BMKG: Separuh Indonesia Masuki Musim Kemarau dengan Curah Hujan Rendah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau dengan curah hu

Jul 14, 2026 - 10:59
0 0
BMKG: Separuh Indonesia Masuki Musim Kemarau dengan Curah Hujan Rendah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau dengan curah hujan yang sangat rendah. Kondisi ini diperkirakan akan semakin parah akibat menguatnya fenomena El Niño yang masih berlangsung di Samudra Pasifik. BMKG mencatat sejumlah provinsi—terutama di selatan ekuator—sudah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut selama dua hingga tiga dasarian, menandai transisi kering yang lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam pemantauan terbaru, BMKG menyebutkan bahwa lebih dari 45% wilayah zona musim (ZOM) di Tanah Air telah resmi masuk kategori musim kemarau. Curah hujan di zona-zona tersebut berada di bawah 40 milimeter per dasarian, terutama di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, sebagian Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

El Niño Kembali Perburuk Musim Kering Indonesia

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, yang diwawancarai awal pekan ini, menyatakan bahwa fenomena El Niño Modoki yang sedang aktif berpotensi mengurangi pasokan uap air dari Samudra Pasifik. “Indeks Niño 3.4 saat ini berada di +1,2 derajat Celsius dan kami memprediksi akan bertahan hingga akhir tahun, sehingga curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia dapat menurun 20–30 persen dari normal,” ujarnya.

“Kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi, terutama dalam mengelola ketersediaan air bersih dan mencegah kebakaran hutan,” kata Kepala BMKG.

Sejalan dengan itu, data satelit cuaca menunjukkan anomali suhu muka laut yang hangat di Pasifik timur, sehingga angin timuran yang membawa massa udara kering dari Australia semakin dominan masuk ke Indonesia. Akibatnya, sejumlah daerah yang biasanya masih mendapat hujan di awal musim kemarau justru mengalami kekeringan dini.

Dampak pada Pertanian, Sumber Air, dan Lingkungan

Musim kemarau tahun ini menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian. Areal sawah tadah hujan di Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan mulai melaporkan penurunan kelembaban tanah hingga di bawah 50% kapasitas lapang. Petani di Kabupaten Sragen, misalnya, harus memompa air dari sumur artesis yang mulai mengering lebih cepat dari biasanya.

Selain pertanian, krisis air bersih juga mulai melanda beberapa kabupaten. BPBD mencatat sedikitnya 15 daerah di Jawa dan Nusa Tenggara sudah mengajukan permintaan air bersih tambahan. Untuk memetakan tingkat kerentanan, tabel berikut menyajikan situasi terkini di empat provinsi yang paling terpengaruh:

ProvinsiHari Tanpa HujanPenurunan Curah HujanStatus Peringatan
Nusa Tenggara Timur>60 hari35% di bawah normalAwas
Jawa Timur45–55 hari28% di bawah normalSiaga
Sulawesi Selatan40–50 hari25% di bawah normalSiaga
Jawa Tengah (selatan)30–40 hari20% di bawah normalWaspada

BMKG juga menekankan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat seiring kehadiran El Niño. Lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan yang mulai mengering rawan menjadi titik api baru. Satelit Terra dan Aqua telah mendeteksi peningkatan hotspot sebesar 15% dalam dua minggu terakhir dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Langkah Antisipasi dan Rekomendasi BMKG

Menghadapi situasi ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi:

  • Masyarakat: hemat air, tampung air hujan bila masih ada hujan ringan, dan pantau informasi cuaca harian melalui kanal resmi BMKG.
  • Petani: sesuaikan jadwal tanam dengan hasil analisis iklim; gunakan varietas padi tahan kering dan terapkan irigasi tetes jika memungkinkan.
  • Pemerintah daerah: segera siapkan buffer stock air bersih, lakukan operasi modifikasi cuaca pada lokasi strategis, dan tingkatkan patroli karhutla.
  • Sektor kesehatan: waspadai penyakit terkait kekeringan seperti dehidrasi dan ISPA akibat debu.

Dengan fenomena El Niño yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun, BMKG meminta semua pihak tidak panik tetapi tetap waspada. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk dengan Kementerian Pertanian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, terus dilakukan untuk meminimalisir dampak musim kemarau yang lebih kering dari biasanya ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User