hitam (Eboni), Palma Endemik, Anggrek Sulut | Perlindungan spesies endemik zona transisi fauna-flora |
| Ekosistem Hutan Pegunungan | Papua & Sekitarnya | Paku-pakuan raksasa, Rhododendron, Anggrek Papua | Pelestarian keanekaragaman hayati hutan bernilai tinggi |
Setiap zona dilengkapi dengan informasi edukatif berbasis digital yang memungkinkan pengunjung memindai kode QR untuk mempelajari status konservasi, nama ilmiah, serta daya guna dari masing-masing tanaman yang dipamerkan. "Pendekatan teknologi ini terbukti mampu menarik minat generasi muda untuk lebih peduli pada isu kelestarian tanaman asli Indonesia," ujar perwakilan kurator Kebun Raya.
Komitmen Konservasi dan Edukasi Publik
Partisipasi Kebun Raya dalam FLOII Expo 2026 menegaskan komitmen panjang lembaga ini dalam lima fungsi utamanya, yakni konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan. Di tengah maraknya tren tanaman hias hibrida internasional, Kebun Raya berupaya mengingatkan publik bahwa spesies tanaman asli Indonesia memiliki nilai estetika dan konservasi yang sangat tinggi.
Pameran FLOII Expo 2026 diharapkan dapat mendongkrak industri florikultura nasional sekaligus memicu kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian ekosistem. Melalui sajian edukatif seperti Mini Ecoregion, Kebun Raya tidak hanya memamerkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan moral bahwa menjaga kelestarian tumbuhan berarti menjaga keberlangsungan masa depan peradaban manusia itu sendiri.
Comments (0)