Monday, 24 August 2026 | 08:10 WIB

Apoteker Lebih Banyak Menatap Layar daripada Pasien, Ini Dampaknya

BARU SAJA terungkap, transformasi digital layanan kesehatan kini menghadapi ironi besar: tenaga kefarmasian justru lebih sering menatap layar komputer dibandingkan berhadapan langsung dengan pasien.Ko...

Aug 24, 2026 - 00:43
0 0
Apoteker Lebih Banyak Menatap Layar daripada Pasien, Ini Dampaknya

BARU SAJA terungkap, transformasi digital layanan kesehatan kini menghadapi ironi besar: tenaga kefarmasian justru lebih sering menatap layar komputer dibandingkan berhadapan langsung dengan pasien.

Kondisi ini semakin umum ditemukan di puskesmas di tengah gencarnya pemerintah mendorong digitalisasi sektor kesehatan. Layar komputer yang tadinya diharapkan menjadi alat bantu, kini perlahan menggeser esensi pelayanan: interaksi manusia.

Layar yang Menjadi Pusat Perhatian

Di dalam layar tersebut tersimpan berbagai beban kerja digital. Mulai dari resep elektronik, Rekam Medis Elektronik (RME), data stok obat, hingga sederet laporan yang wajib dilengkapi. Semua data itu harus dipastikan akurat sebelum pelayanan berjalan.

Pertanyaan krusial pun mengemuka: untuk siapa sebenarnya teknologi ini dibangun? Apakah untuk meringankan beban petugas, atau justru menambah beban baru yang mengorbankan waktu bersama pasien?

Seorang apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan primer membagikan pengalamannya secara langsung. Menurutnya, digitalisasi membawa sejumlah manfaat nyata. Resep elektronik membuat tulisan resep jauh lebih jelas. Riwayat pelayanan pasien lebih mudah ditelusuri. Informasi ketersediaan obat pun bisa diketahui lebih cepat.

Dalam kondisi ideal, teknologi seharusnya memangkas pekerjaan administrasi dan memberi ruang lebih luas bagi tenaga kesehatan untuk melayani manusia. Namun, realitas di lapangan berkata lain.

Harapan pemerintah membangun ekosistem kesehatan digital tidak salah. Namun, kesenjangan antara desain sistem dan kondisi lapangan nyaris tidak pernah menjadi bahan evaluasi. Padahal, kesenjangan itulah yang paling dirasakan pasien.

Temuan Penelitian di Puskesmas Medan

Temuan ini diperkuat hasil penelitian tesis yang dilakukan di sejumlah puskesmas di Kota Medan. Secara umum, tenaga farmasi menerima dan mendukung penerapan resep elektronik. Mereka menilai sistem ini memperjelas resep, mempermudah pengecekan stok obat, serta mempercepat alur pelayanan.

Namun hampir seluruh informan, baik apoteker maupun Tenaga Teknis Kefarmasian, mengeluhkan persoalan yang sama. Jaringan internet tidak stabil. Server sering lambat. Sistem kerap mengalami gangguan. Sarana pendukung terbatas. Jumlah tenaga pun belum memadai.

Akibatnya, resep elektronik belum bisa diandalkan sebagai satu-satunya sumber pelayanan. Keterlambatan penginputan dari unit pelayanan memaksa petugas farmasi menunggu, menghubungi ulang, atau kembali ke resep manual. Semua itu demi satu tujuan: agar pasien tidak semakin lama menunggu.

Begitu sistem kembali normal, petugas harus mencocokkan data kembali. Satu pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu alur, akhirnya berubah menjadi beberapa tahapan berbelit. Efisiensi yang dijanjikan digitalisasi justru berubah menjadi pekerjaan ganda.

Beban Pelaporan yang Menumpuk

Ada lagi persoalan yang jarang dibicarakan: banyaknya aplikasi dan sistem pelaporan farmasi yang harus dikerjakan. Di satu sisi, digitalisasi dimaksudkan untuk memangkas pekerjaan administratif. Di sisi lain, petugas justru berhadapan dengan berbagai sistem pelaporan yang masing-masing memiliki kebutuhan data, format, dan tenggat pengiriman berbeda.

Data yang sama berpotensi dicatat atau dimasukkan berulang kali ke platform yang berbeda. Waktu yang seharusnya dipakai untuk pelayanan kefarmasian pun tergerus habis oleh aktivitas administratif yang menumpuk.

Belum lagi laporan yang harus dikirim tepat waktu. Keterlambatan satu laporan bisa berimbas pada penilaian kinerja. Petugas pun terpaksa menyelesaikan administrasi di luar jam pelayanan.

Dampak pada Pasien di Ruang Tunggu

Dampaknya langsung terasa di ruang tunggu puskesmas. Waktu tunggu pasien berpotensi memanjang ketika sistem sedang bermasalah. Pelayanan yang seharusnya cepat justru tersendat oleh proses administratif yang berulang.

Pasien tidak selalu memahami kerumitan sistem di balik layar. Yang mereka rasakan hanyalah lamanya menunggu dan berkurangnya perhatian petugas. Padahal, kehadiran tenaga kesehatan yang fokus adalah bagian dari kualitas pelayanan itu sendiri.

Digitalisasi Harus Kembali ke Manusia

Para pelaku layanan menilai keberhasilan transformasi digital tidak ditentukan semata oleh hadirnya teknologi. Yang lebih menentukan adalah sejauh mana teknologi itu benar-benar mendukung pekerjaan aparatur sipil negara dan memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

Teknologi yang baik seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok, antara tenaga kesehatan dan pasien. Ketika layar justru menjadi penghalang, maka transformasi digital perlu dievaluasi ulang secara menyeluruh.

Perbaikan infrastruktur jaringan, pemeliharaan server, penyederhanaan sistem pelaporan, serta penambahan tenaga menjadi langkah-langkah yang tidak bisa ditunda. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi beban baru bagi mereka yang sehari-hari berjuang melayani masyarakat di garda terdepan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah teknologi perlu dihadirkan, melainkan apakah teknologi mampu mengembalikan tenaga kesehatan kepada tugas utamanya: melayani pasien secara manusiawi. Inilah perkembangan yang perlu menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User