BGN Bidik Penurunan Stunting Lewat Ekspansi Program Makan Bergizi

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) langsung tancap gas. Kepala BGN Sudaryono mengumumkan perluasan besar-besaran program makan bergizi gratis untuk menekan angka stunting nasional di bawah 14 perse...

Jul 28, 2026 - 07:55
0 0
BGN Bidik Penurunan Stunting Lewat Ekspansi Program Makan Bergizi

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) langsung tancap gas. Kepala BGN Sudaryono mengumumkan perluasan besar-besaran program makan bergizi gratis untuk menekan angka stunting nasional di bawah 14 persen pada 2025.

Dalam rapat koordinasi terbatas di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Sudaryono memaparkan peta jalan akselerasi intervensi gizi spesifik dan sensitif. Target ambisius ini akan ditempuh dengan melipatgandakan titik distribusi makanan bergizi ke 38 provinsi, dari sebelumnya hanya terbatas di 17 provinsi percontohan.

Ekspansi ke 250 Kabupaten/Kota

Sudaryono mengonfirmasi bahwa BGN telah menyiapkan anggaran Rp 24,7 triliun untuk fase ekspansi pertama. Menurutnya, program ini akan menjangkau 250 kabupaten/kota mulai Januari 2025, dengan prioritas pada wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan.

"Kami tidak bisa lagi bernegosiasi dengan data. Setiap hari, 1.000 anak Indonesia masuk kategori stunting baru. Maka kecepatan menjadi harga mati," ujar Sudaryono.

Melibatkan 12.000 UMKM Pangan Lokal

Untuk menjamin keberlanjutan dan ketepatan sasaran, BGN menggandeng 12.000 unit UMKM pangan lokal sebagai pemasok bahan baku. Langkah ini, klaim Sudaryono, akan memangkas biaya logistik hingga 30 persen sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Tiap UMKM akan menerima pendampingan standar higienitas dan kandungan gizi dari ahli nutrisi BGN yang sudah disebar di 415 puskesmas.

"Kami tidak mau asal bagi makanan. Setiap porsi harus mengandung minimal 30 persen kebutuhan kalori harian anak dan ibu hamil," tegasnya.

Sistem Pemantauan Digital

Sebagai bagian dari modernisasi, BGN meluncurkan aplikasi "GiziKu" yang memungkinkan pemantauan status gizi penerima manfaat secara real-time. Data tinggi badan, berat badan, dan asupan akan terintegrasi langsung dengan sistem Kementerian Kesehatan. Sudaryono mengklaim ini adalah sistem pemantauan gizi terbesar di Asia Tenggara.

"Kami tidak hanya memberi makan, tapi juga membangun basis data untuk memprediksi titik rawan gizi buruk sebelum terjadi," paparnya.

Respons Cepat Darurat Gizi

BGN juga membentuk Tim Tanggap Darurat Gizi (TDG) yang siap turun dalam 48 jam ke lokasi dengan peningkatan kasus gizi buruk akut. Tim ini membawa makanan terapeutik siap saji dan alat deteksi dini. Sudaryono mencontohkan keberhasilan uji coba di Asmat, Papua Selatan, yang menurunkan kasus gizi buruk sebesar 9 persen dalam tiga bulan.

Target Penurunan Stunting

Mengutip data terbaru, Sudaryono menegaskan bahwa angka stunting nasional saat ini masih di 21,6 persen, jauh dari target ambisius 14 persen. Dengan pendekatan baru yang menggabungkan intervensi langsung, pemberdayaan ekonomi, dan teknologi, BGN optimistis bisa mengejar ketertinggalan.

"Kita tidak akan mengulangi pola lama yang sporadis. Ini adalah gerakan nasional terstruktur dengan komando jelas dari BGN," pungkasnya.

Pemerintah pusat telah menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk menyelaraskan program gizi daerah dengan strategi BGN. Sinkronisasi ini diharapkan menghilangkan tumpang tindih dan kebocoran anggaran yang selama ini menghambat penurunan stunting.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User