Monday, 24 August 2026 | 17:31 WIB

Iran Tegaskan Pasukan Asing Harus Pergi dari Timur Tengah

TEHRAN — Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa ketiadaan intervensi asing merupakan kunci utama terciptanya stabil

Aug 11, 2026 - 04:25
0 1
Iran Tegaskan Pasukan Asing Harus Pergi dari Timur Tengah

TEHRAN — Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa ketiadaan intervensi asing merupakan kunci utama terciptanya stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini kembali memperkuat sikap konsisten Tehran yang menuntut seluruh pasukan asing, khususnya Amerika Serikat, untuk angkat kaki dari kawasan yang telah puluhan tahun dilanda konflik tersebut.

Velayati menyampaikan pandangan itu di tengah meningkatnya kembali perhatian dunia terhadap dinamika keamanan Timur Tengah, mulai dari konflik di Suriah, ketegangan di Irak, hingga rivalitas berkepanjangan antara Iran dan negara-negara Barat. Menurutnya, kehadiran kekuatan militer dari luar kawasan justru menjadi akar persoalan, bukan solusi atas berbagai krisis yang terjadi.

Pernyataan Tegas Velayati

Dalam pernyataannya, Velayati menekankan bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki kemampuan dan kedaulatan untuk mengelola urusan keamanan mereka sendiri tanpa campur tangan pihak eksternal. Ia menilai intervensi asing selama ini hanya memperpanjang konflik, memicu perlombaan senjata, dan menciptakan ketergantungan keamanan yang tidak sehat bagi negara-negara regional.

Sosok Velayati bukanlah figur sembarangan dalam struktur kekuasaan Iran. Ia merupakan penasihat urusan internasional Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Iran selama 16 tahun (1981–1997), menjadikannya salah satu diplomat paling berpengalaman di negeri itu. Pernyataannya kerap mencerminkan garis kebijakan resmi Tehran.

Kehadiran Militer Asing di Timur Tengah

Kawasan Timur Tengah hingga kini menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi pasukan asing terbesar di dunia. Amerika Serikat mempertahankan kehadiran militer di sejumlah negara, antara lain:

  1. Irak — sekitar 2.500 personel dengan dalih misi penasihat dan pelatihan melawan sisa-sisa ISIS.
  2. Suriah — ratusan pasukan di wilayah timur dengan alasan pengamanan ladang minyak dan pencegahan kebangkitan kelompok ekstremis.
  3. Qatar — Pangkalan Udara Al Udeid, markas terbesar AS di kawasan sekaligus pusat komando operasi udara.
  4. Bahrain — markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang mengawasi perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
  5. Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania — ribuan personel tambahan beserta sistem pertahanan udara.

Bagi Tehran, kehadiran pasukan-pasukan tersebut merupakan bentuk intervensi yang merusak keseimbangan kekuatan regional dan mengancam keamanan nasional Iran secara langsung.

Kronologi Desakan Penarikan Pasukan Asing

Tuntutan agar pasukan asing meninggalkan Timur Tengah bukanlah hal baru. Berikut rangkaian momen penting yang melatarbelakangi sikap Iran:

  1. 2003 — Invasi AS ke Irak menggulingkan Saddam Hussein dan membuka babak baru kehadiran militer Barat di perbatasan Iran.
  2. 2011 — AS menarik sebagian besar pasukan dari Irak, namun kembali pada 2014 dengan alasan memerangi ISIS.
  3. Januari 2020 — Jenderal Iran Qassem Soleimani tewas dalam serangan drone AS di Baghdad, memicu kemarahan Tehran dan desakan penarikan pasukan AS.
  4. Januari 2020 — Parlemen Irak mengeluarkan resolusi yang meminta pemerintah mengakhiri kehadiran pasukan asing di wilayahnya.
  5. Agustus 2021 — Penarikan pasukan AS dari Afghanistan memperkuat narasi Iran bahwa kehadiran militer Barat pada akhirnya selalu berakhir dengan kegagalan.
  6. Kini — Velayati kembali menegaskan tuntutan penarikan pasukan asing sebagai syarat stabilitas kawasan.

Implikasi bagi Stabilitas Kawasan

Pernyataan Velayati mencerminkan visi Iran tentang tatanan keamanan regional yang dikelola oleh negara-negara kawasan itu sendiri. Tehran berulang kali mengusulkan dialog keamanan regional tanpa keterlibatan kekuatan eksternal, meski gagasan itu mendapat sambutan dingin dari negara-negara Teluk yang justru memandang kehadiran AS sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Iran.

Analis menilai seruan semacam ini akan terus bergaung selama ketegangan antara Iran dan Barat belum menemukan titik temu, terutama menyangkut program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan jaringan kelompok sekutu Tehran di Irak, Suriah, Lebanon, serta Yaman. Di sisi lain, Washington bersikeras kehadiran militernya diperlukan untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan melindungi kepentingan sekutunya.

Dengan demikian, pernyataan Velayati bukan sekadar retorika, melainkan penegasan kembali doktrin keamanan Iran: Timur Tengah untuk bangsa-bangsa Timur Tengah. Namun, selama mistrust antara Tehran dan Washington masih mengakar, tuntutan penarikan pasukan asing kemungkinan besar akan tetap menjadi wacana tanpa realisasi nyata dalam waktu dekat.

[SOCIAL_TWEET]: Iran tegaskan pasukan asing harus angkat kaki dari Timur Tengah. Penasihat Khamenei, Ali Akbar Velayati: stabilitas kawasan hanya mungkin tanpa intervensi asing. 🇮🇷🌍 #Iran #TimurTengah #Geopolitik [SOCIAL_TG]: 🔴 Iran: Pasukan Asing Harus Pergi dari Timur Tengah Penasihat Senior Khamenei, Ali Akbar Velayati, menyebut ketiadaan intervensi asing sebagai kunci stabilitas kawasan. Tehran menuntut AS menarik pasukannya dari Irak, Suriah, Qatar, hingga Bahrain. Baca selengkapnya di Beritatercepat.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User