BREAKING: Jembatan Enang-Enang Bener Meriah Segera Dibangun Usai Mediasi Satgas PRR
BENER MERIAH, DETIK INI JUGA — Pembangunan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah dipastikan segera dimulai setelah mediasi alot antara warga dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh...
BENER MERIAH, DETIK INI JUGA — Pembangunan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah dipastikan segera dimulai setelah mediasi alot antara warga dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh berhasil dituntaskan Satgas PRR sore ini.
Kesepakatan Tercapai Kurang dari 2 Jam
Dalam pertemuan tertutup di Kantor Camat setempat, kedua pihak akhirnya mencapai kata sepakat pukul 16.10 WIB. Satuan Tugas Percepatan Pembangunan (PRR) menjadi fasilitator yang mampu menjembatani perbedaan pandangan yang sempat membuat proyek ini menggantung lebih dari empat bulan.
- Lokasi: Desa Enang-Enang, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh
- Proyek: Jembatan bentang 80 meter pengganti jembatan darurat yang ambruk Januari lalu
- Nilai kontrak: Rp32,7 miliar
- Penyebab sengketa: Penolakan warga terhadap titik awal pembangunan yang dinilai berdampak pada sawah produktif
- Penyelesaian: BPJN sepakat menggeser titik jembatan 15 meter ke arah timur sesuai permintaan warga
Kronologi Mediasi
Ketegangan mulai mencair setelah Kasatgas PRR, yang identitasnya belum dirilis resmi, menyampaikan bahwa pemerintah pusat memberikan atensi khusus pada proyek ini karena termasuk dalam daftar 11 jembatan kritis prioritas nasional 2026.
"Beliau menjelaskan bahwa keterlambatan hanya akan merugikan warga sendiri. Ada skema percepatan yang akan diterapkan," ujar seorang peserta pertemuan yang enggan disebut namanya.
BPJN Aceh sebelumnya ngotot mempertahankan titik awal karena alasan efisiensi anggaran dan hasil kajian geoteknik. Namun setelah dilakukan peninjauan lapangan bersama Satgas PRR kemarin, opsi penggeseran dinyatakan layak.
Poin-Poin Kesepakatan
Dokumen kesepakatan ditandatangani langsung oleh perwakilan masyarakat dan Kepala BPJN Aceh. Berikut poin utamanya:
- Pembangunan dimulai 14 hari kalender sejak penandatanganan
- BPJN akan membangun saluran irigasi baru sebagai kompensasi lahan sawah yang tetap terkena dampak
- Warga yang dilibatkan sebagai pekerja lokal minimal 40% dari total tenaga kerja
- Satgas PRR akan mengawasi langsung setiap tahapan proyek
- Masa konstruksi ditargetkan 8 bulan, lebih cepat dari standar 12 bulan untuk jembatan sejenis
Respons Warga dan Pemerintah Daerah
Tokoh masyarakat Desa Enang-Enang, Munawar (54), menyambut baik hasil mediasi ini. "Kami lega. Jembatan itu urat nadi kami. Sejak ambruk, anak-anak harus memutar 11 kilometer ke sekolah," katanya dengan suara bergetar.
Camat Bukit, melalui sambungan telepon, memastikan pemerintah kecamatan akan memfasilitasi proses sosialisasi lanjutan. "Kami apresiasi pendekatan Satgas PRR yang mengedepankan dialog, bukan kekerasan," tegasnya.
Pj Bupati Bener Meriah dalam keterangan terpisah menyatakan optimistis jembatan baru akan menggerakkan ekonomi lokal. "Potensi kopi gayo dan pala di hulu Enang-Enang bisa langsung terhubung ke pasar," ujarnya.
Latar Belakang Proyek
Jembatan Enang-Enang merupakan satu-satunya akses darat bagi 2.300 warga di tiga desa. Struktur lama ambruk diterjang banjir bandang 14 Januari lalu. Sejak itu, warga mengandalkan jembatan gantung darurat dari bambu yang hanya bisa dilalui pejalan kaki.
BPJN Aceh sebenarnya sudah menyiapkan anggaran sejak Februari, namun penolakan warga membuat proses lelang tertunda. Mediasi sebelumnya yang difasilitasi pemerintah kabupaten pada Maret dan April selalu berujung deadlock.
Masuknya Satgas PRR pada Juni menjadi titik balik. Tim ini dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Percepatan Infrastruktur Tertinggal dan memiliki kewenangan memotong birokrasi di lapangan.
Langkah Selanjutnya
BPJN Aceh akan segera menerbitkan addendum kontrak penyesuaian titik jembatan. Mobilisasi alat berat dijadwalkan paling lambat Senin pekan depan. Satgas PRR akan membuka posko pengaduan di lokasi proyek.
Baca juga:
Comments (0)