JAKARTA — Kepala Bappisus Aris Marsudiyanto mengeluarkan peringatan keras. Warga diminta tidak gampang terprovokasi narasi demonstrasi besar yang beredar liar di media sosial.
Peringatan ini muncul di tengah banjir konten rekayasa digital. Salah satunya manipulasi berbasis kecerdasan buatan alias AI-deepfake yang kian sulit dibedakan dari aslinya.
Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai isu menyesatkan beredar cepat. Mulai dari foto hasil suntingan hingga rekaman suara palsu.
- Bappisus meminta publik menolak segala bentuk provokasi ajakan turun ke jalan.
- Konten deepfake disebut kian masif dan berbahaya.
- Warga diarahkan hanya merujuk pada sumber berita kredibel.
- Setiap informasi wajib diverifikasi sebelum dibagikan ulang.
Jangan Telan Mentah Isu di Medsos
Aris menegaskan, linimasa kini dibanjiri informasi tanpa sumber jelas. Sebagian sengaja dirancang untuk memancing amarah publik.
Narasi ajakan turun ke jalan kerap dibungkus emosi. Tujuannya jelas, menggerakkan massa tanpa berpikir panjang.
Ia mengingatkan, satu unggahan provokatif bisa menyebar dalam hitungan menit. Efeknya bisa meluas sebelum sempat dikoreksi.
Karena itu, sikap menahan diri menjadi kunci. Warga diminta tidak langsung percaya. Apalagi buru-buru membagikan ulang.
Situasi ini dinilai berbahaya. Provokasi digital bisa berubah menjadi aksi nyata di lapangan.
Kerugiannya tidak kecil. Ketertiban umum terganggu. Aktivitas warga ikut terdampak.
Ancaman Nyata AI-Deepfake
Aris turut menyoroti bahaya konten deepfake. Teknologi ini mampu meniru wajah, suara, hingga gerak tubuh seseorang.
Hasilnya nyaris sempurna. Video palsu dapat memperlihatkan tokoh publik seolah melontarkan pernyataan provokatif. Padahal pernyataan itu tidak pernah ada.
Konten semacam ini, lanjut dia, berpotensi memicu keresahan massal. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan kerumunan dalam skala besar.
Ia menyebut pelaku penyebar hoaks memanfaatkan momen keruh. Situasi panas justru menjadi ladang subur bagi disinformasi.
Teknologi yang sama juga dipakai memalsukan pernyataan pejabat. Narasi seolah resmi padahal murni rekayasa.
Modusnya beragam. Ada yang menempelkan wajah tokoh ke video lama. Ada pula yang membuat audio tiruan dari nol.
Cara Mengenali Konten Palsu
Bappisus membagikan sejumlah langkah sederhana. Semuanya bisa dilakukan siapa pun sebelum memutuskan percaya pada sebuah informasi.
- Periksa sumber pertama informasi. Pastikan berasal dari lembaga atau media resmi.
- Bandingkan dengan pemberitaan media arus utama yang terverifikasi.
- Cek tanggal dan konteks. Konten lama kerap didaur ulang seolah peristiwa baru.
- Waspadai video dengan gerakan bibir tidak sinkron atau kualitas gambar janggal.
- Jangan meneruskan pesan berantai yang tidak bisa dilacak asal-usulnya.
Bila ragu, jangan bagikan. Prinsip ini harus menjadi refleks setiap pengguna media sosial.
Sumber Kredibel Jadi Rujukan
Aris menekankan pentingnya memakai sumber berita kredibel. Media profesional bekerja dengan standar verifikasi berlapis sebelum menayangkan informasi.
Sebaliknya, akun anonim di media sosial tidak memiliki tanggung jawab redaksional. Klaim mereka sering tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Pemerintah, kata dia, juga menyediakan kanal resmi. Informasi penting selalu diumumkan lewat jalur yang bisa dipertanggungjawabkan.
Warga juga bisa memanfaatkan layanan cek fakta. Banyak lembaga independen menyediakan verifikasi gratis.
Peran Keluarga dan Komunitas
Aris juga menyentil peran keluarga. Edukasi soal hoaks sebaiknya dimulai dari rumah.
Orang tua diminta mendampingi anak saat mengakses internet. Generasi muda menjadi target empuk penyebar disinformasi.
Komunitas dan tokoh setempat juga punya andil. Mereka bisa menjadi filter pertama di lingkungan masing-masing.
Garda Terdepan Ada di Jempol Warga
Bappisus menilai literasi digital menjadi benteng terakhir. Kesadaran warga menentukan apakah hoaks berhenti atau justru meledak.
Setiap pengguna medsos punya peran. Satu kali klik bagikan bisa memperpanjang nyawa informasi palsu.
Aris berharap masyarakat tetap tenang menghadapi derasnya arus informasi. Sikap kritis dinilai jauh lebih penting daripada kecepatan bereaksi.
Imbauan ini berlaku untuk semua kalangan. Dari pelajar, pekerja, hingga tokoh masyarakat di tingkat akar rumput.
Bappisus menegaskan komitmennya memantau peredaran konten berbahaya. Koordinasi lintas lembaga terus diperkuat.
Namun, pengawasan negara punya batas. Partisipasi aktif warga tetap menjadi penentu utama.
Prinsipnya sederhana. Saring dulu, baru sebarkan. Jangan biarkan jempol menjadi alat penyebar kebohongan.
Masyarakat yang cerdas digital adalah benteng terkuat. Itulah pertahanan terbaik melawan gempuran hoaks dan deepfake.
Comments (0)