BARU SAJA: Kampung di Dasar Bendungan Karian Muncul Kembali
BARU SAJA — Warga di sekitar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, dikejutkan pemandangan yang nyaris tak pernah terjadi. Sisa-sisa kampung yang telah lebih dari satu dekade terbenam di dasar w...
BARU SAJA — Warga di sekitar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, dikejutkan pemandangan yang nyaris tak pernah terjadi. Sisa-sisa kampung yang telah lebih dari satu dekade terbenam di dasar waduk tiba-tiba menyembul ke permukaan. Level air bendungan anjlok ke titik terendah sejak pertama kali dioperasikan, menyingkap reruntuhan yang memicu gelombang nostalgia massal.
Peristiwa langka ini terjadi pada musim kemarau tahun ini. Debit air Bendungan Karian dilaporkan menyusut hingga menyentuh elevasi 78,5 meter di atas permukaan laut, turun drastis dari level normal 93 meter. Surut ekstrem itu membuat seluruh struktur lama yang selama ini tersamarkan oleh air waduk terlihat dengan jelas, lebih dari sekadar atap atau kubah masjid yang biasanya menjadi penanda ketinggian air.
Fenomena Lebih Brutal dari Tahun Sebelumnya
Salah satu warga yang bermukim di dekat bendungan, Odon (54), mengaku takjub. Ia mengatakan dalam kondisi air tinggi, biasanya hanya ornamen puncak masjid yang muncul. Kini, puluhan unit rumah tua, jalan kampung yang retak, pekarangan, hingga pohon besar yang sudah mati bertahun-tahun mencuat.
“Baru kali ini kami bisa melihat kembali tembok-tembok rumah secara utuh. Biasanya cuma ujung menara masjid yang kelihatan samar-samar. Sekarang pagi-pagi warga sudah ramai berfoto di tepi,” ujar Odon dengan nada haru. Ia menambahkan, banyak tetangganya yang sengaja datang ke lokasi untuk mengingat ulang kampung halaman mereka sebelum proyek bendungan dimulai pada 2012.
Kenangan Desadesa yang Hilang
Kampung yang muncul kembali itu dulunya bernama Desa Karian, Desa Pasir Tanjung, dan Desa Bojong. Ketiganya ditinggalkan secara permanen saat ribuan keluarga direlokasi demi pembangunan Bendungan Karian, proyek strategis nasional untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi di Banten dan Jakarta. Total lebih dari 1.200 kepala keluarga harus meninggalkan rumah leluhur mereka.
Proses evakuasi saat itu berlangsung dramatis. Lahan pertanian, pemakaman, dan bangunan sekolah terpaksa ditenggelamkan setelah pintu air bendungan ditutup secara bertahap. Selama bertahun-tahun, hanya genting dan atap yang sesekali terlihat saat musim kemarau biasa. Namun tahun ini, surutnya air menciptakan “kota hantu” dadakan di tepi waduk.
Data Unit Pengelola Bendungan Karian menunjukkan suplai air dari daerah tangkapan hujan terus menurun akibat kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncak pada Agustus mendatang. Operasi pintu air pun sedang dalam evaluasi darurat. “Kami siaga penuh. Jika level terus turun, distribusi air baku akan kami sesuaikan,” ujar petugas jaga.
Dampak dan Respons Warga
Meski kehadiran kembali kampung membangkitkan memori emosional, sejumlah warga justru mengkhawatirkan ketersediaan air bersih menjelang akhir tahun. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk mengantisipasi krisis air. Sementara itu, pengunjung dari luar desa berdatangan untuk menyaksikan pemandangan langka tersebut. Polisi setempat meningkatkan patroli di area bendungan untuk mengamankan lokasi dari tindakan penjarahan terhadap benda-benda bersejarah yang mungkin terbawa arus balik kemarau.
Fenomena ini masih berlangsung hingga berita ini diturunkan. Pihak berwenang memperkirakan surutnya air akan bertahan setidaknya hingga Oktober 2026, memberikan waktu bagi warga untuk merayakan kenangan sebelum kampung tenggelam kembali bersama datangnya musim hujan.
Comments (0)