Abrasi Putuskan Akses, Siswa Muara Gembong Bertaruh Nyawa ke Sekolah

BEKASI — Pelajar Sekolah Dasar di Muara Gembong setiap pagi harus melintasi Sungai Citarum menggunakan perahu sederhana. Jalan penghubung telah putus akibat abrasi yang terus menggerus daratan pesis...

Jul 17, 2026 - 16:29
0 0
Abrasi Putuskan Akses, Siswa Muara Gembong Bertaruh Nyawa ke Sekolah

BEKASI — Pelajar Sekolah Dasar di Muara Gembong setiap pagi harus melintasi Sungai Citarum menggunakan perahu sederhana. Jalan penghubung telah putus akibat abrasi yang terus menggerus daratan pesisir Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Rute Berbahaya Tiap Hari

Ritual mencekam itu kembali terekam pada Kamis (16/7). Puluhan siswa dengan seragam putih-merah menaiki sebuah perahu kayu tanpa pelampung. Mereka berdesakan menyeberangi arus sungai yang cukup deras menuju bangku sekolah. Operator perahu, warga setempat yang merangkap sukarelawan, mengaku akselerasi abrasi telah menenggelamkan ruas jalan darat satu-satunya sejak tiga bulan terakhir.

Dengan ongkos sukarela atau tidak sama sekali, anak-anak tersebut menempuh perjalanan sekitar 15 menit yang seharusnya bisa dilalui lewat jalan aspal. "Kalau perahu sedang rusak, mereka harus memutar melewati hutan bakau yang memakan waktu hampir satu jam," ujar seorang warga yang enggan dikutip.

Laju Abrasi yang Mengkhawatirkan

Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat mencatat, pesisir Muara Gembong kehilangan lebih dari 1,5 kilometer daratan dalam satu dekade. Faktor penyebabnya yaitu gelombang tinggi Laut Jawa, penurunan muka tanah, serta minimnya sabuk mangrove alami akibat alih fungsi lahan. Jalan desa yang menghubungkan permukiman dengan sekolah dasar tersebut adalah korban terbaru.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memasang tanggul darurat, namun struktur sementara itu kerap jebol diterpa pasang. "Ini bukan sekadar akses pendidikan, melainkan keselamatan jiwa. Perahu tanpa pengaman adalah risiko yang tidak bisa ditoleransi," kata pengamat tata ruang dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Oktaviani.

Tanggung Jawab Bersama

Pemerintah Kabupaten Bekasi menyatakan sedang merancang jalur alternatif yang dibangun di atas tiang pancang. Proyek itu diperkirakan memakan biaya Rp 23 miliar dan masih dalam tahap negosiasi anggaran pusat. Sambil menunggu, para siswa tidak punya pilihan lain selain bertahan dengan moda transportasi apa adanya.

Kepala sekolah SDN Muara Gembong 2 menyampaikan keprihatinannya sekaligus rasa bangga akan ketangguhan anak didiknya. Tingkat kehadiran tetap di atas 80 persen, meski harus menaklukkan air payau setiap hari. "Mereka lebih takut ketinggalan pelajaran daripada ketinggalan perahu," katanya.

Hari itu, saat rombongan perahu tiba di seberang, tawa kecil pecah di antara bunyi papan yang menggesek dermaga darurat. Seorang bocah perempuan berlari paling depan, tas plastik terikat erat di punggungnya, berteriak pada teman-temannya: "Ayo cepatan, nanti bel masuk!"

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User