Sep 22, 2026
Nasional

IRGC Gempur Pangkalan Militer AS di Oman, Yordania, dan Suriah

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di tiga negara

IRGC Gempur Pangkalan Militer AS di Oman, Yordania, dan Suriah

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di tiga negara sekaligus pada Jumat (17/7/2026). Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut target utama adalah instalasi radar dan pos pemantauan yang tersebar di Oman, Yordania, dan Suriah, yang dinilai menjadi mata rantai sistem pertahanan udara AS di kawasan Teluk dan Levant.

Operasi yang dijuluki "Badai Al-Aqsa III" ini disebut sebagai respons atas meningkatnya kehadiran militer AS di sekitar perairan Iran dan dugaan keterlibatan Washington dalam serangan sabotase terhadap fasilitas nuklir Natanz pekan lalu. IRGC Aerospace Force mengerahkan kombinasi drone serang Shahed-191 dan rudal balistik jarak menengah Dezful yang diluncurkan dari pangkalan rahasia di Iran barat. Radar pengawas AN/TPY-2 milik AS yang berada di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, dilaporkan hancur total.

Dampak Strategis dan Kerentanan Radar

Penghancuran radar AN/TPY-2 menjadi pukulan telak bagi arsitektur pertahanan rudal AS di Timur Tengah. Radar ini merupakan komponen krusial sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang bertugas mendeteksi dan melacak rudal balistik musuh. Tanpa radar ini, jangkauan deteksi dini AS di sektor utara Semenanjung Arab berkurang hingga 40 persen, menciptakan celah yang dapat dimanfaatkan poros perlawanan pimpinan Iran.

"Serangan ini menunjukkan bahwa Iran memiliki kapasitas pengintaian dan presisi tinggi untuk menonaktifkan aset militer AS tanpa perlu memicu konfrontasi langsung berskala penuh," ujar analis keamanan Timur Tengah dari Geneva Centre for Security Policy, Dr. Arslan Ahmed, dalam wawancara eksklusif dengan Beritatercepat.com.

Sementara itu, dua fasilitas di Suriah yang diserang adalah pos pemantauan di At-Tanf, dekat perbatasan Irak, dan stasiun komunikasi di Rmelan, timur laut negara itu. IRGC menyebut pos-pos ini digunakan AS untuk mengoordinasikan operasi melawan milisi sekutu Iran di Deir ez-Zor. Di Oman, targetnya adalah stasiun pengumpul sinyal intelijen (SIGINT) yang berada di Pulau Masirah, sebuah lokasi yang selama ini dirahasiakan keberadaannya oleh Pentagon.

Reaksi Global dan Eskalasi Terukur

Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun sumber internal menyebut Presiden AS tengah berkonsultasi dengan Menteri Pertahanan untuk merumuskan respons. Diperkirakan Washington akan memperkuat sistem Patriot di pangkalan-pangkalan sekutunya tanpa langsung menyerang wilayah Iran, sebuah pola yang disebut "measured escalation" yang sudah berlangsung sejak 2024.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent langsung melonjak 2,7 persen ke level $96,5 per barel dalam perdagangan elektronik pasca-pengumuman IRGC. Pasar khawatir konflik meluas ke Selat Hormuz yang merupakan jalur transit 20 persen pasokan minyak dunia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab segera mengaktifkan protokol darurat energi sambil menyerukan diplomasi maritim baru.

Analis menilai langkah Iran ini adalah pesan simbolis dan teknis sekaligus: menunjukkan kemampuan presisi tinggi tanpa menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. "Mereka ingin mengubah persepsi bahwa AS kebal terhadap serangan," ujar Prof. Lina Khatib dari Chatham House. "Dengan menghindari eskalasi manusia, Iran menciptakan dilema bagi Washington—antara tampil lemah atau memulai perang yang tidak diinginkan."

Konteks Historis dan Motif di Balik Serangan

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat tajam sejak Washington secara sepihak keluar dari JCPOA dan menerapkan sanksi maksimum. Namun serangan langsung ke pangkalan militer AS di luar wilayah konflik tradisional seperti Irak atau Suriah utara menjadi babak baru. Oman yang dikenal sebagai mediator netral Timur Tengah kini terseret dalam pusaran, mengancam peran diplomatik kesultanan tersebut.

IRGC menegaskan operasi ini sepenuhnya legal berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB sebagai tindakan pembelaan diri terhadap ancaman langsung. Mereka juga merilis rekaman drone yang menunjukkan lintasan rudal menghantam target dengan deviasi kurang dari lima meter—sebuah pencapaian teknologi yang mengejutkan banyak pengamat militer Barat.

PBB melalui Sekretaris Jenderal menyerukan "pengekangan diri maksimal" dan mengusulkan zona de-eskalasi di sepanjang perbatasan Yordania-Suriah. Rusia dan Tiongkok mendorong pertemuan darurat Dewan Keamanan, sementara Uni Eropa mengaktifkan kembali saluran komunikasi krisis yang sempat dibekukan sejak invasi Ukraina 2022.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan korban jiwa dari pihak AS maupun sekutu. Kerugian material diperkirakan mencapai $320 juta berdasarkan data awal dari perusahaan asuransi pertahanan Lloyd's. Sementara itu, IRGC memperingatkan akan ada "fase berikutnya" jika aset AS tidak segera ditarik dari wilayah yang diklaim sebagai zona pertahanan strategis Iran sejauh 2.000 km dari perbatasannya.

[SOCIAL_TWEET]: BREAKING: IRGC bombardir fasilitas radar AS di Oman, Yordania, dan Suriah. Radar THAAD hancur, harga minyak melonjak. #Iran #TimurTengah #Geopolitik[SOCIAL_TG]: ❗️ Iran gempur pangkalan militer AS di Oman, Yordania & Suriah. Radar canggih THAAD hancur total. Harga minyak naik ke $96,5/barel. Klik baca dampaknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User