Eufrat dan Tigris Kering, 60 Juta Jiwa Terancam Perubahan Iklim

Baghdad – Dua urat nadi peradaban Timur Tengah, Sungai Eufrat dan Tigris, berada di ambang kematian. Data satelit terbaru menunjukkan debit kedua sungai le

Jul 12, 2026 - 00:46
0 0

Baghdad – Dua urat nadi peradaban Timur Tengah, Sungai Eufrat dan Tigris, berada di ambang kematian. Data satelit terbaru menunjukkan debit kedua sungai legendaris tersebut turun hingga lebih dari 40 persen dibanding rerata historis. Sekitar 60 juta penduduk di Irak, Suriah, Turki, dan Iran kini menghadapi ancaman krisis air paling parah dalam ribuan tahun. Ironisnya, fenomena ini sejalan dengan peringatan Rasulullah SAW yang telah disampaikan 14 abad silam.

Awal Mula dan Kronologi Degradasi Sungai

Kemunduran Eufrat dan Tigris bukan peristiwa tiba-tiba. Sejak awal abad ke-21, pencairan salju di Pegunungan Taurus dan Zagros yang menjadi hulu kedua sungai terus menyusut akibat pemanasan global. Pada 2020, curah hujan di lembah Mesopotamia anjlok 30 persen. Kekeringan berturut-turut membuat permukaan air danau-danau penyangga seperti Tharthar dan Habbaniyah menyusut hingga 70 persen.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 2025 memperkuat temuan: suhu udara di kawasan itu naik 1,8 derajat Celsius lebih cepat dari rata-rata global. Penguapan semakin tinggi, sementara aliran masuk dari hulu kian seret. Di saat yang sama, proyek bendungan raksasa seperti Ilisu di Turki telah menahan sepertiga pasokan air Tigris. Efek domino pun terjadi: intrusi air laut Teluk Persia ke selatan Irak merusak lahan pertanian, memicu eksodus massal, dan melahirkan konflik antarkomunitas.

Perbandingan Debit Air Sebelum dan Setelah Krisis
IndikatorKondisi Normal (1995–2005)Kondisi Kritis (2020–2026)
Debit Eufrat di Hit35 miliar m3/tahun12 miliar m3/tahun
Debit Tigris di Kut22 miliar m3/tahun8 miliar m3/tahun
Lahan Pertanian Irak8,7 juta hektar3,2 juta hektar

Faktor Pemicu: Cuaca Ekstrem dan Manajemen Air

Pakar hidrologi dari Universitas Baghdad, Dr. Alaa Al-Shami, menilai penyebab utama adalah perubahan pola musim. “Kami mencatat tidak ada musim hujan yang benar-benar basah sejak 2019. Salju di Taurus meleleh terlalu cepat, sehingga air terbuang dan tak sempat meresap tanah. Ditambah lagi bendungan hulu yang minim koordinasi, ekosistem sungai runtuh dari dua sisi,” ujarnya.

Sementara itu, pembangunan PLTA di Turki dan Suriah telah memblokade aliran ke hilir. Irak yang berada di ujung aliran menjadi pihak paling merugi—ketergantungannya pada Eufrat dan Tigris mencapai 98 persen suplai air bersih. Ironisnya, kelimpahan air justru menjadi rebutan: pertempuran kecil antardesa mencuat di Anbar dan Diyala setelah irigasi tak lagi berfungsi.

Peringatan Rasulullah SAW yang Kembali Menggema

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat hingga tanah Arab kembali menjadi padang rumput dan dialiri sungai-sungai.” Uraian itu diperkuat riwayat lain yang menyebutkan keringnya Eufrat sebagai tanda akhir zaman. Meski tidak memberi korelasi langsung, umat Islam melihatnya sebagai renungan spiritual bahwa keseimbangan alam adalah amanah ilahi—perusakan lingkungan termasuk dosa besar.

Bagi penduduk Irak, sungai bukan sekadar air. Dalam Kitab Kejadian, Eufrat dan Tigris adalah dua dari empat sungai yang mengalir dari Taman Eden. Peradaban Sumeria, Babilonia, dan Abbasiyah lahir di pinggirnya. Kini perahu penangkap ikan hanya diam di lumpur, sawah berubah gurun, dan anak-anak di kota seperti Basrah harus mengantre air bersih yang disuplai truk tangki. “Kami hidup di atas sungai, tapi mati kehausan,” kata Mahmoud, petani tua di Shatt al-Arab.

Respons Dunia dan Upaya Mitigasi

Pemerintah Irak bersama Uni Eropa telah menggelontorkan dana darurat USD 1,2 miliar untuk instalasi desalinasi dan revitalisasi irigasi tetes. Bank Dunia mendorong perjanjian air lintas negara antara Turki, Suriah dan Irak, namun perundingan sering mandek akibat konflik geopolitik. Sementara itu, sejumlah LSM internasional menyalurkan bantuan pangan dan alat penyuling air portable ke kamp-kamp pengungsi iklim yang tumbuh di pinggiran Baghdad.

Di tataran global, COP 35 di Kairo menempatkan krisis sungai Tigris-Eufrat sebagai agenda prioritas. Kesepakatan pendanaan iklim sebesar USD 4 miliar disahkan untuk merehabilitasi bendungan tua dan memperkenalkan teknologi cloud seeding. Namun, para aktivis menilai upaya tersebut terlambat: “Kita sedang menyaksikan ajal dua sungai yang dulu melahirkan peradaban. Jika Eufrat dan Tigris mati, bukan cuma air yang hilang, tapi identitas jutaan manusia,” desak Nadia Murad, peraih Nobel Perdamaian asal Irak.

Krisis ini menjadi pengingat telak bagi umat manusia: alam tidak bisa dinegosiasikan. Saat teknologi mengubah segalanya, pelajaran dari hadis dan sejarah menyatukan suara—menjaga aliran sungai adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

[SOCIAL_TWEET]: Dua sungai bersejarah, Eufrat dan Tigris, terancam kering. 60 juta jiwa terdampak. Rasulullah SAW telah mengingatkan hal ini berabad-abad lalu. #KrisisAir #EufratTigris #PerubahanIklim [SOCIAL_TG]: 💧 Sungai Eufrat & Tigris terancam kering! 60 juta jiwa dalam bahaya. Ini peringatan Nabi yang terbukti. Baca selengkapnya...

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User