Dominasi AI Paksa Aktor China Xu Peng Jualan Sayur

Di tengah maraknya drama China (dracin) yang membanjiri layar kaca, satu nama justru memilih kembali ke akar kehidupan yang sederhana. Xu Peng, aktor kelah

Jul 11, 2026 - 08:57
0 0
Dominasi AI Paksa Aktor China Xu Peng Jualan Sayur

Di tengah maraknya drama China (dracin) yang membanjiri layar kaca, satu nama justru memilih kembali ke akar kehidupan yang sederhana. Xu Peng, aktor kelahiran Hunan yang sempat populer lewat sejumlah judul dracin lokal, kini berdiri di balik lapak sayur di pasar tradisional kampung halamannya. Keputusan drastis ini bukan karena krisis kepercayaan diri, melainkan akibat dominasi kecerdasan buatan (AI) yang perlahan menggerus peluang manusia di industri hiburan China.

AI Menggantikan Peran: Ancaman Nyata di Balik Layar

Industri dracin China bergerak dalam volume raksasa. Ratusan judul diproduksi setiap tahun untuk memenuhi selera penonton di platform seperti WeTV, iQiyi, dan Youku. Untuk menekan biaya dan mempercepat produksi, sejumlah rumah produksi mulai menggunakan teknik generative adversarial network (GAN) dan deepfake untuk menciptakan aktor virtual yang sepenuhnya dihasilkan komputer. Wajah manusia sungguhan dipindai, lalu boneka digital dapat berekspresi, bersuara, dan berakting tanpa perlu hadir di lokasi syuting. Akibatnya, panggilan kerja bagi pemain pendamping dan aktor lapis kedua merosot tajam dalam dua tahun terakhir.

Xu Peng mengaku sempat mencoba bertahan dengan mengikuti audisi ke berbagai kota besar seperti Shanghai dan Hangzhou. Namun, setiap kali ia disodori kontrak, syaratnya selalu sama: pihak produksi hanya butuh datanya—wajah, gestur, dan suara—untuk “ditanamkan” ke dalam model AI. “Mereka bilang saya tidak perlu syuting fisik lagi, cukup jual data digital saya. Itu bukan akting, itu seperti menjual jiwa,” tuturnya lirih.

Kisah Xu Peng: Dari Lokasi Syuting ke Pasar Tradisional

Pria berusia 32 tahun ini memulai karirnya sebagai figuran sebelum akhirnya mendapat peran pendukung di tiga judul dracin populer. Namun sejak pertengahan 2025, tawaran pekerjaannya menyusut hingga 80%. Tanpa tabungan cukup untuk bertahan di kota dan menolak menjadi “wajah digital”, ia akhirnya pulang ke desa kecil di pinggiran Changsha. Bermodalkan gerobak dan sedikit modal dari keluarga, Xu memulai usaha jualan sayur yang kini menghidupinya sehari-hari.

“Saya tidak bisa melawan mesin. Lebih baik pulang dan berkebun. Setidaknya saya masih bisa tersenyum pada pelanggan yang datang langsung, bukan avatar,” ujarnya saat ditemui di kiosnya yang sederhana.

Reaksi Netizen dan Masa Depan Aktor

Kisah Xu Peng cepat viral di media sosial China setelah seorang pelanggan mengunggah fotonya di Weibo. Tagar #PulangKampungKarenaAI langsung menjadi trending topic. Banyak netizen menyatakan simpati sekaligus keprihatinan. “Ini tamparan keras bagi industri yang lebih memilih efisiensi daripada kemanusiaan,” komentar salah satu warganet. Di sisi lain, Asosiasi Aktor Film China (CFAA) mulai menyuarakan perlunya regulasi yang membatasi penggunaan AI agar tidak mematikan profesi kreatif. Namun, hingga kini, belum ada aturan pasti yang melindungi aktor seperti Xu Peng.

Fenomena Xu Peng bukanlah sekadar anekdot individual. Ia mewakili gelombang kecemasan global bahwa AI tidak hanya mengambil alih pekerjaan administratif, tetapi juga seni peran yang selama ini dianggap membutuhkan sentuhan jiwa manusia. Bagi industri dracin, tantangan ke depan adalah menemukan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan pemeliharaan nilai-nilai seni.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User