Israel Gempur Lebanon Selatan, Puluhan Serangan Udara Hantam Tyre

Langit Tyre, kota pesisir bersejarah di Lebanon Selatan, kembali membara pada Kamis (28/5/2026) ketika gelombang serangan udara Israel mengguncang wilayah

Jul 13, 2026 - 07:18
0 0
Israel Gempur Lebanon Selatan, Puluhan Serangan Udara Hantam Tyre

Langit Tyre, kota pesisir bersejarah di Lebanon Selatan, kembali membara pada Kamis (28/5/2026) ketika gelombang serangan udara Israel mengguncang wilayah tersebut. Dentuman keras dan kepulan asap tebal mewarnai cakrawala kota yang biasanya tenang, memaksa warga berlarian mencari perlindungan. Seorang fotografer kantor berita AFP, Kawant Haju, mengabadikan momen dramatis saat seorang pekerja kota mengemudikan buldoser membersihkan puing-puing yang berserakan di jalanan pasca-serangan.

Serangan yang dilancarkan pada dini hari hingga menjelang siang itu menargetkan sejumlah titik strategis yang menurut militer Israel merupakan infrastruktur militer kelompok Hizbullah. Namun, warga setempat melaporkan bahwa beberapa proyektil juga jatuh di dekat permukiman penduduk, menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah dan fasilitas umum. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 12 warga sipil mengalami luka-luka dan dua orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan ini.

Di tengah kepanikan, para pekerja kotamadya Tyre bergerak cepat. Dengan buldoser dan peralatan seadanya, mereka membersihkan reruntuhan bangunan yang memblokade jalan utama. Debu tebal bercampur asap masih menyelimuti udara, menciptakan pemandangan yang kontras antara kehidupan sehari-hari dan kekerasan perang yang tiba-tiba menyergap.

Kronologi Serangan

Menurut keterangan saksi mata, serangan dimulai sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Suara jet tempur meraung di atas langit Lebanon Selatan, diikuti oleh rentetan ledakan yang terasa hingga radius beberapa kilometer. Setidaknya 15 serangan udara tercatat dalam kurun waktu tiga jam pertama, menargetkan area pedesaan di sekitar Tyre, termasuk wilayah Al-Qasimia, Burj al-Shamali, dan Rashidiyeh. Militer Israel mengklaim operasi ini merupakan respons terhadap peluncuran roket dari Lebanon Selatan ke wilayah Israel utara sehari sebelumnya.

"Kami terbangun oleh suara ledakan yang sangat keras. Rumah bergetar, kaca jendela pecah. Anak-anak saya menangis histeris. Kami tidak tahu harus lari ke mana karena serangan terjadi di mana-mana," tutur Umm Hassan, seorang ibu tiga anak yang tinggal di pinggiran Tyre, dengan suara bergetar saat ditemui di lokasi pengungsian darurat.

Respons Internasional dan Kekhawatiran Eskalasi

Komunitas internasional bereaksi cepat terhadap eskalasi ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) yang memiliki pos pemantau di Lebanon Selatan, mengeluarkan pernyataan mendesak agar semua pihak menahan diri. Sekretaris Jenderal PBB mengecam serangan yang membahayakan warga sipil dan menyerukan gencatan senjata segera. Sementara itu, Liga Arab menjadwalkan pertemuan darurat untuk membahas situasi terkini.

Para analis keamanan mengkhawatirkan bahwa serangan ini dapat memicu konflik berskala lebih luas antara Israel dan Hizbullah. Kedua pihak sejauh ini masih saling melontarkan ancaman, dengan Hizbullah menyatakan akan memberikan "respons setimpal" sementara Israel menegaskan akan melanjutkan operasi hingga ancaman dari Lebanon Selatan "dinetralisir sepenuhnya".

Dampak Kemanusiaan dan Infrastruktur

Badan-badan kemanusiaan melaporkan bahwa ratusan keluarga terpaksa mengungsi dari desa-desa di Lebanon Selatan menuju Tyre dan kota-kota yang relatif lebih aman. Sekolah-sekolah diliburkan dan dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara. Palang Merah Lebanon mengerahkan tim medis untuk menangani korban dan mendistribusikan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Kerusakan infrastruktur juga signifikan. Jalan-jalan utama terputus, jaringan listrik terganggu, dan beberapa fasilitas air bersih rusak. Otoritas setempat memperkirakan biaya rekonstruksi awal mencapai jutaan dolar, angka yang memberatkan Lebanon yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya.

Sejarah Panjang Konflik di Lebanon Selatan

Wilayah Lebanon Selatan telah menjadi arena pertempuran berulang antara Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Lebanon selama puluhan tahun. Konflik paling dahsyat terjadi pada tahun 2006 ketika perang selama 34 hari menewaskan lebih dari 1.200 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, dan menghancurkan infrastruktur secara masif. Sejak saat itu, meskipun ada periode ketenangan relatif, ketegangan tidak pernah benar-benar reda.

Masyarakat setempat hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Setiap suara pesawat di langit, setiap berita di radio, selalu membawa ingatan akan perang yang bisa meletus kapan saja. Para orang tua bercerita bahwa anak-anak mereka tumbuh dengan kemampuan mengenali suara jet tempur dan membedakan jenis-jenis ledakan—sebuah realitas yang memilukan.

Liputan Media dan Jurnalisme di Zona Konflik

Foto dramatis yang diabadikan oleh Kawant Haju dari AFP menjadi saksi bisu atas ketangguhan warga Tyre di tengah kehancuran. Seorang pekerja kota dengan buldoser membersihkan puing di jalanan—sebuah pemandangan yang menggambarkan kontradiksi antara rutinitas pekerjaan kota dan kondisi darurat perang. Jurnalis yang bertugas di zona konflik seperti ini bekerja dalam risiko tinggi untuk menyampaikan realitas di lapangan kepada dunia.

Organisasi-organisasi jurnalisme internasional mendesak perlindungan bagi wartawan dan pekerja media di zona perang, mengingat meningkatnya jumlah jurnalis yang menjadi korban dalam konflik-konflik global. Kebebasan pers dan akses informasi yang akurat menjadi semakin krusial di tengah era disinformasi dan propaganda perang.

[SOCIAL_TWEET]: Israel kembali menggempur Lebanon Selatan — Tyre bergetar oleh belasan serangan udara. Warga sipil jadi korban, ratusan keluarga mengungsi. Dunia serukan gencatan senjata. #IsraelLebanon #TyreUnderAttack #MiddleEastConflict[SOCIAL_TG]: 💣 Israel gempur Lebanon Selatan — 15+ serangan udara hantam Tyre dan sekitarnya. Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur rusak parah. Warga mengungsi, dunia serukan gencatan senjata. Update selengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User