CIBINONG — Demi mengurai cekik lalu lintas legendaris di Jalur Puncak, Pemerintah

Wacana ini mencuat setelah rapat terbatas jajaran eksekutif dan legislatif Kabupaten Bogor pada awal pekan ini. Bupati Bogor, yang namanya masih dirahasiak

Jul 08, 2026 - 15:10
0 0
CIBINONG — Demi mengurai cekik lalu lintas legendaris di Jalur Puncak, Pemerintah

Wacana ini mencuat setelah rapat terbatas jajaran eksekutif dan legislatif Kabupaten Bogor pada awal pekan ini. Bupati Bogor, yang namanya masih dirahasiakan sebelum konferensi pers resmi, disebut telah menginstruksikan dinas terkait untuk merampungkan kajian awal dalam dua bulan ke depan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pelebaran jalan. Lahan habis. Puncak butuh lompatan solusi. Kereta gantung ini bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” ujar sumber di lingkaran dalam Pemkab Bogor yang enggan disebut identitasnya.

Rute dan Target Operasional

Trase sementara yang dibahas menghubungkan Summarecon Bogor di kawasan Katulampa dengan Rest Area Gunung Mas di Kecamatan Cisarua. Jarak lurus kedua titik ini sekitar 8–10 kilometer dengan estimasi waktu tempuh 15–20 menit—berbanding terbalik dengan perjalanan darat yang bisa merangkak 2–3 jam pada akhir pekan.

  • Titik keberangkatan: Summarecon Bogor (Katulampa), terintegrasi dengan exit Tol Bocimi
  • Titik kedatangan: Rest Area Gunung Mas, Cisarua
  • Estimasi jarak: 8–10 km
  • Waktu tempuh target: 15–20 menit
  • Kapasitas gondola: 8–10 penumpang per kabin
  • Frekuensi: Setiap 30–60 detik pada jam sibuk

Meski belum menyentuh tahap Detail Engineering Design (DED), sketsa awal menyebutkan setidaknya dibutuhkan 4–5 tiang penyangga utama yang akan dibangun di lahan milik Pemkab dan Perhutani. Pemkab mengklaim telah mengantongi izin prinsip penggunaan kawasan hutan produksi yang masuk dalam koridor rencana.

Kenapa Kereta Gantung?

Jalur Puncak adalah arteri vital yang menghubungkan Bogor dengan Cianjur. Setiap Sabtu–Minggu, volume kendaraan bisa melonjak 300% dibandingkan hari biasa. Sistem one way yang diterapkan hanya menjadi paliatif—bukan obat. Berikut pertimbangan inti di balik pilihan moda ini:

  • Minim pembebasan lahan: Hanya memerlukan tapak tiang, tidak seperti pelebaran jalan yang butuh pembongkaran ratusan bangunan
  • Tanpa hambatan geografis: Kontur curam dan jurang tak lagi jadi kendala
  • Daya angkut massal: Satu jalur gondola dapat mengangkut 2.000–3.000 penumpang per jam per arah—setara dengan mengurangi ribuan mobil dari jalan
  • Ramah lingkungan: Emisi nol, cocok untuk kawasan konservasi hulu

Skema Pembiayaan dan Investor

Proyek ini ditargetkan menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan masa konsesi yang diusulkan 20–25 tahun. Dua perusahaan BUMN karya dan satu konsorsium swasta asal Korea Selatan disebut telah mengirimkan unsolicited proposal.

“APBD tidak akan terbebani. Kita hanya menyediakan lahan dan perizinan. Sisanya murni investasi. Tapi Pemkab harus memastikan tarif gondola tetap terjangkau—jangan sampai hanya jadi mainan turis asing,” tegas anggota Komisi III DPRD Bogor yang membidangi infrastruktur.

Kisaran investasi diperkirakan mencapai Rp1,2–1,8 triliun, tergantung teknologi gondola yang dipilih. Opsi yang paling mungkin adalah 3S detachable gondola (sejenis sistem di Peak 2 Peak Whistler, Kanada) yang memungkinkan operasi dalam kecepatan angin tinggi—krusial mengingat cuaca ekstrem Puncak.

Tantangan di Depan Mata

Meski terdengar menjanjikan, proyek ini bukan tanpa ganjalan. Sejumlah pejabat teknis mengakui tiga batu sandungan utama:

  • Izin lingkungan: Kawasan Puncak bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hulu, sehingga wajib Amdal ketat
  • Estetika dan resistensi publik: Warga lokal khawatir kabel dan tiang gondola merusak lanskap alam yang menjadi ikon wisata
  • Integrasi moda: Butuh parkir raksasa dan kantong-kantong angkutan lanjutan di stasiun bawah agar wisatawan benar-benar meninggalkan mobil di kaki gunung

Pemkab dijadwalkan menggelar uji publik pertama pada triwulan III tahun ini. Jika seluruh rintangan terlewati, groundbreaking ditargetkan 2027 dan operasional penuh pada 2030.

“Ini bukan proyek lima tahunan. Tapi kalau kita tak mulai sekarang, Puncak akan lumpuh total dalam satu dekade. Sudah banyak wisatawan yang trauma dan beralih ke Lembang atau Anyer. Kita harus berani,” pungkas sumber tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User