Gempa Tektonik M5,6 Guncang Laut Sulawesi, Warga Sangihe Rasakan Getaran Skala IV
BARU SAJA — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang perairan Laut Sulawesi pagi ini, getaran kuatnya menyebar hingga ke Kepulauan Sangihe dengan skala intensitas IV MMI. Badan Mete...
BARU SAJA — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang perairan Laut Sulawesi pagi ini, getaran kuatnya menyebar hingga ke Kepulauan Sangihe dengan skala intensitas IV MMI. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung merilis peringatan dini dan menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Kronologi dan Dampak Gempa
Menurut data sementara BMKG, episenter gempa berada di koordinat 4.50 Lintang Utara dan 124.60 Bujur Timur, sekitar 87 kilometer barat daya Tahuna, ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kedalaman hiposenter tercatat hanya 12 kilometer, menjadikannya gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng di jalur gempa Sangihe. Guncangan terjadi pada pukul 07.23 WITA dan berlangsung sekitar 7–10 detik berdasarkan laporan warga.
Skala intensitas IV MMI yang dirasakan di Sangihe ditandai dengan getaran yang cukup keras, benda-benda ringan bergoyang, jendela dan pintu berderak, serta kendaraan yang terparkir ikut bergerak. Sejumlah saksi mata menuturkan bahwa mereka langsung berhamburan keluar rumah saat guncangan terjadi. Ibu Maria, warga Kelurahan Sawang Bendar, mengaku panik saat langit rumahnya berguncang hebat. “Saya lagi masak air, tiba-tiba rumah goyang. Langsung teriak gempa dan lari ke jalan,” ujarnya.
Di pusat kota Tahuna, para pekerja dan pedagang di Pasar Beringin sempat berlarian menyelamatkan diri. Beberapa lapak dagangan dilaporkan berjatuhan, namun tidak ada korban luka. Listrik di beberapa titik sempat padam sesaat, namun segera pulih. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan bangunan serius atau korban jiwa.
Respon Cepat dan Peringatan Dini
Sistem peringatan dini tsunami otomatis BMKG langsung mengolah data parameter gempa. Hasil analisis menunjukkan tekanan di dasar laut tidak memicu anomali permukaan air, sehingga potensi tsunami dinyatakan nihil. Seluruh stasiun pasang surut di pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara tidak merekam perubahan signifikan. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Rudy Teguh, dalam keterangan persnya menekankan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ancaman tsunami.
Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sangihe langsung dikerahkan untuk melakukan asesmen di titik-titik terdampak. Koordinasi dengan perangkat kecamatan dan desa dilakukan untuk memastikan keselamatan warga, terutama di pesisir dan lereng perbukitan. Situs InfoBMKG dan aplikasi seluler mereka menyediakan pembaruan langsung agar informasi tetap akurat dan cepat diterima publik.
Kesiapsiagaan dan Himbauan
Gempa ini kembali menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di kawasan Kepulauan Sangihe yang berada di jalur subduksi aktif. Aktivitas seismik di wilayah ini bukan kali pertama tahun ini; seismograf BMKG beberapa kali mencatat gempa-gempa kecil yang sering tidak dirasakan. Pihak berwenang mengimbau warga untuk selalu memperkuat konstruksi rumah, mengikuti pelatihan evakuasi, dan menyediakan tas siaga bencana.
BMKG juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. “Pastikan semua update hanya dari kanal resmi kami,” tegas Dr. Rudy. Saat ini situasi di Kepulauan Sangihe berangsur kondusif. Aktivitas warga perlahan kembali normal, dan pihak berwenang terus memonitor perkembangan kegempaan susulan yang mungkin terjadi.
Baca juga:
Comments (0)