Jakarta — Analis Bagikan Strategi Investasi Aman bagi Pemula di Pasar Bergejolak

Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak liar dengan koreksi cukup dal

Jul 12, 2026 - 06:45
0 0

Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak liar dengan koreksi cukup dalam, dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang memanaskan aksi jual investor. Kondisi ini kerap membuat investor pemula panik dan kebingungan menentukan langkah. Sejumlah analis pasar modal pun angkat bicara, membagikan strategi investasi yang tepat agar pemula tetap bisa bernapas lega dan justru memanfaatkan momentum.

Pasar Berguncang, Pemula Perlu Pendingin

Ketidakpastian global seperti eskalasi perang dagang, proyeksi perlambatan ekonomi Amerika Serikat, serta fluktuasi harga komoditas turut menyeret IHSG ke zona merah. Investor asing mencatatkan net sell jumbo, sementara rupiah melemah terhadap dolar AS. Bagi investor pemula yang baru menapaki Bursa Efek Indonesia, turbulensi ini bisa menjadi pengalaman pertama yang menguji mental.

“Pasar yang bergejolak bukan berarti waktu yang buruk untuk masuk. Justru ini momen pembelajaran paling berharga soal manajemen emosi dan kedisiplinan strategi,” ujar Andika Pratama, analis senior dari PT Investa Sekuritas, dalam diskusi virtual, Selasa (13/5). Ia menekankan bahwa kunci bertahan adalah memiliki kerangka kerja yang jelas sebelum menempatkan dana.

Strategi Pertama: Terapkan Dollar Cost Averaging

Teknik investasi berkala dengan jumlah tetap—dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA)—disarankan menjadi senjata utama pemula. Dengan menyisihkan nominal sama setiap bulan untuk membeli saham pilihan, investor tidak perlu susah payah melakukan market timing. Saat harga turun, jumlah unit saham yang didapat lebih banyak; saat naik, keuntungan akumulasi bisa dinikmati.

“DCA meredam gejolak psikologis. Pemula cukup disiplin menyetor setiap bulan tanpa peduli IHSG merah atau hijau. Dalam jangka panjang, strategi ini terbukti memberikan imbal hasil optimal,” tambah Andika.

Strategi Kedua: Diversifikasi Cerdas, Bukan Asal Sebar

Diversifikasi kerap disalahartikan sebagai memborong banyak saham tanpa perhitungan. Analis lain, Rina Marlina dari Lembaga Edukasi Keuangan Sahamku, mengingatkan agar pemula membatasi kepemilikan pada 5–7 saham dari sektor yang tidak berkorelasi penuh. Misalnya, kombinasi saham perbankan, konsumsi, telekomunikasi, dan energi baru terbarukan.

“Terlalu banyak saham justru menyulitkan pemantauan. Fokus pada sektor yang tahan banting saat krisis, seperti barang konsumsi primer atau farmasi, bisa jadi tameng portofolio,” tutur Rina. Ia mencontohkan bahwa emiten dengan fundamental kokoh cenderung pulih lebih cepat setelah guncangan.

Strategi Ketiga: Pilih Saham Berfundamental Kuat dan Likuid

Pemula wajib menghindari saham “gorengan” yang pergerakannya manipulatif. Kriteria saham aman, menurut Rina, meliputi:

  • Kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun (emiten besar/blue chip),
  • Pertumbuhan laba bersih konsisten minimal tiga tahun terakhir,
  • Tingkat utang terkendali (debt-to-equity ratio rendah), dan
  • Volume perdagangan harian tinggi agar mudah dijual kembali.

Daftar saham seperti BBCA, TLKM, UNVR, dan ADRO acap menjadi rekomendasi karena likuiditas dan rekam jejak kinerjanya. “Jangan tergiur keuntungan cepat dari saham volatil yang tak jelas bisnisnya. Kerugian pemula paling banyak terjadi karena ikut-ikutan fomo,” tegas Rina.

Strategi Keempat: Jangan Panik, Tetapkan Target dan Batasan

Kepanikan massal sering membuat pemula menjual aset di titik terendah. Andika menyarankan agar setiap investor menetapkan target keuntungan (misalnya 15% per tahun) dan batas kerugian yang bisa diterima sebelum mengambil keputusan. Dengan begitu, keputusan jual atau beli berbasis rencana, bukan emosi sesaat.

“Gunakan aplikasi trading untuk memasang alert harga. Begitu menyentuh level tertentu, Anda tinggal eksekusi tanpa drama. Kedisiplinan ini yang membedakan investor sukses dengan spekulan,” ujar Andika.

Edukasi Berkelanjutan Jadi Pondasi

Selain strategi teknis, pemula diimbau untuk terus menambah literasi keuangan. Banyak platform edukasi gratis dari Bursa Efek Indonesia, sekuritas, dan komunitas yang menyediakan webinar, buku elektronik, serta simulasi trading. Pasar yang bergejolak justru menjadi kelas nyata untuk memahami siklus ekonomi, analisis fundamental, dan teknikal dasar.

Rina menekankan bahwa investasi saham adalah maraton. “Jangan berekspektasi kaya dalam semalam. Disiplin menabung saham setiap bulan, diversifikasi, dan sabar menunggu compounding effect bekerja. Itulah rumus sederhana yang sering diabaikan,” pungkasnya.

Kesimpulan

Pasar saham yang bergejolak bukan alasan untuk mundur bagi investor pemula. Dengan menerapkan strategi investasi berkala, diversifikasi cerdas, seleksi saham berbasis fundamental, serta pengendalian emosi, turbulensi dapat diubah menjadi peluang akumulasi aset murah. Kuncinya terletak pada konsistensi dan kemauan belajar. Di tengah ketidakpastian, pemula yang bersikap rasional justru berpotensi meraih hasil optimal ketika pasar kembali pulih.

[SOCIAL_TWEET]: Pasar saham bergejolak bikin deg-degan? Analis bagikan 4 strategi aman buat investor pemula: terapkan dollar cost averaging, diversifikasi cerdas, pilih saham blue chip, dan jangan panik. Simak tips lengkapnya di sini! #InvestasiPemula #Saham #IHSG [SOCIAL_TG]: 🔥 IHSG bergejolak? Jangan takut! Simak strategi investasi ala analis untuk pemula: 1) Disiplin nabung saham rutin, 2) Diversifikasi di 5-7 saham fundamental, 3) Hindari saham gorengan, 4) Tetapkan target dan batas rugi. Klik untuk baca panduan lengkap! #EdukasiKeuangan

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User