Posisi politik Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada dalam ancaman serius setelah gelombang kemarahan publik atas skandal pesta Natal di Downing Street berdampak langsung pada elektabilitas partainya. Berdasarkan survei terbaru yang dirilis oleh Times/YouGov, dukungan terhadap Partai Konservatif (Tories) merosot tajam, melemparkan partai berkuasa tersebut ke tingkat elektabilitas terendah dalam hampir satu tahun terakhir.
Dalam jajak pendapat yang melibatkan 1.686 orang dewasa di seluruh Britania Raya pada 8 hingga 9 Desember tersebut, elektabilitas Partai Konservatif anjlok menjadi 33 persen, turun tiga poin persentase dibandingkan pekan sebelumnya. Sebaliknya, Partai Buruh (Labour Party) yang menjadi oposisi utama justru melonjak ke angka 37 persen, naik empat poin dan memimpin persaingan politik nasional dengan selisih yang sangat signifikan.
Kepercayaan Publik Anjlok akibat Standar Ganda
Hasil jajak pendapat ini mencatatkan performa terburuk bagi Partai Konservatif dalam 11 bulan terakhir. Sementara itu, keunggulan empat poin yang diraih Partai Buruh merupakan capaian tertinggi mereka sejak Januari. Para pengamat politik menilai penurunan drastis ini sebagai cerminan langsung dari kejengkolan masyarakat Inggris terhadap indikasi standar ganda yang ditunjukkan oleh jajaran pejabat tinggi pemerintah.
Skandal ini memuncak setelah beredarnya rekaman video rahasia yang memperlihatkan para staf senior Downing Street sedang bercanda dan tertawa mengenai sebuah acara yang diduga kuat merupakan pesta Natal. Acara tersebut disinyalir digelar pada 18 Desember 2020, sebuah periode di mana masyarakat Inggris sedang berada di bawah pembatasan ketat tingkat Tier 3 akibat lonjakan kasus COVID-19.
"Masyarakat Inggris telah melakukan pengorbanan yang sangat luar biasa selama masa karantina wilayah. Melihat para pejabat tinggi di pusat pemerintahan justru melanggar aturan dan menjadikannya bahan lelucon adalah sebuah pukulan telak bagi moral publik," ungkap seorang analis politik senior di London.
Video Bocor dan Pengunduran Diri Pejabat Senior
Kebocoran video tersebut memicu gelombang kekecewaan masif karena pada waktu yang sama tahun lalu, jutaan warga Inggris dilarang keras menemui sanak saudara, merayakan Natal bersama keluarga, bahkan mendampingi kerabat yang sedang sakratulmaut di rumah sakit. Kontras yang menonjol ini memicu kecaman keras dari berbagai lapisan masyarakat maupun kalangan internal parlemen.
Dampak politik dari skandal ini berkembang sangat cepat. Penasihat senior Perdana Menteri, Allegra Stratton, terpaksa mengajukan pengunduran diri secara emosional dan berlinang air mata setelah video yang menampilkan dirinya sedang bercanda tentang pesta tersebut tersebar luas di media massa.
Di hadapan Majelis Rendah (House of Commons), Perdana Menteri Boris Johnson akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik atas kegaduhan yang terjadi. Johnson mengaku sangat marah saat melihat rekaman tersebut dan menegaskan telah memerintahkan penyelidikan internal untuk mengusut tuntas apakah ada aturan protokol kesehatan yang dilanggar secara resmi dalam lingkaran dalam istana.
Poin Kunci Krisis Politik Downing Street
Berikut adalah poin-poin penting yang memicu krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Boris Johnson:
- Penurunan Elektabilitas: Partai Konservatif merosot ke angka 33%, sementara Partai Buruh memimpin dengan 37%.
- Skandal Pesta Masa Lockdown: Acara dugaan pesta Natal digelar pada 18 Desember 2020 saat aturan ketat Tier 3 berlaku nasional.
- Pengunduran Diri Pejabat: Juru bicara dan penasihat senior Allegra Stratton mengundurkan diri akibat keterlibatannya dalam rekaman video lelucon pesta.
- Penyelidikan Internal: Penyelidikan independen dan internal diperintahkan untuk menguji kepatuhan terhadap aturan COVID-19 di lingkungan pemerintahan.
Krisis kepemimpinan ini diperkirakan akan memberikan tekanan berat bagi stabilitas politik Partai Konservatif menjelang pemilu mendatang, sekaligus memperkuat posisi Partai Buruh di bawah kepemimpinan Keir Starmer yang terus mencecar kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi dan transparansi publik.
Comments (0)