JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto melontarkan seruan tegas kepada seluruh pemerintah daerah. Bahu-membahu mengendalikan laju inflasi kini menjadi perintah yang tak bisa ditawar. Langkah kolektif ini dinilai sebagai benteng utama menjaga dentuman pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan sanggup menembus level 8 persen.
Dinamika harga di level akar rumput membutuhkan lebih dari sekadar pemantauan pasif. Intervensi cerdas dan terukur dari tingkat kabupaten hingga provinsi menjadi krusial. Tanpa gerakan serempak, stabilitas daya beli masyarakat terancam limbung di tengah tekanan rantai pasok global yang masih labil.
Mengunci Stabilitas di Tengah Goncangan
Bima Arya menekankan bahwa stabilitas harga bukan semata urusan angka di layar monitor. Ia adalah nadi kehidupan harian yang langsung menyentuh dapur warga. Ketika harga bergejolak liar, kelompok rentan menjadi korban pertama. Oleh karena itu, sinergi lintas sektor wajib terkunci rapat, menyatukan otoritas pangan, pelaku usaha, dan aparat keamanan dalam satu komando dingin.
Ketahanan pangan disebut sebagai fondasi yang tidak bisa ditambal dengan solusi instan. Produksi dalam negeri harus dipacu, jalur distribusi diperpendek, dan spekulasi pasar dipatahkan sebelum menjalar. Setiap kepala daerah diminta memiliki cetak biru tanggap darurat yang siap dieksekusi dalam hitungan jam ketika indikator harga menunjukkan anomali.
Strategi Membumi: Dari Gudang hingga Pasar
Arahan ini mendorong transformasi konkret di lapangan:
- Penguatan cadangan pangan strategis di setiap gudang penyangga daerah.
- Operasi pasar murah yang digelar rutin, bukan sekadar seremoni kalender.
- Pemanfaatan teknologi digital untuk memonitor disparitas harga secara waktu nyata.
- Kerja sama antardaerah surplus dan minus untuk menghaluskan peta distribusi.
Data pergerakan inflasi mingguan harus menjadi alarm yang memicu aksi, bukan sekadar laporan yang masuk laci birokrasi. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diperintahkan untuk bergerak lebih agresif dalam menyisir pemicu gejolak harga di komoditas vital seperti beras, cabai, dan minyak goreng.
Pertumbuhan 8 Persen: Mimpi yang Perlu Perjuangan Kolektif
Ambisi ekonomi yang melesat tinggi tidak akan terwujud jika fondasi makroekonominya retak. Inflasi yang terkendali membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, memicu gairah investasi, dan menjaga denyut konsumsi rumah tangga. Bima Arya menegaskan, pertumbuhan dan stabilitas adalah dua sisi koin yang harus dikawal simultan.
Aparatur daerah diminta meninggalkan ego sektoral. Sinkronisasi anggaran, penyelarasan program, hingga eksekusi di tingkat tapak menjadi rantai yang tidak boleh putus. Evaluasi kinerja pengendalian inflasi akan menjadi salah satu tolok ukur tajam efektivitas kepemimpinan seorang kepala daerah di periode mendatang.
Dengan momentum pemulihan ekonomi yang masih rentan terhadap guncangan eksternal, konsolidasi internal menjadi tameng yang tidak bisa ditunda. Bima Arya menutup pengarahannya dengan pesan singkat: stabilkan harga hari ini, atau kita terpaksa menanggung biaya sosial yang jauh lebih mahal esok hari.
Comments (0)