Harga Minyak Tembus US$84 Barel Pasca Blokade Hormuz oleh Trump
Harga minyak mentah acuan global melonjak tajam ke level US$84 per barel pada Selasa pagi (14/7), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan
Harga minyak mentah acuan global melonjak tajam ke level US$84 per barel pada Selasa pagi (14/7), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade militer terhadap Selat Hormuz. Kenaikan ini menandai lompatan lebih dari 5% dalam waktu kurang dari 24 jam, memicu kepanikan di pasar energi internasional.
Kronologi Blokade Selat Hormuz
Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat drastis sejak akhir pekan lalu. Berikut urutan peristiwa penting berdasarkan sumber intelijen dan pernyataan resmi kedua negara:
- Jumat (10/7): Iran mengumumkan pengayaan uranium hingga 90% di fasilitas Fordow, memicu kecaman keras dari Washington.
- Sabtu (11/7): Trump, melalui Twitter, memberi ultimatum 48 jam agar Iran menghentikan program nuklirnya.
- Minggu (12/7): Kapal perusak USS Arleigh Burke dan USS John S. McCain dikerahkan ke Laut Arab, mendekati perairan teritorial Iran.
- Senin (13/7): Pukul 18.00 waktu setempat, Trump mengumumkan "Operational Blockade" terhadap Selat Hormuz, melarang seluruh kapal tanker berlayar ke dan dari Iran tanpa inspeksi militer AS.
- Selasa (14/7) pukul 02.30 WIB: Iran membalas dengan peringatan bahwa setiap tindakan koersif akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan dan akan direspons secara proporsional.
- Pukul 07.00 WIB: Harga minyak Brent menyentuh US$84,10 per barel, sementara WTI AS naik ke US$80,15.
Pasar Minyak Global Bergejolak
Selat Hormuz merupakan chokepoint penting yang dilalui sekitar 21 juta barel minyak per hari, atau setara 21% dari konsumsi minyak global. Penutupan penuh selat ini berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan mengirim harga ke level krisis.
"Pasar langsung dalam mode risk-on begitu pengumuman blokade keluar. Ini adalah eskalasi paling berbahaya sejak krisis Iranian hostage tahun 1979," kata Dr. Fatima Al-Rashid, kepala analis energi di Gulf Intelligence. "Jika selat benar-benar ditutup, US$100 per barel hanyalah soal waktu."
Bank investasi Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak kuartal ketiga dari US$78 menjadi US$92 per barel, sembari mencatat bahwa cadangan strategis AS hanya mampu menutupi kekurangan pasokan selama 30 hari.
| Jenis | Harga (US$/barel) | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent Crude | 84,10 | +5,4% |
| WTI | 80,15 | +6,1% |
| OPEC Basket | 81,90 | +4,8% |
Dampak ke Indonesia
Kenaikan harga minyak langsung memukul anggaran energi Indonesia. Harga minyak Indonesia (ICP) yang mengacu pada Brent diperkirakan menembus US$82 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang ditetapkan US$65 per barel. Konsekuensinya:
- Subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp180 triliun jika harga bertahan di atas US$80 sepanjang semester kedua.
- Harga BBM nonsubsidi kemungkinan naik 15–20% dalam dua pekan mendatang.
- Rupiah tertekan ke level Rp16.350 per dolar AS akibat impor minyak yang lebih mahal.
- Inflasi diproyeksikan naik dari 3,5% menjadi 4,8% year-on-year, mendorong Bank Indonesia mempertimbangkan kenaikan suku bunga darurat.
"Kita sedang menyimulasikan skenario terburuk, di mana ICP rata-rata tahun ini bisa menyentuh US$85. APBN Perubahan mungkin sudah harus disiapkan mulai Agustus,"ujar Yudha Prawira, ekonom senior Indef.
Respons Internasional dan Diplomasi
China, sebagai importir minyak Iran terbesar, mengecam blokade sepihak AS dan menyerukan dialog multilateral. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan "keprihatinan mendalam" dan meminta jaminan keselamatan pelayaran internasional. OPEC+ dikabarkan akan menggelar pertemuan darurat akhir minggu ini untuk membahas kemungkinan pelepas cadangan produksi tambahan.
Sementara itu, harga emas sebagai aset safe haven juga ikut naik ke US$2.150 per ounce, dan indeks saham global kompak memerah dengan Dow Jones anjlok 2,3% pada penutupan Senin malam waktu New York.
Comments (0)