BREAKING: Kemenbud-Muhammadiyah Sinergikan Seni Jadi Senjata Dakwah
JAKARTA – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi mengunci kolaborasi strategis, menempatkan seni budaya sebagai alat dakwah utama. Kesepakatan ini diteken sore tadi ...
JAKARTA – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi mengunci kolaborasi strategis, menempatkan seni budaya sebagai alat dakwah utama. Kesepakatan ini diteken sore tadi dan menjadi babak baru pendekatan syiar berbasis kultural yang agresif.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan inisiatif ini bukan sekadar seremoni. “Seni dan budaya adalah soft power tertinggi kita. Ia menyentuh hati, merangkul, dan tidak menggurui. Inilah wajah dakwah yang seharusnya,” ujarnya dalam jumpa pers usai penandatanganan nota kesepahaman di kantor Kemenbud, Jumat (11/7/2026).
Dakwah Tanpa Kekerasan, Menjawab Zaman
Kolaborasi ini dirancang untuk mengembalikan khazanah seni Islam Nusantara—dari wayang, syair, hingga qasidah modern—ke garda depan dakwah. Kedua lembaga sepakat, pendekatan kultural lebih efektif menjangkau generasi digital yang kian renggang dari mimbar konvensional.
Fadli Zon menyebut Muhammadiyah sebagai mitra strategis karena jaringan akar rumputnya yang masif, sementara Kemenbud menyediakan panggung dan infrastruktur kebudayaan nasional. “Kami tidak hanya bicara soal pengajian atau tabligh. Ini soal bagaimana kita mengisi kanal-kanal budaya dengan nilai dakwah yang menginspirasi, bukan yang menakut-nakuti,” imbuh Fadli.
Fakta-Fakta Kunci Kolaborasi
- Fokus program: revitalisasi seni tradisi Islam sebagai materi dakwah kontemporer
- Cakupan awal: pelatihan 1.500 dai muda bidang seni pertunjukan Islami
- Output konkret: 10 festival seni dakwah nasional dalam 12 bulan ke depan
- Pendekatan: memadukan riset akademik Muhammadiyah dengan fasilitas Taman Budaya dan Balai Pelestarian Kebudayaan milik Kemenbud
- Target jangka panjang: menjadikan dakwah kultural Indonesia sebagai model diplomasi keagamaan di forum internasional
Soft Power untuk Panggung Dunia
Lebih jauh, Fadli Zon menekankan bahwa seni dakwah bukan hanya proyek nasional, tetapi juga instrumen diplomasi soft power Indonesia. “Negara dengan populasi Muslim terbesar harus mampu mengekspor narasi Islam yang damai dan berbudaya. Kolaborasi dengan Muhammadiyah adalah cetak biru untuk itu,” tegasnya.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambut sinergi ini sebagai langkah monumental. Mereka akan mengoptimalkan ribuan sanggar seni di bawah naungan majelis dan amal usaha Muhammadiyah untuk langsung menyasar komunitas. Pelibatan pesantren seni dan perguruan tinggi Muhammadiyah juga menjadi prioritas agar regenerasi dai berkemampuan kultural berjalan massif.
“Budaya adalah jiwa bangsa, dan dakwah adalah nafasnya. Jika keduanya diimpitkan, ia menjadi benteng narasi moderat yang kuat,” tutup Fadli Zon dengan nada optimis.
Kolaborasi ini langsung masuk ke ranah operasional: tim kecil gabungan sudah dibentuk untuk merampungkan peta jalan program dan mengamankan anggaran tahap awal yang diperkirakan mencapai Rp75 miliar. Publik menanti, apakah panggung seni benar-benar akan menjadi mimbar baru yang mempersatukan.
Comments (0)