Erlina Burhan: Pelacakan Kontak TB 100% Wajib Demi Putus Penularan
JAKARTA, MENIT LALU — Pakar respirasi dr. Erlina Burhan, Sp.P(K) menegaskan dukungan penuh terhadap instruksi tegas pemerintah yang mewajibkan 100 persen pelacakan kontak erat pasien tuberkulosis (T...
JAKARTA, MENIT LALU — Pakar respirasi dr. Erlina Burhan, Sp.P(K) menegaskan dukungan penuh terhadap instruksi tegas pemerintah yang mewajibkan 100 persen pelacakan kontak erat pasien tuberkulosis (TB). Konfirmasi ini disampaikan langsung melalui keterangan resmi yang diterima redaksi, menyusul rilis data mutakhir yang kembali menempatkan Indonesia dalam daftar negara dengan beban TB tertinggi global.
Langkah agresif ini merupakan respons terhadap capaian pelacakan sebelumnya yang baru berkisar 70 persen dari target nasional. Kini, setiap puskesmas dan fasilitas kesehatan primer diminta menyisir seluruh rumah tangga, tempat kerja, dan lingkungan sosial pasien TB positif dalam kurun 1x24 jam pasca diagnosis. “Tanpa investigasi kontak yang tuntas, rantai penularan di komunitas tidak akan pernah putus,” tegas Erlina dalam salinan pernyataannya.
Mengapa Pelacakan 100% Menjadi Kunci
Model penularan TB yang sangat stealth—bakteri menyebar lewat droplet dan bisa menetap laten dalam tubuh—membuat strategi pasif hanya akan mewariskan infeksi baru tanpa henti. Data internal program TB nasional yang bocor ke redaksi menunjukkan 1 dari 3 kontak erat saat diperiksa sudah terinfeksi TB laten dan berpotensi berkembang menjadi TB aktif bila tidak segera diberi terapi pencegahan (TPT).
- Fakta kunci: Indonesia mencatat sekitar 969.000 kasus TB baru per tahun (data 2024) dan estimasi kematian lebih dari 93.000 jiwa.
- Risiko tinggi: Satu pasien TB paru BTA positif dapat menulari 10-15 orang per tahun dalam kontak erat.
- Target baru: Seluruh kontak serumah, rekan sekantor, dan kontak sosial dekat wajib diskrining menggunakan rapid diagnostic test (TCM) dan rontgen dada dalam 48 jam.
- Profilaksis massal: Temuan kontak erat hasil positif TB laten akan langsung diberi terapi pencegahan isoniazid jangka pendek guna mencegah konversi ke TB aktif.
Respons Lapangan dan Kesiapan Sistem
Perintah siaga telah diturunkan ke Dinas Kesehatan provinsi hingga tingkat kelurahan. Petugas pelacak kontak (contact tracer) TB kini dibekali perangkat digital terbaru untuk input real-time temuan ke sistem informasi TB nasional. UPDATE: Kementerian Kesehatan melaporkan modul pelacakan 100% sudah diujicoba di enam kota prioritas, termasuk Jakarta Utara, Surabaya, dan Makassar, dengan hasil deteksi kasus indeks meningkat 22 persen dalam sepekan terakhir.
Erlina menambahkan, perubahan paradigma ini harus diimbangi dengan ketersediaan stok alat uji cepat dan obat-obatan. “Saya mendapat laporan beberapa daerah masih mengalami kekosongan kartrid TCM. Ini yang tidak boleh terjadi. Pelacakan tanpa alat diagnostik sama saja dengan gerakan tanpa amunisi,” ujarnya. Kemenkes dikonfirmasi telah menyiapkan pengadaan darurat 2 juta kartrid tambahan yang akan disebar mulai awal bulan depan.
Masyarakat yang dihubungi petugas contact tracing diimbau tidak panik dan wajib kooperatif. Pemeriksaan menyeluruh ini gratis di semua puskesmas dan tidak memerlukan biaya sepeser pun. Dengan pelacakan 100 persen ini, proyeksi Kemenkes meyakini angka insiden TB bisa turun hingga 40 persen dalam dua tahun.
Comments (0)