SAMARINDA — Langkah strategis menuju transformasi ekonomi berkelanjutan di Kalimantan Timur terus dipacu. Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (BI Kaltim) berkolaborasi erat dengan seluruh pemerintah daerah (pemda) kabupaten dan kota se-Kaltim untuk menyusun Peta Jalan (Roadmap) Penarik Investasi periode 2026–2028. Langkah sinergis ini diambil untuk memastikan bahwa momentum pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat dimanfaatkan secara optimal oleh daerah-daerah penyangga di sekitarnya.
Penyusunan peta jalan investasi ini bukan sekadar agenda rutin birokrasi, melainkan sebuah respons progresif terhadap perubahan struktur ekonomi daerah. Selama berdekade-dekade, Kalimantan Timur sangat mengandalkan sektor ekstraktif seperti batu bara serta minyak dan gas bumi. Melalui dokumen perencanaan strategis periode 2026–2028, arah kebijakan investasi diarahkan secara masif pada sektor-sektor non-tambang yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan di 10 kabupaten/kota se-Kaltim.
Peta Strategis Mendorong Transformasi Ekonomi Daerah
Dalam lokakarya dan koordinasi intensif yang digelar BI Kaltim bersama dinas penanaman modal setempat, dirumuskan berbagai program prioritas untuk menggali potensi ekonomi baru. BI Kaltim menekankan pentingnya menyiapkan dokumen Investment Project Ready to Offer (IPRO), yaitu prapemetaan proyek penanaman modal yang siap ditawarkan kepada investor domestik maupun asing dengan kejelasan skema perizinan, kelayakan finansial, dan kepastian status lahan.
"Peta jalan ini merupakan cetak biru penting agar Kalimantan Timur tidak terjebak dalam risiko fluktuasi harga komoditas mentah. Kita harus membangun fondasi industri manufaktur, pertanian berkelanjutan, dan konektivitas logistik yang tangguh," tegas perwakilan BI Kaltim dalam keterangannya.
Tingginya minat investor global dan domestik menyambut keberadaan IKN memerlukan kesiapan daerah dalam menyajikan data investasi yang terukur dan kredibel. Oleh sebab itu, peta jalan ini juga mencakup penyelarasan insentif daerah, penyederhanaan birokrasi, serta promosi investasi yang terintegrasi guna meningkatkan daya saing investasi Kalimantan Timur di tingkat regional maupun internasional.
Fokus Sektor Prioritas Peta Jalan Investasi 2026–2028
Untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai fokus pemetaan penarikan investasi dalam tiga tahun mendatang, BI Kaltim dan pemda membagi sektor keunggulan ke dalam beberapa klaster strategis:
| Sektor Prioritas | Fokus Pengembangan Proyek | Wilayah Target Strategis |
|---|---|---|
| Industri Pengolahan | Hilirisasi hasil perkebunan (sawit/karet) & pengolahan rumput laut | Kutai Timur, Paser, Berau |
| Energi Terbarukan | Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) & pengolahan Bioenergi | Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara |
| Logistik & Infrastruktur | Kawasan Industri Pelabuhan & Hub Distribusi Pendukung IKN | Balikpapan, Samarinda |
| Pariwisata & Ekowisata | Destinasi Bahari Berkelanjutan & Tourism Hub Nusantara | Berau (Derawan), Mahakam Ulu |
Sinergi RIRU dan Kesiapan Daerah Menyambut Masa Depan
Penguatan kelembagaan melalui forum Regional Investor Relations Unit (RIRU) Kalimantan Timur menjadi kunci utama keberhasilan eksekusi peta jalan ini. RIRU berfungsi sebagai jembatan komunikasi utama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan calon investor. Melalui platform ini, berbagai hambatan investasi (debottlenecking) dapat diselesaikan secara efisien melalui koordinasi lintas sektor yang lebih responsif.
Dengan bergulirnya peta jalan penarik investasi 2026–2028, Kalimantan Timur diproyeksikan mampu mencetak pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya tahan tinggi. Pertumbuhan investasi sektor non-tambang ini diharapkan dapat membuka puluhan ribu lapangan kerja baru bagi tenaga kerja lokal, sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat di wilayah penyangga ibu kota baru.
Komitmen bersama antara BI Kaltim dan seluruh pemerintah kabupaten/kota menjadi bukti nyata bahwa Benua Etam siap bertransformasi dari sekadar daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi hijau yang maju dan berdaya saing di kawasan Asia Tenggara.
Untuk melepaskan ketergantungan dari komoditas mentah batu bara dan migas, BI Kaltim bersama Pemda menyusun strategi penarikan investasi di sektor industri pengolahan, energi terbarukan, hingga ekowisata pendukung IKN. Baca berita selengkapnya di Beritatercepat.com!
Comments (0)