Sep 19, 2026
Hukum

HERAT — Ribuan Pengungsi Afghanistan Pulang dari Iran Akibat Krisis Ekonomi

Debu membumbung tinggi di gerbang perbatasan Islam Qala, Provinsi Herat. Di antara hilir mudik kendaraan berat dan tiupan angin gurun yang dingin, ribuan w

HERAT — Ribuan Pengungsi Afghanistan Pulang dari Iran Akibat Krisis Ekonomi

Debu membumbung tinggi di gerbang perbatasan Islam Qala, Provinsi Herat. Di antara hilir mudik kendaraan berat dan tiupan angin gurun yang dingin, ribuan warga Afghanistan berjalan kaki memboyong tas-tas lusuh berisi sisa-sisa kehidupan mereka. Salah satunya adalah Mohammad Saeed. Pemuda yang baru berusia 18 tahun saat melarikan diri dari rezim Taliban pada 2021 itu, kini harus menelan pil pahit: melangkah kembali ke tanah air yang sempat ia tinggalkan, setelah ekonomi negara tempatnya beralih peruntungan, Iran, hancur dihantam krisis geopolitik.

Keluarga Saeed kembali ke Afghanistan hampir dengan tangan hampa. Tabungan yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun di Iran menguap begitu saja seiring jatuhnya nilai tukar mata uang rial. Depresiasi parah akibat memanasnya ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel telah mengikis daya beli masyarakat hingga ke titik nadir.

"Mata uang Iran jatuh begitu tajam. Tabungan keluarga kami yang disimpan dalam mata uang rial kehilangan lebih dari dua pertiga nilainya hanya dalam waktu singkat," ujar Saeed dengan nada getir saat melintasi pos perbatasan.

Dari Suaka Ekonomi Menuju Ketidakpastian Baru

Selama berdekade-dekade, Iran yang memiliki skala ekonomi jauh lebih besar dan terindustrialisasi menjadi benteng perlindungan utama bagi warga Afghanistan. Negara tetangga tersebut menjadi tujuan utama untuk melarikan diri dari kemiskinan ekstrem serta rezim keras Taliban—baik pada era 1990-an maupun pasca-penarikan pasukan sekutu pada tahun 2021. Namun, eskalasi konflik militer dan sanksi internasional terbaru telah mengubah suaka tersebut menjadi medan krisis ekonomi yang tak lagi menampung mereka.

Untuk menggambarkan seberapa parah pergeseran kondisi yang dialami para pengungsi, berikut adalah gambaran komparatif situasi yang dihadapi warga migran Afghanistan saat ini:

Indikator Utama Kondisi di Iran (Saat Ini) Kondisi di Afghanistan (Taliban)
Stabilitas Ekonomi Hiperinflasi & kejatuhan mata uang Rial Ekonomi stagnan & keterbatasan lapangan kerja
Hak dan Kebebasan Wanita Akses pendidikan & kerja relatif terbuka Pembatasan ketat pada pendidikan, kerja, dan perjalanan
Faktor Pendorong Migrasi Melarikan diri dari krisis ekonomi & konflik Terpaksa pulang karena tidak ada pilihan bertahan hidup

Dilema Berat: Menghadapi Restriksi Ketat Taliban

Keputusan untuk pulang ke Afghanistan bukanlah pilihan yang mudah, terutama bagi mereka yang memboyong istri dan anak perempuan. Di bawah kepemimpinan Taliban, hak-hak perempuan mengalami pembatasan luar biasa. Akses terhadap pendidikan menengah dan tinggi ditutup rapat, kesempatan kerja di berbagai sektor dipangkas, serta aturan ketat mengenai perjalanan tanpa pendamping pria terus diberlakukan secara ketat di seluruh negeri.

"Kembali ke bawah kekuasaan Taliban adalah mimpi buruk bagi masa depan anak-anak perempuan kami, tetapi bertahan di Iran saat tidak ada lagi pekerjaan dan makanan adalah hukuman mati yang lambat," ungkap salah satu warga migran lainnya di perbatasan Herat.

Fenomena eksodus balik ini menegaskan betapa krisis geopolitik di Timur Tengah kini memicu efek domino yang menghantam kelompok paling rentan. Bagi puluhan ribu warga Afghanistan yang kini melintasi perbatasan Herat, pilihan yang tersisa hanyalah pasrah dan berusaha bertahan di tengah ketidakpastian masa depan tanah air mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User