Davide Tardozzi — Duet Spanyol Ducati Murni Soal Performa, Bukan Nasionalitas
JAKARTA — Kritik pedas langsung menghujani Ducati begitu Pedro Acosta resmi digaet sebagai pengganti Francesco Bagnaia. Pabrikan Borgo Panigale itu dicap b
JAKARTA — Kritik pedas langsung menghujani Ducati begitu Pedro Acosta resmi digaet sebagai pengganti Francesco Bagnaia. Pabrikan Borgo Panigale itu dicap bak “Timnas Spanyol” karena mulai musim depan akan diperkuat dua rider berpaspor Spanyol: Acosta dan Marc Marquez. Bos tim Ducati, Davide Tardozzi, tak tinggal diam. Dengan nada tegas, ia membantah bahwa pemilihan pembalap didasari faktor kewarganegaraan.
- Keputusan murni performa: Tardozzi menegaskan, “Kami tidak melihat paspor. Kami melihat data dan hasil di lintasan.”
- Duet Spanyol terbentuk alami: Acosta dan Marquez dianggap sebagai dua talenta terbaik yang tersedia di bursa rider.
- Bagnaia hengkang ke Aprilia: Kursi kosong ditinggal juara dunia dua kali itu langsung diisi Acosta yang tampil impresif bersama KTM.
- Dukungan penuh manajemen: Keputusan merekrut Acosta sudah melalui evaluasi teknis panjang tanpa pertimbangan politik.
Mengapa Ducati Dituding ‘Timnas Spanyol’?
Isu kedaerahan kembali memanas di paddock MotoGP setelah Pedro Acosta diumumkan sebagai rider anyar Ducati. Pasalnya, ia akan berpasangan dengan Marc Marquez yang sudah lebih dulu bergabung. Keduanya berasal dari Spanyol, sehingga Ducati — yang notabene ikon Italia — seolah menjelma tim nasional negara rival abadi pasta melawan paella.
“Kami rasa orang-orang terlalu fokus pada bendera, padahal yang penting adalah potensi kemenangan yang bisa mereka bawa,” kata Tardozzi dalam wawancara eksklusif.
Kritik ini sebenarnya bukan yang pertama. Ducati sempat dianggap “terlalu Italia” di era Bagnaia-Bastianini. Kini, bandul berayun ke kubu Spanyol dan langsung memicu polemik.
Respons Tegas Tardozzi: “Data, Bukan Paspor”
Davide Tardozzi tidak ingin berlarut dalam isu kebangsaan. Manajer legendaris itu menyodorkan fakta bahwa perekrutan Acosta dilakukan setelah analisis komprehensif terhadap performa, konsistensi, dan daya juang sang pembalap muda.
- Acosta terbukti cepat: Meski masih di tim satelit KTM, ia beberapa kali finis di posisi podium dan konsisten mengancam papan atas.
- Chemistry potensial: Ducati meyakini pengalaman Marquez bisa mematangkan Acosta lebih cepat ketimbang mencari pembalap lain di luar grid.
- Komitmen jangka panjang: Kontrak yang ditawarkan mencerminkan visi Ducati membangun era baru pasca Bagnaia.
“Jika kami memilih pembalap berdasarkan negara, kami pasti sudah merekrut dua rider Italia lagi. Tapi filosofi kami sederhana: siapa yang terbaik, dia yang kami ambil,” tegas Tardozzi.
Bagnaia ke Aprilia, Panggung Duet Acosta-Marquez Terbuka
Hengkangnya Francesco Bagnaia menjadi pemicu utama restrukturisasi tim. Pecco – sapaan akrabnya – memilih menerima tawaran besar dari Aprilia, meninggalkan kursi juara di Ducati. Kini, garis start 2026 akan menyaksikan duel internal Spanyol di dalam garasi tim pabrikan Italia, sebuah paradoks yang justru disambut antusias oleh Tardozzi.
“Kami sudah berdiskusi dengan Marc, dan ia antusias mentransfer pengalamannya. Pedro punya potensi besar. Ini keputusan bisnis dan olahraga, bukan politik kebangsaan,” tandas Tardozzi menutup perbincangan.
Apa Selanjutnya?
Dengan line-up Spanyol murni, Ducati kini punya dua ancaman serius dalam perebutan gelar. Pertanyaan yang tersisa: akankah chemistry Acosta-Marquez meledak di lintasan, atau justru internal tim berubah jadi ajang perang dingin ala el clasico?
Comments (0)