Sep 17, 2026
Nasional

BEI Sempat Berlakukan Trading Halt Usai IHSG Terkoreksi Tajam 8 Persen

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada sesi perdagangan hari ini. Gelombang aksi jual masif memaksa otoritas pasar modal mene

BEI Sempat Berlakukan Trading Halt Usai IHSG Terkoreksi Tajam 8 Persen

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada sesi perdagangan hari ini. Gelombang aksi jual masif memaksa otoritas pasar modal menerapkan penghentian sementara perdagangan (trading halt) guna meredam volatilitas ekstrem yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Berdasarkan data perdagangan RTI Business pada penutupan pasar, Kamis (29/1/2026), IHSG terperosok sedalam 8,0 persen atau terlempar ke level 7.654,66. Kendati sempat anjlok lebih dalam pada pertengahan sesi, indeks komposit terpantau sedikit membaik dan memangkas sebagian pelemahan menjelang bel penutupan.

Kronologi Pergerakan Pasar Sepanjang Hari

Tekanan terhadap IHSG sudah terasa sejak pembukaan bel perdagangan pagi hari. Berikut adalah linimasa dinamika pergerakan pasar modal domestik:

  1. Pukul 09.00 - 10.30 WIB: IHSG dibuka langsung melemah di zona merah. Aksi lepas saham berkapitalisasi besar (big cap) oleh investor asing dan domestik langsung menekan indeks lebih dari 3 persen.
  2. Pukul 11.15 WIB: Penjualan masif berlanjut hingga indeks anjlok menyentuh ambang batas penurunan harian yang telah ditetapkan regulator.
  3. Pukul 11.20 WIB: Manajemen BEI secara resmi mengaktifkan protokol trading halt selama 30 menit demi menstabilkan kepanikan pasar dan memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi.
  4. Pukul 13.30 - 16.00 WIB: Setelah perdagangan kembali dibuka di sesi kedua, aksi beli selektif (bargain hunting) mulai masuk pada saham-saham berfundamental solid, menahan kejatuhan indeks sehingga ditutup di level 7.654,66.

Faktor Pemicu Sentimen Negatif dan Tekanan Jual

Koreksi tajam pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi sentimen global dan dinamika makroekonomi kawasan. Tekanan likuiditas, ketidakpastian suku bunga global, serta aksi rebalancing portofolio institusi global disebut menjadi pemicu utama arus modal keluar (capital outflow).

"Kepanikan pasar sempat terakselerasi akibat efek domino dari transaksi margin dan aksi jual otomatis. Namun, langkah pembekuan sementara perdagangan terbukti efektif mencegah IHSG merosot lebih dalam ke jurang koreksi yang tidak teratur," ungkap salah satu analis pasar modal di Jakarta.

Sektor-sektor yang mengalami tekanan paling dalam meliputi:

  • Sektor Perbankan: Saham perbankan berkapitalisasi jumbo menjadi kontributor utama penurunan poin IHSG menyusul tingginya volume penjualan bersih asing.
  • Sektor Energi dan Komoditas: Fluktuasi harga minyak dan komoditas global turut menekan valuasi saham-saham pertambangan.
  • Sektor Konsumer: Penyesuaian ekspektasi daya beli masyarakat memicu aksi ambil untung investor institusi.

Imbauan Bursa dan Antisipasi Investor

Otoritas bursa mengimbau para investor untuk tetap rasional dan tidak terjebak dalam aksi panic selling yang berlebihan. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati fundamental emiten serta manajemen risiko portofolio secara ketat di tengah dinamika pasar yang masih dibayangi volatilitas tinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User