Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda tertekan sebesar 43 poin atau 0,24 persen, sehingga bergerak ke posisi Rp17.739 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang didominasi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) serta dinamika permintaan valuta asing di pasar domestik menjelang penutupan pekan.
Kronologi Pergerakan Kurs Sepanjang Pagi
- Pukul 08.00 WIB: Pasar spot valuta asing dibuka langsung berada di zona merah pada level Rp17.715 per dolar AS, terdepresiasi sekitar 19 poin dari penutupan hari sebelumnya.
- Pukul 08.30 WIB: Tekanan jual terhadap mata uang Garuda meningkat seiring masuknya permintaan dolar dari sektor korporasi domestik, mendorong rupiah ke level Rp17.730 per dolar AS.
- Pukul 09.00 WIB: Kurs rupiah menyentuh level Rp17.739 per dolar AS dengan volume transaksi yang didominasi penguatan mata uang safe haven global.
Faktor Global dan Sentimen Domestik Penekan Rupiah
Kondisi pasar valas regional Asia secara umum kompak menunjukkan tren pelemahan terhadap greenback. Penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi AS terbaru yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja dan inflasi yang masih persisten, memicu ekspektasi bahwa bank sentral Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama (higher for longer).
"Sentimen global masih sangat dipengaruhi oleh yield US Treasury yang kembali merangkak naik dan ketidakpastian geopolitik. Di sisi lain, kebutuhan repatriasi dividen korporasi di pasar domestik turut memperbesar tekanan terhadap likuiditas rupiah," ujar analis pasar uang di Jakarta.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun memberikan daya tarik ekstra bagi investor global untuk memindahkan aset mereka ke instrumen berdenominasi dolar AS, yang berdampak pada arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Upaya Stabilisasi Bank Indonesia di Pasar Valas
Menyikapi volatilitas nilai tukar yang meningkat, Bank Indonesia (BI) terus bersiaga menjaga stabilitas nilai tukar melalui strategi intervensi terukur di pasar keuangan.
- Triple Intervention: BI mengoptimalkan intervensi di pasar spot valuta asing, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekunder.
- Optimalisasi SRBI: Pemanfaatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus digencarkan guna menarik aliran modal asing jangka pendek masuk kembali ke dalam negeri.
- Cadangan Devisa: Otoritas moneter memastikan cadangan devisa nasional tetap dalam posisi memadai untuk mendukung ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Pelaku pasar kini mencermati rilis data neraca perdagangan serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam merespons gejolak nilai tukar mata uang global ke depan.
Comments (0)