ACEH TIMUR, Beritatercepat.com – Upaya memerangi peredaran gelap narkoba memerlukan strategi yang tidak lagi sekadar seremonial. Menyadari hal tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa mengambil langkah progresif dengan mengubah paradigma pemuda dari objek sosialisasi menjadi subjek aktif di garis depan perlawanan. Sebanyak 160 pemuda dari berbagai kecamatan di Kabupaten Aceh Timur resmi dibekali kapasitas sebagai garda anti narkoba dalam sebuah kegiatan pemberdayaan intensif yang digelar di Hotel The Royal Idi, Selasa (7/7).
Dari Penonton Menjadi Pemeran Utama Mengusung semangat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), para peserta yang
Dari Penonton Menjadi Pemeran Utama
Mengusung semangat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), para peserta yang merupakan perwakilan ketua pemuda gampong ini tidak hanya menerima materi normatif. Mereka digembleng untuk menjadi agen perubahan yang mampu mendeteksi, mencegah, dan melaporkan potensi ancaman narkotika di lingkungan terkecil mereka. Dalam sambutannya, Plt. Kepala BNN Kota Langsa, Hasnanda Putra, menekankan bahwa era lama di mana pemuda hanya menjadi audiens pasif sudah harus ditinggalkan.
“Pemuda bukan lagi sekadar penonton, melainkan pemeran utama yang harus berada di garda terdepan. Pemuda merupakan motor penggerak perubahan untuk mewujudkan Aceh Timur Bersinar,” tegas Hasnanda di hadapan peserta.
Pernyataan tersebut menegaskan pergeseran strategi BNN Kota Langsa. Jika sebelumnya penindakan dan ceramah satu arah menjadi andalan, kini fokus diarahkan pada penguatan imunitas sosial berbasis komunitas. Hasnanda menilai bahwa pemuda memiliki energi, pengaruh sebaya, dan jaringan akar rumput yang jauh lebih efektif untuk menyusupkan nilai-nilai anti narkoba ke dalam sendi kehidupan bermasyarakat.
Desa Sebagai Benteng Pertahanan Terdepan
Pemilihan gampong atau desa sebagai basis perlawanan bukanlah tanpa alasan. BNN Kota Langsa memetakan bahwa celah kerentanan terhadap penyalahgunaan narkotika justru kerap muncul dari minimnya pengawasan dan aktivitas positif di daerah pinggiran. Oleh karena itu, 160 pemuda ini diplot untuk menjadi pelopor yang mampu membangun kemandirian desa dalam menolak peredaran gelap. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi teladan, tetapi juga mampu mengorkestrasi kerja sama antara pemerintah desa, aparat penegak hukum, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.
Hasnanda juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur di bawah arahan bupati yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap program P4GN. Menurutnya, instruksi bupati untuk melibatkan seluruh elemen pemerintah desa dalam kegiatan anti narkoba merupakan langkah strategis.
“Komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Timur merupakan bukti nyata bahwa upaya pemberantasan narkoba harus dimulai dari desa. Ini adalah langkah besar untuk memperkuat ketahanan masyarakat dari akarnya,” ujar Hasnanda.
Pada sesi tersebut, Hasnanda turut menegaskan status Aceh Timur sebagai wilayah kerja BNN Kota Langsa. Ia membuka pintu koordinasi seluas-luasnya bagi para pemuda dan aparatur gampong untuk tidak ragu berkomunikasi dan melaporkan potensi kerawanan. “Jangan sungkan-sungkan untuk terus berkoordinasi dengan kami,” tambahnya, menutup pengarahannya. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam membangun ekosistem perlawanan narkoba yang partisipatif, di mana pemuda tidak lagi menunggu solusi dari atas, melainkan menciptakan solusi dari bawah. Dengan terbentuknya 160 kader desa ini, BNN Kota Langsa optimistis dapat menciptakan efek domino yang memperkuat benteng sosial menuju Aceh Timur yang benar-benar bersih dari narkoba (Bersinar).
(Laporan: Kontributor Beritatercepat.com)
Comments (0)